Pilwali Surabaya, Arif Fathoni Sebut Dari Awal Risma Tak Netral

0
368
Foto : humas.surabaya.go.id

Surabaya NAWACITAPOST – Anggota Komisi A DPRD Surabaya Arif Fathoni tegas mengatakan Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) memang sudah tidak netral. Menurutnya, dari awal Risma sudah larut dalam kontestasi Pilwali Surabaya dan sangat berpihak.

Dari awal, Toni berharap Bu Risma bersikap sebagai negarawan dan tidak terlalu larut dalam kontestasi, namun sudah berpihak dari awal. ” Sejak awal kami mengingatkan Bu Risma mau meninggalkan legacy apa,” kata politisi Golkar ini, Selasa (20/10/20)

Toni menyebutkan banyak indikator ketidaknetralan Risma, salah satunya pencairan dana kampung tangguh di momen kampanye Pilwali Surabaya, padahal COVID-19 sudah melandai.

Di saat kampung tangguh butuh pembiayaan pun pemkot tidak responsif, akhirnya partisipasi warga meningkat. Dengan swadaya, mereka membiayai kegiatannya, padahal saat itu sudah ada SK dari pihak kecamatan, ujar Toni, sapaannya.

Justru saat memasuki tahapan kampanye, anggaran itu diberikan oleh Pemkot Surabaya. Padahal kondisi COVID sudah melandai. ” Artinya, urgensi anggaran itu sudah tidak relevan kalau itu tujuannya kemanusiaan,” kata ketua DPD II Partai Golkar Surabaya tersebut.

Ingat, kata Toni, di saat masyarakat Surabaya kelaparan akibat COVID-19 sekitar bulan April, DPRD Surabaya sudah menyetujui refocusing dan realokasi anggaran. Ada anggaran sebesar Rp164 miliar yang bisa diperuntukkan kepada 260 ribu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sayangnya, anggaran itu tidak pernah direalisasikan

“Dalam waktu dekat anggaran itu direalisasikan, ini artinya tujuannya bukan murni kemanusiaan,” ucapnya.

Selain itu, menurut Toni, penggunaan dana kelurahan di beberapa tempat tidak sesuai dengan hasil Musrembang 2019. ” Hal ini juga menjadi sekian contoh Risma menggunakan instrumen kekuasaan dalam Pilwali 2020 ini.”

Termasuk dalam penertiban APK, Toni tegas mengatakan ada inkonsistensi. ” APK paslon 2 ditertibkan sedang paslon 1 tidak. Tidak mungkin sekelas Kasatpol PP punya inisiatif begitu,” duga Toni.

Dalam hal ini Toni mengingatkan, dengan keberpihakan itu akan membuat masyarakat tidak berempati kepada Risma dengan segala pencapaiannya selama 9 tahun menjadi Walikota Surabaya.

“Percayalah diatas ilmu itu ada adab. Nanti masyarakat yang akan menilai, bahwa Risma itu sebagai negarawan atau politisi tulen, biar terang benderang, dibilang politisi kadang-kadang Bu Risma ngak mau,” tandas Arif Fathoni. (BNW)