Perwali Hanya Melarang, Tidak Ada Solusi

0
148
Foto SAMSURIN Ketua DPC Partai Bulan Bintang Kota Surabaya

Surabaya NAWACITAPOST – Perwali kota Surabaya nomer 33/2020 yang syarat dengan himbauan dan larangan menimbulkan gejolak makin parah pada situasi pandemi covid-19. Perwali 33 yang harusnya bisa jadi dasar hukum untuk melakukan tindakan pencegahan mata rantai covid -19 secara maksimal malah menimbulkan dampak sosial berupa pengangguran. Khususnya sektor jasa.  Hal tersebut dikatakan Samsurin Ketua DPC Partai Bulan Bintang kota Surabaya.

Surin melanjutkan bahwa para profesional yang selama ini begerak dalam bisang jasa, baik pelaku hiburan maupun barang yang menunjang kebutuhan even organizer menjadi macet karena tidak ada solusi dalam perwali 33 ini.

“Pemerintah melarang usaha hiburan, ya sejognyanya pemerintah harus memfasilitasi pelaku penyedia jasa ini agar bisa tetap bekerja. Semisal mereka diberi ruang untuk menghibur masyarakat di posko-posko gugus tugas covid atau rumah sakit , atau tempat karangtina para pasien covid-19. Dan tentunya tetap dipikirkan protokoler kesehatannya,” ujar Surin.

Dengan memberikan sedikit hiburan pada para pasien covid tentu secara psikologis mereka terhibur. Contoh seniman tradisional reog , jaranan. Sastra . Musik dll menyediakan hiburan
Ini kan bisa dikatakan solusi. Karena pandemi ini tak bisa dipastikan kapan selesainya. Jadi pemerintah juga memikirkan dampak pelarangan yang dibuat dalam perwali, paparnya.

Pengusaha jasa lain, soundsistem, rias pengantin dan jasa persewaan interior perkawinan, ( kuade ) persewaaan terop, cathering, mati total jika perwali 33 ini terus dilanjutkan.

Samsurin menambahkan, jika partai Bulan Bintang dan para fraksi di dprd kota surabaya, seperti golkar, gerindra, PKS , PKB menginginkan perwali ini di revisi, itu karena faktor kemanusiaan dan keadilan.

“Jika pihak pihak lain mengatakan partai islam kok mbelani purel. Gak ngurus apa kata mereka yang menganggap profesi seseorang, nyatanya purel itu ada kok, dan selama ini pemerintah kota surabaya menerima hasil pajak dari mereka. Siapapun ya harus dibela demi merajut persatuan,”  tegas Surin.

Surin kembali mengingatkan kepada Risma Walikota Surabaya, Jangan Keras Kepala. Sebagian dari mereka itu adalah kaum perempuan, Risma tidak pernah memikirkan mereka itu ada dan mereka juga menyumbang pajak untuk pembangunan kota surabaya.
Masih banyak cara untuk melawan pandemi ini , jangan paksakan perwali, kata surin. (BNW)