Kepala Kantor Imigrasi Kota Singkawang, Tessar Bayu Setyaji, AMd.IM, SH,MM, mengatakan , Singkawang merupakan kota yang multikultural dan heterogen dapat mewujudkan semangat persatuan serta pluralisme dalam bingkai NKRI dengan mewujudkan kehidupan yang rukun serta damai dan akhirnya diganjar penghargaan kota paling toleran se Indonesia oleh Setara Institute mengalahkan kota-kota lain pada tahun 2018.
” Dengan semangat toleransi yang memang dimiliki oleh Kota Singkawang, sehingga Kantor Imigrasi Singkawang merasa perlu menjadi pilar pemersatu sesuai fungsi yang dimiliki, dan akhirnya Kantor Imigrasi Singkawang mendorong sebuah inovasi BETI yang mengkolaborasikan semangat persatuan dalam kebhinekaan dengan pelayanan Keimigrasian. BETI merupakan gelaran budaya yang merepresentasikan kearifan lokal dengan semangat toleransi,” kata Tessar.
Baca Juga : Kepala Kanwil Kemenkumham Kalbar : Nama Djoko Tjandra Tidak Ada di PLBN
Menurut dia, tarian Tidayu dan NKRI diakhiri sebuah atraksi barongsai dalam skema pemberian/penyerahan paspor. Dimana barongsai bertugas mengambil paspor yang telah selesai dari petugas kemudian mencari pemegang paspor tersebut yang diberikan melalui mulut barongsai.
” Yang perlu menjadi catatan adalah seluruh kegiatan BETI saat ini sudah menjalankan serta mengedepankan protokol kesehatan di masa pandemi ini. Untuk pelaksanaan inovasi BETI, Kantor Imigrasi Singkawang telah menjadwalkan sebulan sekali selama memang suasana pandemi berangsur pulih,” ujarnya.
Pelaksanaan inovasi BETI sambungnya, merupakan kolaborasi dan sinergitas yang baik oleh Pemerintah Kota Singkawang melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Singkawang, Kantor Imigrasi Singkawang, Lapas Singkawang serta dukungan dari Sanggar Simpur Singkawang.
Proses pemberian paspor oleh pemain barongsai yang bukan pegawai Imigrasi merupakan representasi dari spesifikasi dan kualitas paspor Indonesia yang sangat baik, sehingga yang bukan pegawai Imigrasi pun dapat melakukan identifikasi paspor sesuai dengan pemegangnya.
Yang menarik dalam inovasi BETI adalah pemain barongsai merupakan warga binaan Lapas Singkawang yang sedang menjalankan program pembinaan sehingga akan memberikan nilai positif dan semangat serta motivasi bagi warga binaan dalam melakukan kegiatan yang produktif dan diharapkan pada saat kembali ke masyarakat sudah memiliki bekal ketrampilan yang bisa mendorong produktivitas dalam menjalani hidup setelah bebas.
Disamping itu, inovasi BETI juga diharapkan dapat mendorong peningkatan serta promosi produksi kepala barongsai oleh warga binaan di Lapas Singkawang.
Selain berbicara masalah teknis, semangat pemberian paspor melalui gelaran budaya yang multi etnis merupakan simbol persatuan dan kebhinekaan yang dilambangkan dengan gambar Garuda di paspor dimana pelayanan keimigrasian kepada setiap WNI akan diperlakukan dan memiliki hak yang sama tanpa memandang agama, etnis/suku, pekerjaan dll.
Inovasi Beti juga diharapkan dapat memberikan dampak yang baik bagi optimisme kebersamaan, produktivitas masyarakat serta bangkitnya/geliat wisata di kota Singkawang yang secara umum terpengaruh dengan Pandemi Covid-19.
” Menjadi harapan kita semua bahwa kota Singkawang tetap menjadi kota toleran dan tetap menjadi kota tujuan wisata serta Kantor Imigrasi Singkawang dapat mengambil peran dengan memberikan pelayanan terbaik melalui kepastian biaya, persyaratan dan waktu serta ruang pelayanan yang representatif dan humanis agar semua masyarakat Indonesia dari semua wilayah dapat mendapatkan pelayanan terbaik di Kantor Imigrasi Singkawang melalui beberapa program/inovasi sekaligus berwisata ke Kota Singkawang karena Imigrasi juga telah memiliki pelayanan proses percepatan penyelesaian paspor sehari jadi sehingga sambil berwisata ke Kota Singkawang dapat
sekaligus mengurus Paspor,” paparnya.
Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menyampaikan apresiasi kepada Kepala Kantor Imigrasi kelas II Non TPI Kota Singkawang dan jajarannya, dimana layanan pembuatan Paspor cukup cepat.
” Inovasi pemberian paspor dengan menampilkan seni Baronsai adalah terobosan yang baik. Dan ini sesuai de gan Kultur masyarakat yang multi Etnis, budaya dan beragam agama. Namun demikian masyarakat Singkawang selalu rukun dan harmonis. Sehingga Singkawang mendapat predikat Kota Tertoleran se Indonesia,” ujar Tjhai Chui Mie.