KPK Resmi Tahan 2 Tersangka Korupsi Proyek Jembatan Bangkinang

0
183
KPK Resmi Tahan 2 Tersangka Korupsi Proyek Jembatan Bangkinang

Jakarta, NAWACITAPOST- KPK resmi melakukan penahanan terhadap dua tersangka kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Jembatan Water Front City (WFC) atau Jembatan Bangkinang, di Kabupaten Kampar, Riau. Kedua tersangka yakni mantan Manajer wilayah II PT Wijaya Karya (Persero) sekaligus Manajer Divisi Operasi I PT WIKA, I Ketut Surbawa (IKS), dan mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek jembatan WFC pada Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Kampar, Adnan. Keduanya ditahan setelah menjalani pemeriksaan penyidik KPK.

Wakil Ketua KPK Lili Pantuali Siregar mengatakan di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2020). Hari ini telah menyampaikan penahanan dua tersangka dalam tindak pidana korupsi. Dua tersangka ADN (Adnan) dan IKT (I Ketut Suarbawa). Adnan dan I Ketut akan menjalani penahanan selama 20 hari pertama dalam proses penyidikan. Mereka akan ditahan di Rumah Tahanan Gedung Merah Putih KPK cabang K-4, Jakarta Selatan terhitung sejak tanggal 29 September 2020 sampai 18 Oktober 2020. Sebelum menjalani masa tahananya. Kedua tersangka akan terlebih dahulu menjalani isolasi mandiri ditengah pandemi covid-19. Hal ini sesuai dengan protokol kesehatan. Terlebih dahulu akan dilakukan isolasi mandiri di Rutan KPK Kavling C-1dalam rangka pencegahan penyebaran wabah covid-19.

Baca Juga : Foto Bugil Janda Muda di Tasikmalaya Disebar di Group WA

Dalam kasus ini, I Ketut dan Adnan telah berkomplot untuk mencari celah suap dalam penggarapan proyek jembatan WFC yang menelan anggaran Rp 117,68 miliar. Akibat kongkalikong ini, negara mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp 39,2 miliar. Dalam proyek ini para tersangka diduga menyalahgunakan kewenangan sehingga terjadi kerugian keuangan negara sekitar Rp 39,2 miliar dari nilai proyek pembangunan Waterfront City secara tahun jamak di tahun anggaran 2015 dan 2016 dengan total Rp 117,68 miliar. Satu dari dua proyek tersebut merupakan proyek yang cukup startegis dan dicanangkan Pemerintah Kabupaten Kampar.  Saat proyek itu mulai digarap pada pertengahan 2013, Adnan diduga bertemu dengan Surbawa dan sejumlah pihak lain. Dalam pertemuan itu, Adnan memberikan informasi mengenai desain jembatan dan engineer estimate kepada Surbawa. Atas informasi tersebut, PT Wijaya Karya memenangkan lelang pembangunan Jembatan Waterfront City tahun anggaran 2013 dengan ruang lingkup pekerjaan pondasi.

Pada Oktober 2013 ditandatangani kontrak pembangunan Jembatan Water Front City tahun anggaran 2013 dengan nilai Rp 15.198.470.500 dengan lingkup pekerjaan pondasi jembatan dan masa pelaksanaan hingga Desember 2014. Setelah adanya kerja sama dalam proyek tersebut, Adnan kemudian meminta pembuatan engineer estimate proyek jembatan WFC tahun 2014 kepada konsultan. Ketika itu, Surbawa pun meminta kenaikan harga satuan untuk beberapa yang tengah dikerjakan. Kongkalikong mereka terus berlanjut dalam melakukan Penetapan Harga Sendiri dalam pelaksanaan proyek tersebut yang dibiayai APBD 2015, APBD Perubahan 2015 dan APBD 2016. Adnan diduga menerima fee sekitar Rp 1 miliar atau sekitar 1 persen dari nilai kontrak. Terjadi kolusi dan pengaturan tender yang melanggar hukum yang dilakukan oleh para tersangka.

Dalam kasus ini, Adnan dan Ketut Surbawa disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 3 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.