PPKM hingga Vaksinasi, Demikian Testimoni Dr. Akmarawita

0
426

Surabaya NAWACITAPOST – Hari pertama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) 11-25 Januari 2021, Dr. Akmarawita Kadir mengungkapkan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat dalam hal pencegahan penularan Covid-19 yang saat ini di Surabaya kembali mengalami peningkatan.

Melalui rilisnya, Sekretaris komisi D DPRD Surabaya ini menyampaikan bahwa, masyarakat harus selalu waspada mengenai penyakit ini.

” Kebetulan saya seorang dokter umum, sebelumnya saya praktek di klinik medis Pusura Surabaya. Sejak pandemic COVID saya rutin menggunakan protokol kesehatan, tetapi memang disaat–saat tertentu kadang kita lupa misalnya lupa mencuci tangan, lupa kalau kita melepas masker pada saat makan bersama, atau pada saat bergerombol, padahal pada saat pandemi ini sangat berbahaya kalau kita mengabaikan protokol kesehatan, ” paparnya, Senin (11/1/21)

Menurutnya, Virus ini tidak terlihat, dan penularannya bisa  dengan droplet (molekul cairan yang bisa keluar dari hidung dan mulut seseorang) yang mengandung COVID-19.

Saat bercengkerama, saat berhadapan, mengobrol, berkerumun, atau di ruangan yang tertutup dengan udara atau ventilasi yang buruk kemudian kita kontak dengan seseorang yang tertular baik orang yang sakit maupun orang yang tanpa gejala (OTG) ini sangat berbahaya.

Sebagai mantan penderita Covid-19, Dr. Akmar sapaannya mengaku memang mempunyai penyakit asma (comorbid), hingga akhirnya terkena penyakit yang selama ini Ia jaga agar tidak terinfeksi.

” Saya merasakan secara langsung, selama saya menjadi dokter, baru kali ini saya merasakan gejala yang tidak biasanya, awalnya suara saya bindeng seperti flu biasa, kemudian kepala sering pusing diiringi demam ringan sampai tinggi, keringat dingin, berulang ulang. Demam tinggi biasanya pada malam hari dan turun bila diberi obat demam, kemudian naik lagi, dan ini lebih dari 3 hari. Kemudian disusul dengan batuk-batuk kering dan lama-kelamaan terasa ada dahak yang menempel pada tenggorokan susah dikeluarkan. Setelah 5 hari, demam menghilang, tetapi batuk tidak menghilang malah dahak / riak susah di keluarkan padahal saya sudah meminum obat-obat yang biasanya saya minum, tetapi yang ini gejala tidak berkurang, dan bahkan nafas terasa susah dan gejala kelelahan mulai muncul seperti orang kekurangan oksigen, tetapi memang ternyata saturasi oksigen saya menurun,” tuturnya.

Dari situ, akhirnya dia memutuskan untuk SWAB PCR dan hasilnya positif covid-19.

Sesaat setelah itu, karena saya merasakan bernafas  tidak enak (menarik napas seperti terbatas), serta riak seperti bercampur dengan darah, maka Ia memutuskan untuk opname di RS, dan dengan dibantu dokter dan tenaga kesehatan serta doa, saya di RS berjuang melawan Covid 19 ini.

“Alhamdulillah saya bisa keluar dari RS setelah swab negatif selama 14 hari dan selanjutnya isolasi mandiri di rumah selama 14 hari,” ucapnya.

Memang tidak biasanya dengan penyakit-penyakit lain yang paling lama mungkin hanya 1 minggu keluar dan sembuh, penyakit ini rata-rata memakan waktu opname di RS berkisar 14 hari sampai 1 bulan, bahkan ada yang lebih 1 bulan masih berada di RS. Inilah sebabnya kenapa RS bisa over kapasitas, karena mamang kesembuhan nya rata-rata memakan waktu yang lama, bahkan bisa memburuk dan menimbulkan kematian.

Kita bayangkan kalau gelombang orang-orang yang sakit covid-19 ini datang bersamaan dalam satu waktu (biasanya saat setelah liburan panjang, setelah bepergian, dll) dan RS kapasitasnya terbatas, tenaga kesehatan  juga terbatas, hal ini pasti akan mempengaruhi pelayanan kesehatan dan ini bisa menjadikan  angka kematian yang tinggi bagi penderita covid-19 dengan gejala yang sedang sampai berat.

Sekretaris Fraksi Golkar Surabaya ini menceritakan, ketika virus ini masuk, ia akan melekat pada sel tubuh kita terutama di tenggorokan dan berkembang biak di dalam sel kita.

Dan ketika virus ini menempel pada sel tubuh kita, bagaimana selanjutnya…, nah sekarang tergantung imun seseorang ini bisa menjadi apa :

Yang pertama, Carrier (orang-orang yang OTG / tanpa gejala), ini sangat berbahaya,  dapat menyebarkan virus ke orang lain dengan cepat. Biasanya ini pada orang yang mempunyai imun yang baik, tetapi virus tetap bisa tinggal di tenggorokan seseorang. (biasanya butuh isolasi mandiri selama 7 – 14 hari)

Kemudian menginfeksi seseorang (virus berkembang biak dalam sel tubuh kita) dan menimbulkan gejala, hal ini biasanya kepada orang –orang yang imun tubuhnya lemah, misalnya pada orang yang kelelahan, atau memang orang-orang yang mempunyai comorbid (penyakit lain). Infeksi ini bisa sedang – berat, bahkan bisa memburuk menimbulkan kematian.

Ketiga bagi orang yang tidak terinfeksi atau terinfeksi dengan gejala ringan (biasanya orang-orang yang mempunyai hard immunity) yaitu orang yang fit / bugar,  mempunyai antibody  covid-19, atau orang yang sudah melakukan vaksinasi.

Untuk itu apa bila di hilir atau rumah sakit dan Pelayanan Kesehatan Lain sudah kewalahan, maka kita harus mencari jalan untuk menekan yang di hulunya dan memperkuat Imun masyarakat (hard Immunity) dan meningkatkan pemahaman bagi masyarakat akan protokol kesehatan.

Dokter juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat terkait antara lain :

Point pertama ialah dalam hal menekan di Hulunya tentu dengan kebijakan pemerintah, dan alhamdulillah kita bersyukur pemerintah dengan tegas memberlakukan PPKM (Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), ini harus kita dukung.

Kedua, masyarat wajib memperkuat imun (membentuk antibody / hard immunity) dengan melakukan vaksinasi covid yang sudah terjadwal dengan prioritas yang sudah di tentukan.

Selanjutnya harus ada peningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya  3M dan VDJ :

• Menggunakan Masker dengan benar
• Mencuci tangan dengan benar
• Menjaga Jarak dengan benar
• Ventilasi (yakinkan sirkulasi udara baik di tempat kita)
• Durasi (mengurangi durasi kontak dengan orang-orang / sebaiknya menggunakan online saja)
• Jarak (hindari berkerumun, bergerombol, pertemuan-pertemuan) kalau terpaksa harus mejaga jarak

Dengan cara-cara inilah kita bisa memberikan nafas bagi tenaga kesehatan di RS maupun di pelayanan kesehatan yang lainnya. Sehingga ada titik keseimbangan antara yang sakit, dan yang sembuh dan ini akan meningkatkan pelayanan kesehatan, dan menurunkan angka kematian.

Bila sudah ada keseimbangan, maka kita pelan-pelan bisa meningkatkan perekonomian kembali. Dan diharapkan perlahan kita bisa keluar dari pandemic covid19 ini. (BNW)