AH Thony : Hi-tech Mall Seperti dalam Cengkeraman sebuah “Sekte”

0
375

Surabaya NAWACITAPOST – Pasca pengambilan alihan Hi-tech Mall oleh Pemkot Surabaya, nasib gedung beserta pedagangnya masih terkatung-katung tidak ada kejelasan, meski saat ini dikabarkan telah ditawarkan ke swasta.

” Pemkot harus segera mencarikan solusi, karena ini menyangkut hajat hidup ratusan pedagang beserta ribuan karyawannya,” ujar Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya AH Thony saat meninjau kondisi terkini Hi-Tech Mall, Jumat (25/9/2020).

Tidak hanya pedagang laptop dan jenis IT lainnya, sesuai data, banyak juga pedagang kecil yang lain. Para pelaku UMKM ini menggantungkan hidupnya di sini, katanya.

Memang, saat ini kondisi Hi-tech Mall sangat memprihatinkan. Sejak masa transisi pengelolaan dari PT Sasana Boga kepada Pemkot Surabaya April 2019, seakan sengaja ‘Dimatikan’. Kondisi gedung tidak terawat, Seluruh fasilitas, mulai jaringan Internet, AC, eskalator, hingga lift, tak lagi berfungsi. Bahkan fasilitas toiletpun seringkali tidak berfungsi, hingga pedagang dan pengunjung pun kebingungan saat akan buang hajat.

Untuk urusan listrik, 350 pedagang yang tersisa harus patungan untuk pembayarannya yang sekitar 400jt per bulan.

” Kalau kondisinya ramai ndak masalah mas, la sekarang ini, disini sangat sepi pengunjung. Pedagang rasanya seperti Hidup enggan, mati tak mau,” kata Eni salah satu karyawan sebuah toko komputer.

” Miris banget,” kata AH Thony dalam sidak Dewannya.

Melihat hal ini, AH Thony mengharapkan Pemkot Surabaya segera turun tangan dan tidak bisa mengabaikan begitu saja.

” Harusnya, sejak masa BOT oleh Sasana Boga berakhir, Pemkot sudah harus punya planning. kok sepertinya ada pembiaran, biar pedagang mati sendiri dan gedung akan digunakan hal lain,” kata Thony curiga.

Didampingi ketua paguyuban pedagang Hhi-Tech Mall, Rudi Abdullah, Politisi Partai Gerindra ini berharap pengelolaan Hi-Tech Mall dilakukan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). ” ini lebih menjanjikan daripada diolah swasta,” menurut Thony.

Di tempat ini, masih thony, ada beberapa peradaban diantaranya Peradaban bisnis dan budaya, adalagi taman rekreasi untuk anak-anak.

Terlintas dalam benak Thony, melihat Surabaya Mall, Hi-Tech dan Taman Remaja Surabaya bagaikan masuk dalam cengkeraman sebuah ‘Sekte’ yang akan membunuh ketiganya dan bila sudah mati akan dipersembahkan kepada yang ‘diagungkan’.

Amat disayangkan, padahal sejak berdiri ketiganya (Surabaya Mall, Hi-Tech dan Taman Remaja Surabaya) menjadi pusat bisnis, kebudayaan sekaligus hiburan bagi masyarakat Surabaya khususnya dan bagi masyarakat Indonesia Timur.

“Kalau ketiganya dikawinkan, akan menjadi energi luar biasa, apalagai didukung kekuatan bisnis besar. Bisa kalau mau,” katanya.

Konsep revitalisasi bangunan dan fungsi Hi-tech Mall harus menjadi diskusi besar dan serius, dengan melibatkan semua pihak, mulai akademisi, pelaku bisnis, serta pelaku seni dan budaya. Selain menyinergikan teknologi dan seni budaya, juga bisa menjadi kawasan konservasi budaya, Karena kawasan tersebut terletak di tengah kota, sehingga bisa menjadi tempat wisata heritage dengan kawasan lain seperti kawasan kota lama Surabaya.

Diketahui, dikawasan ini ada 3 pusat peradaban yakni Hi-Tech Mall sebagai peradaban bisnis, Surabaya mall sebagai peradaban budaya sekaligus UMKM, dan Taman Remaja sebagai taman hiburan rakyat khususnya anak-anak.

Dua dari antaranya sudah mati, dan hanya tersisa Hi-Tech Mall yang saat ini sedang sekarat.

Akankah akan dimatikan juga ? semua jawaban hanya ada di Pemkot Surabaya sebagai Yang dipertuan. (BNW)