Warga Tanda Tangan, Dana Hibah Tak Jelas. AH Thony : Jangan Timbulkan Kecurigaan

0
331
AH Thony, Wakil Ketua DPRD kota Surabaya

Surabaya NAWACITAPOST – Sebagai Lembaga Perwakilan rakyat, tiga kali dalam setahun Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) akan melakukan penjaringan aspirasi masyarakat saat masa reses-nya (masa istirahat dewan, red). Begitu pula yang dilakukan Wakil ketua DPRD kota Surabaya, AH Thony.

Dalam melaksanakan resesnya di enam titik, Legislator partai Gerindra menyerap beberapa hal penting yang nentinya akan disampaikan dalam paripurna sehingga dapat segera ditindak lanjuti oleh Pemerintah kota Surabaya.

Hal yang pertama, banyak warga yang mengeluhkan kejelasan terkait dana hibah. ” Pada waktu itu para RT/RW sudah dipanggil dan disuruh tanda tangan, namun sampai saat ini tidak ada realisasi,” terangnya pada NAWACITAPOST, Selasa (16/2/21) malam.

AH Thony saat melaksanakan Jaring aspirasi masyarakat dalam agenda Reses

Dalam hal ini, masyarakat jadi bertanya-tanya apakah masih bisa direalisasikan atau tidak. Disisi lain, masyarakat bahkan menaruh suatu kecurigaan. Jangan-jangan dana sudah diambil pihak tertentu berbekal tanda tangan mereka.

” Harapan kita, ada pemberitahuan secara tertulis kepada mereka agar ada kepastian bahwa proses aproval atau realisasi yang telah ditanda tanganinya ditindak lanjuti ataukah tidak. Supaya mereka tidak merasa dipermainkan atau digantung, bahkan seolah-olah hak mereka diambil alih oleh pihak lain,” jelas Thony.

Berikutnya adalah usulan-usulan terkait pembangunan fisik, terutama gorong-gorong meningkat tajam. Banjir dimana-mana mnejadi persoalan baru, meski disebabkan banyak faktor seperti buntunya gorong-gorong akibat kurangnya perawatan atau bisa jadi karena perilaku masyarakat sendiri yang kurang mendukung adanya proses pembuatannya.

” Tren meningkatnya intensitas hujan pada tahun ini berimplikasi pada banyaknya pengajuan pembangunan saluran air,” ujarnya.

Terhadap hal itu, Thony mengaku tidak menerima begitu saja karena harus ada kajian di lapangan, apakah betul pembangunan saluran air menjadi solusi kampung mereka tidak banjir kembali.

Yang ketiga, warga juga mengharap bantuan berupa bak sampah. ” Ini perlu kita sambut baik karena akan memberikan kesadaran kepada masyarakat terhadap kebersihan lingkungannya. Kebetulan ini banyak disampaikan warga dari lingkungan-lingkungan yang dalam tanda kutip kesadaran masyarakatnya kurang dibanding yang lain dalam hal pembuangan sampah. Hal ini bisa terlihat dari lingkungan wilayah tersebut,” katanya.

Adapula usulan terkait pemagaran makam, karena banyaknya oknum yang membuang sampah di area makam. ” Saya melihatnya di makam Bakung Kali rungkut,” terang Thony.

Kemudian ada pula usulan tentang pembenahan gedung-gedung PAUD. Dan yang sangat banyak adalah keluhan menurunnya pendapatan masyarakat dan sulitnya perekonomian akibat Pandemi.

” Mereka sudah mentaati buka tutup jam yang ditentukan pemerintah, tapi akhirnya tidak mendapat hasil seperti sebelumnya,” tutur Thony.

Untuk ini, Thony menjelaskan bahwa dirinya sudah mengantisipasi sejak tahun yang lalu. ” Disini teman-teman sudah bisa menyajikan sebuah aplikasi jual beli online yang diberi nama Warung RTRW. Didedikasikan untuk masyarakat dan bekerjasama dengan LPMK, pak RT dan pak RW.”

Aplikasi “WARUNG RTRW” bisa didownload di Google Playstore maupun iOS iPhone

Aplikasi ini diharapkan dapat memberikan solusi kepada masyarakat yang tidak bisa buka lapak diluar karena harus berhadapan dengan pihak ketertiban, bisa terbantu dengan aplikasi ini yakni bisa berjualan dari rumah.

Aplikasi ini juga akan bisa merekrut banyak tenaga kerja khususnya bagian pengiriman. Juga dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkompetisi mencari komoditas yang murah seperti produk sembako.

” Mereka bisa saling menawarkan, beradu harga dan bersaing untuk menjadi pemasok di aplikasi jual beli online ini,” urai Thony.

Lanjutnya, disini akan berpotensi lahirnya juragan-juragan baru dan memberi kesempatan kepada pedagang kecil untuk naik kelas.

Yang tak kalah penting adalah mendorong produk-produk UMKM pondok pesantren seperti mukena, baju muslim dll, dapat difasilitasi penjualannya di aplikasi ini.

” Hasil uji aplikasi sudah berjalan baik, dan secara perlahan akan kita benahi terus khususnya ruang untuk pelayanan jasa kebutuhan masyarakat seperti PPOB, Pegadaian dll. Sirkulasi ini menjadikan devisa kampung tidak keluar, ditampung kemudian muncul keuntungan yang kembali ke kampung,” urai Thony.

” Dari Kampung, oleh kampung dan untuk kampung. Harapannya ada sinergi program pemerintah dengan gagasan ini” tegasnya. (BNW)