Petani di Poso Dianiaya Hingga Tewas Oleh Kelompok Teroris Mujahidin,Aparat Kemana?

0
270
Petani di Poso Dianiaya Hingga Tewas Oleh Kelompok Teroris Mujahidin

NAWACITAPOST.com- Seorang petani di Poso, Sulawesi Tengah, tewas setelah dianiaya oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Operasi Tinombala yang digelar sejak 2016 diminta bertindak lebih tegas mengejar para pelaku.Kelompok Mujahidin Indonesia Timur sebagai pelaku pembunuhan seorang petani bernama Agus Balumba alias Papa Sela (45) warga desa Sangginora, Kecamatan Poso Pesisir Selatan di Kabupaten Poso. Desa itu berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Poso.

Komisaris Polisi Sugeng Lestari, Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah menjelaskan, korban dan seorang rekannya AP menuju ke pondok kebun untuk menjaga tanaman jagung pada Sabtu (8/8) sore. Namun sesampai di pondok kebun, justru bertemu dengan sekelompok orang bersenjata api.

“Saksi AP berhasil melarikan diri, tapi korban dianiaya kelompok itu. Jenazah Agus Balumba dievakuasi pada Minggu (9/8) oleh aparat keamanan bersama masyarakat desa setempat,”kata Sugeng.

Baca Juga : Sebanyak 161 Anggota Dewan Hadiri Sidang Tahunan MPR-DPR 2020 Secara Fisik

Sugeng mengatakan petugas Satgas Tinombala langsung menemui saksi AP ketika mendengar kejadian tersebut. Saat ditanyai oleh Satgas Tinombala, menurut Sugeng, AP membenarkan tersangka penyerangan termasuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso.

“Di mana diduga atas nama Ali Kalora membawa senjata laras panjang. Pelaku yang memukul AB terlihat membawa senjata pendek dan beberapa orang lain dengan perawakan masih muda,” kata Sugeng.

Kelompok MIT juga dikaitkan Polisi dengan pembunuhan dua petani lainnya dalam dua peristiwa terpisah pada April 2020.

Dalam hal ini, Kepala Pusat Penelitian Perdamaian dan Pengelolaan Konflik (P4K) Universitas Tadulako, Muhammad Marzuki mengatakan , aksi-aksi kekerasan yang menyasar ke warga sipil dikarenakan dua hal, yaitu MIT  ingin menyampaikan pesan bahwa mereka masih kuat dan karena mencurigai warga yang ditemui adalah informan aparat keamanan.

“Maka kemudian sebenarnya kalau saya negara harus hadir dalam posisi seperti itu. Artinya, aparat harus bisa melindungi warganya,” ujar Marzuki.

Dia juga mempertanyakan mengapa operasi Tinombala tidak bisa mengatasi gangguan keamanan dari kelompok MIT. Padahal, jumlahnya diklaim terus menurun.

“Itu artinya menurut saya Operasi Tinombala ini belum sepenuhnya mampu menjawab apa yang kita harapkan yaitu kasus MIT di Poso itu bisa diselesaikan,” tegas Marzuki.

Marzuki menekankan operasi Tinombala harus memiliki tenggat waktu yang jelas untuk menangkap seluruh anggota kelompok itu. Polisi dan TNI juga harus bisa masuk ke jantung operasi mereka.