Nanang Purwono, Pemerhati sejarah dan Cagar Budaya

Surabaya NAWACITAPOST – Bangunan atau situs yang sudah menjadi Cagar Budaya, bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan. Hal ini diungkapkan Nanang Purwono sebagai pemerhati cagar budaya menyikapi permasalahan pemanfaatan cagar budaya eks-Penjara Koblen yang akan dijadikan Pasar buah dan sayur sekaligus pasar wisata, Kamis (25/2/21) sore.

” Boleh dimanfaatkan asal memperhatikan pelestarian benda, bangunan, situs dan budaya,” kata Nanang di lokasi bekas Penjara Koblen.

Seperti apa pemanfaatan itu, menurut Nanang, khusus di bekas Penjara Koblen, orang awam hanya melihat akan digunakan untuk pasar dan kuatir akan kumuh atau rusak.

” Itu bagi yang belum tahu, tapi saya dari awal Mahfudz (Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya) mengatakan hal itu, langsung datang kemari menyaksikan, bertemu dan mengkorek, ternyata tidak seperti yang dilihat orang secara kasat mata saat ini, ternyata ada satu perencanaan dan ada upaya-upaya dalam pelestarian. Ternyata kegiatan pasar tersebut menjadi bagian yang kelak menjadi bagian dari konsep wisata yang di kawasan cagar budaya ini,” terang Nanang.

Penggiat sejarah dari Forum Begandring Soerabaia (FBS) kembali menegaskan, kalau lah memang seperti itu maka dirinya sebagai pemerhati, ikut mendukung dalam pengembangannya. Dalam arti Pengembangan menjadi suatu tempat tujuan wisata sejarah.

” Disitu juga ada tujuan wisata pendidikan, dan ada tujuan wisata bisnis atau belanja,” kata Nanang.

Wisata belanja, ditempat ini bukan hanya terkait grosir namun juga eceran untuk oleh-oleh yang menjadi jujugan wisata di tempat ini. ” Itu sudah menjadi bagian dari pasar wisata sesuai yang dikatakan Mahfudz sewaktu hearing,” terang Nanang.

Nanang Purwono, di bekas Pos Pantau eks-Penjara Koblen

Hal ini akan menjadi pendukung konsep pengembangan kawasan wisata disini kelak. ” Ada pendidikan, Museum, Replika, pembenahan tembok-tembok yang mungkin belum disentuh dsb, ini kan sesuatu dalam rangka pemanfaatan kearah yang lebih besar lagi. Kalau dilihat sekarang, oh.. pasar identik kumuh. Kita lihat dulu seperti apa,” urainya.

Baca juga :  Tingkatkan Iman dan Kepercayaan, WBP Beragama Nasrani di Rutan Kelas IIB Sipirok Kanwil Kemenkumham Sumut Melaksanakan Ibadah Kebaktian

Maka dari itu Nanang sangat mendukung, dalam arti supaya gagasan-gagasan pelestarian bisa terwujud dengan cara-cara yang saat ini dilakukan.

” Memeliha tembok yang dirumputi, membuat replika yang menguatkan akan keberadaan kawasan penjara yang siapapun masuk ada kesan memang penjara. Hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita, apalagi nantinya ada museum. Mau tidak mau dari situ akan terekspos seperti apa penjara koblen pada waktu itu,” terang Nanang kembali.

Lebih lanjut, Nanang mendukung hal ini karena ini akan menjadi jujugan wisata sejarah satu-satunya di Surabaya.

“Surabaya butuh tempat atau etalase kesejarahan yang bisa menampung serajarahnya. Orang masuk kemari ada satu ‘One Stop Wisata’, bisa belanja, makan, beli sovenir, dan itu saya pikir sudah masuk dalam satu rencana pengelola kelak bagaimana memanfaatkan kawasan ini sehingga tidak kosong tidak kering yang kemudian rusak,” tegas Nanang Purwono. (BNW)