Menristek/Kepala BRIN: Konektivitas Mengubah Keberagaman Menjadi Aset Penguat Ekonomi

0
285

Jakarta, NAWACITAPOST –  Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) menjadi pembicara dalam _United States – Asean Business Council (US-ABC) Innovation and Small Medium Enterprise (SME)_ webinar pada Kamis (25/02). Webinar yang juga dihadiri oleh _Senior Vice President and Regional Managing Director US-ABC_ Michael W Michalak ini mengusung tema _‘Connecting Indonesia Discover What’s Possible’._

_Human resources_ dan _talent pool_ perlu disiapkan dengan sebaik mungkin untuk mendorong perbaikan dan kemajuan di sektor industri manufaktur. Transformasi digital perlu ditunjang oleh banyak ahli dalam bidang digital khususnya di era revolusi industri ke-4. Dukungan terhadap dunia usaha yang ada di Indonesia untuk berpartisipasi dalam revolusi industri ke-4 juga merupakan salah satu upaya dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten.

“Untuk mendukung _human resources_ tersebut kita juga harus mendukung dunia usaha di Indonesia agar bisa berpartisipasi di dalam revolusi industri ke-4 dan transformasi digital, jadi tidak sepenuhnya bergantung kepada teknologi yang didatangkan dari luar, di situlah kita berharap _local content_ akan meningkat dan adopsi teknologi terutama _Big Data_ dan _Internet of Thing (IoT)_ akan makin dikuasai oleh ahli-ahli yang berasal dari Indonesia sendiri,” ujar Menristek/Kepala BRIN.

_Big Data_ dan _IoT_ menjadi dua komponen sangat penting di era revolusi industri ke-4 dalam mempercepat transformasi digital di Indonesia. _Big Data_ dan _IoT_ menjadi sebuah keahlian yang banyak diminati, hal ini menjadi sebuah keyakinan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar melainkan juga bisa menjadi pelaku dalam transformasi digital.

Menjadi negara maju yang berpendapatan tinggi di tahun 2045 merupakan sebuah tujuan besar yang harus diwujudkan bersama, _creative and digital economy_ menjadi sektor yang kelak akan bisa dibanggakan ketika Indonesia mencapai tujuan tersebut. Indonesia tidak boleh dikenal hanya sebagai negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah namun juga sebagai negara yang memiliki ekonomi kreatif dan ekonomi digital yang kuat, maka dari itu inovasi harus benar-benar diarahkan kepada _less contact economy_.

“Pandemi _Covid-19_ yang sedang terjadi saat ini mengajarkan kepada kita bahwa sudah saatnya kita melakukan kegiatan lebih efisien dengan sebagian tidak langsung berdasarkan kepada kontak fisik atau pertemuan tatap muka tetapi bisa digunakan dengan teknologi informasi dan komunikasi atau _ICT (Information and Communication Technology)_ untuk mendukung adanya _hyperconnectivity_ yang sudah dibuktikan dengan kegiatan _e-commerce,”_ jelas Menteri Bambang.

_Small and Medium Enterprise_ merupakan pelaku UMKM yang harus segera terhubung dengan ekonomi digital, tujuannya agar kemajuan yang didapat bisa lebih cepat, _smart city_ menjadi jawaban dari _connecting Indonesia_. Mayoritas penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan memiliki pendapatan per kapita relatif cukup tinggi, hal ini menuntut adanya pelayanan dari sebuah kota yang mereka tempati, tujuannya untuk hidup yang lebih nyaman.

“Keberadaan _smart city_ diyakini akan bisa membuat keberagaman yang ada menjadi suatu aset yang dinamis. _Connectivity_ yang diciptakan oleh _smart city_ akan membuat perbedaan yang ada di Indonesia menjadi aset yang luar biasa dan akan menjadi penguat dari perkembangan ekonomi Indonesia sendiri. Keberadaan _smart city_ juga kita harapkan akan mendukung kota yang kohesif (yaitu) kota yang memang ada untuk kepentingan semua orang tidak hanya untuk kepentingan kelompok kelompok tertentu (kota yang inklusif),” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Harapan besar dari sebuah _connectivity_ adalah tidak ada lagi batas yang menghalangi berbagai kegiatan sehingga semua orang mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasarnya. Konektivitas juga mampu meningkatkan produktifitas sebuah kota yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dari sebuah negara. Satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa inovasi harus menjadi kunci dalam pengembangan _smart city_, tanpa inovasi sebuah bangsa akan mengalami ketertinggalan dan hanya akan menjadi pengikut tanpa pernah menjadi pemimpin.

Turut hadir dalam webinar ini Staf Ahli Bidang Pembiayaan Riset dan Inovasi Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN, Ali Ghufron Mukti; Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UMKM, Victoria Simanungkalit; Asisten Deputi Pemasaran, Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UMKM; _Head Bali Cooperatives and SMEs Agency_, I Wayan Mardiana; _Senior Director Government Affairs Qualcomm_, Nies Purwati; dan _President Director UPS Indonesia_, Maya Sarininta.

Fajar R Dewantara, Moh. Rif’an Jauhari, Masluhin Hajaz
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional.