Bersama Surabayaonline, SAH Bacawawali Surabaya Bicara UMKM

0
222

Surabaya NAWACITAPOST – Dengan adanya musibah Pandemi Covid-19, kita dipaksa dengan cepat menggeser budaya masyarakat Indonesia dari hubungan sosial menjadi anti sosial. Begitupun yang terjadi dalam dunia usaha khususnya Usaha kecil dan menengah.

Diera seperti ini, dunia usaha tetap dituntut eksistensinya ditengah banyak pembatasan terutama dalam hal menjaga kualitas produksi maupun pemasarannya. Dan hal ini menjadi perhatian pihak Surabayaonline.co sebagai lembaga Media yang berperan untuk mencerdaskan bangsa melalui semua kegiatannya.

Di peringatan Hari UMKM Nasional tanggal 12 Agustus ini, Surabayaonline.co menginisiasi sebuah gerakan bagi UMKM melalui seminar webinar yang membawa tajuk ‘Membangun UMKM Surabaya Tangguh’.

Dengan mengundang 3 narasumber yang berkompeten dibidangnya, Surabayaonline.co bermaksut memberikan wawasan tentang problematika yang sering dialami UMKM khususnya yang ada di Surabaya. Dari problem tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi dan dirumuskan menjadi solusi kearah UMKM yang lebih baik.

Sebagai Narasumber yang pertama, Siti Anggraenie Hapsari atau yang akrab dipanggil SAH memaparkan tentang pentingnya Legalitas bagi pelaku UMKM. Karena dengan mempunyai legalitas yang jelas, celah pembinaan ataupun bantuan dari Pemerintah dan Investor bisa didapat sehingga peningkatan usaha dapat dicapai.

Sesulit apakah pengajuan legalitas suatu UMKM ? Mulai dari tatacara pendirian UMKM sampai pengurusan perijinan seperti Badan hukum, PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), ijin edar dari BPOM serta sertifikat Halal, secara gamblang dijelaskan oleh SAH sesuai profesinya sebagai Notaris.

Diawal paparannya, SAH mendefinisikan antara UKM, UMKM dan IKM. “Banyak yang tidak tahu hal ini,” katanya.

Sesuai keberadaannya, UKM atau Usaha Kecil Menengah biasanya berkutat pada usaha jasa seperti jasa usaha servis elektronik, Laundry dll yang memiliki kekayaan bersih tidak lebih dari 200jt. Dan tidak diperlukan badan usaha/hukum dalam kegiatan usahanya.

Disisi lain, UMKM dan IKM sudah wajib mempunyai badan usaha/hukum sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh UU 20 tahun 2008.

Peran UMKM di Indonesia, menurut SAH sangatlah strategis karena disitulah sumber devisa. “UMKM sudah teruji terhadap krisis. Selain itu, UMKM juga menjadi sumber pendapatan masyarakat luas terutama bagi korban PHK,” katanya.

“Sebenarnya, Pemerintah dalam hal ini Dinas Perdagangan dan Perindustrian sudah memfasilitasi pendaftaran usaha melalui online, namun masih banyak pelaku UMKM dan IKM belum memanfaatkannya dengan beralasan takut pajak atau yang lainnya,” terang Bakal Calon Wakil Walikota Surabaya dari Partai Demokrat ini. (12/8)

Terkait hal ini, SAH memaparkan beberapa permasalahan yang terjadi pada UMKM di Indonesia dari masalah Permodalan, Kejelasan badan hukum, Rendahnya kesadaran bayar pajak, Kurangnya Inovasi, dan hampir 90% pelaku UMKM yang gagap teknologi.

Disitulah peran Pemerintah diharapkan dapat sesering mungkin melakukan pembinaan dan pendampingan, pungkas SAH.

Dalam menghasilkan Produk yang baik dan berstandart, UMKM butuh ditunjang Teknologi Tepat Guna (TTG). Hal ini dibutuhkan karena dengan TTG, produk yang dihasilkan bisa lebih Murah, Mudah, model bisa disesuaikan dan terlebih mutunya bisa terjaga.

Hal ini dipaparkan oleh narasumber kedua, Edi Mulyadi, Direktur Inkubator bisnis UPN ‘Veteran’ Surabaya.

” Mengapa TTG, karena saat ini masyarakat butuh produk yang foodgrade (layak konsumsi), dan masih banyak produk yang diproduksi dengan kurang Higienis. Namun selama ini banyak yang menggunakan teknologi tepat guna tapi tidak tepat. Maka dari itu memilih TTG juga harus sesuai dengan kebutuhan, yang banyak terjadi adalah Watt nya besar dan, begitu dapat bantuan tidak dapat dipergunakan,” papar Edi.

Catatan Edi, di era saat ini apabila ingin menidirikan usaha yang memproduksi barangnya sendiri haruslah inovatif, dan berani untuk tampil beda. ” Apabila dibutuhkan, kami di Inkubator Bisnis UPN ‘Veteran’ siap mendampingi para UMKM,” kata Edi yang mengaku sudah menghasilkan puluhan Design Industri di Inkubator Bisnis UPN ‘Veteran’.

“Teknologi-teknologi itu sudah ada dan murah. Perguruan tinggi terus melakukan penelitian, tapi terkadang banyak yang tidak tahu, ” kata Edi.

Cara pemasaran, terkadang menjadi penentu laku tidaknya suatu produk. Dalam hal ini, narasumber ketiga Bambang Wahyudi, Dosen teknik Kimia yang juga menjadi pengurus di Inkubator Bisnis UPN ‘Veteran’ menjelaskan kiat-kiat atau Strategi Pemasaran di era ‘New Normal’

Strategi Pemasaran Di Era New Normal memiliki perbedaan yang mendasar dengan strategi pemasaran sebelum era covid. perbedaannya terletak pada cara berinteraksi antara bisnis dan customer. Kalau di era sebelum Covid19, setiap bisnis bisa lebih mudah melakukan pemasaran, seperti hadir dilokasi yang ramai dan padat, harga bersaing, produknya memiliki kelebihan ini dan itu, promosinya menggunakan tester (bagi pengusaha FnB) atau brosur yang dibagi dijalanan.

Saat ini harus berubah, kita harus lebih fokus dengan pelanggan, mulai dari Kepercayaan pelanggan terhadap bisnis kita, apa bisnis kita bisa dipercaya? keamanan produknya, apakah bebas covid? apakah karyawannya bebas covid? dan lain lain. Lalu bagaimana cara pelanggan menadapatkan produknya mulai dari memesan hingga mendapatkan produk tersebut, dan berapa harga yang harus dibayar, dan terakhir apa manfaatnya untuk dia sehingga membeli produk atau jasa dari perusahaan kita.

Beberapa kiat-kiat berjualan online antara lain :

  • Komunikasi, Komunikasi bukan sekedar promosi, jalin komunikasi dengan customer, agar bisa memahami apa yang mereka butuhkan, caranya melalui media sosial, arahkan dari berbagai saluran promosi bisnis kita, seperti iklan, website, youtube dan lain lain, arahkan semua ke media soisal utama kita yang telah kita sediakan wadah untuk langsung berbicara dengan customer service. selain itu buatlah content yang berfokus pada customer tentang berbagai hal yang mereka butuhkan dan alami di era new normal ini, agar mereka merasa content kita sedang berbicara dengan mereka. 
  • Menghadirkan “New” Konsep, Menerapkan aturan dilarang menyentuh barang yang dipajang secara langsung, sebagai gantinya ada petugas khusus yang memang bertugas menjelaskan semua produk yang ingin diketahui lebih oleh customer, sehingga customer menilai bahwa toko kita memang benar benar menerapkan protokol keamanan yang baik. Juga bisa menggunakan kemajuan teknologi dengan mendaftarkan toko ke e-commerce.

    Bisa menyediakan produk yang tadinya tidak tersedia lalu kini tersedia. contohnya banyak Brand minuman kopi yang menjual kopinya dengan ukuran 1 L, agar bisa dinikmati bersama keluarga maupun orang endekat, tanpa harus pergi dan nongkrong di cafe

  • Memberi Manfaat Strategis

    Maksudnya adalah manfaat yang dibutuhkan oleh customer terkait kondisi era new normal, baik manfaat yang disadari maupun yang belum disadari oleh customer tersebut. Contohnya :

    – Produk makanan yang menawarkan produk baru dengan versi yang bermanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh, sehingga customer akan berpikir bahwa produk makanan yang akan dia beli berguna untuk dia di era new normal

    – Ada juga yang menjual face shield dengan custom tulisan, yang kini banyak di beli oleh perusahaan perusahaan agar bisa digunakan oleh karyawannya tentunya dengan tulisan nama perusahaannya masing masing, sehingga terkesan aman, profesional namun juga elegan.

    – Memberikan manfaat tambahan untuk produk seperti filter udara, jadi bukan hanya menyaring debu namun juga menyedot dan membunuh bakteri dan virus yang ada diudara, sehingga customer yang tadinya tidak merasa butuh, menjadi merasa butuh.

  • Manfaatkan Digital Marketing

    Manfaatkan media maupun aplikasi yang sedang booming untuk menjadi saluran utama kita dalam menghimpun customer, salah satunya dengan cara mengajak kolaborasi dengan orang-orang. sekarang banyak yang sedang kehilangan pekerjaan, saatnya mengembangkan usaha dengan mengajak banyak orang untuk ikut bersama mengembangkan usaha kita saat ini, baik berupa mitra kerja maupun mitra investor. dengan banyaknya yang terlibat maka akan semakin luas jangkauan pemasaran untuk bisnis

Sesuai penelitian Bambang Wahyudi dkk, beragam sarana pemasaran online yang berbayar seperti Youtube, Whatapp, Facebook, Instagram, dan Twitter. Adapula yang gratis seperti di E-Commerce.

E- Commerce atau Electronic Commerce adalah aktifitas jual beli yang dilakukan melalui media elektronik, dan beberapa contoh marketplace di e-commerce adalah Shopee, Lazada, Tokopedia, Olx, BukaLapak dan lain sebagainya.

Kesimpulannya menurut Bambang, Teknologi digital yang diterapkan dalam sector ini mendorong peluang tumbuhnya UKM yang menggerakkan Ekonomi dan Teknologi yang semakin canggih dapat membantu mempermudah kegiatan yang minim tatap muka, ujar Bambang mengakhiri paparannya.

Webinar yang digagas surabayaonline.co dan dimoderatori Yuliastika secara kesuluruhan terbilang berbobot. Semoga dapat berkelanjutan sehingga semakin bermanfaat bagi banyak masyarakat, ujar Ruru, Direktur surabayaonline dalam sesi terakhir. (BNW)