Dipailitkan Pengadilan Niaga, direktur utama PT. Prima Lima Tiga jadi tersangka.

0
157
Yafeti Waruwu, SH, MH., pengacara yang tergabung dalam Garuda Law Firm ini saat conference persnya. Sabtu, (27/06/20)

Surabaya NAWACITAPOST -PT. Prima Lima Tiga (PLT) developer Hotel Alpines di kota Batu diputuskan Pailit sesuai putusan no. 12.PTT/SUS/PKPU/2020/PN.NIAGASURABAYA, namun masih menyisahkan banyak hal terutama mengenai pembayaran hutangnya.

Permasalahan berawal investasi yang berakhir dengan gugatan PKPU ke Pengadilan Niaga Surabaya bulan Februari yang lalu dan pada 10 Juni 2020 diputuskan untuk pempailitkan PT. Prima Lima Tiga (PLT). Para penggugat adalah 3 orang yakni Peter Sosilo, Refy Runtukahu dan PT. Oase Artha Kapital dengan total kerugian hampir 30 miliar.

Saat di pengadilanpun, sudah dikeluarkan akta Dading (akta perdamaian) tentang kewajiban pembayaran hutang oleh PT. PLT kepada Debitur yang juga adalah Investor dari Hotel Alpines Batu, namun pengakuan hutang PT. PLT kepada 33 Debiturnya tidak diakui sepenuhnya.

Tidak terima dipailitkan, pengurus PT. PLT bersama pihak-pihak lain berbondong-bondong melaporkan para penggugat PKPU yakni Peter Sosilo dilaporkan terkait pasal 335 (Pengancaman) dan 372 (Penggelapan).

” Dari laporan ini, terlapor sudah secara Gentle menghadiri panggilan dan menandatangani BAP. Akan tetapi si Pelapor malah tidak mau datang dan menandatangani BAP. Ini kan aneh ? ujar Yafeti, pengacara yang tergabung dalam Garuda Law Firm ini saat conference persnya. Sabtu, (27/06/20)

Sebaliknya, Kami sudah siapkan laporan ke Polda karena diduga membuat surat pernyataan palsu kepada Bank BNI yang menerangkan bahwa Peter Sosilo mendapatkan proyek dari PT. PLT sebesar 16.259.555.000, dengan pembayaran tranfer senilai 9,8 miliar dan dinota riilkan.

” Bukti pemalsuannya sudah ada, baik tanda tangan, alamat maupun nomer NIK saya berbeda,” Tegas Yafeti.

Yang kedua, pelaporan kepada direktur PT. Oase Artha Kapital dalam hal ini adalah Loren. Loren dilaporkan karena dianggap telah memberikan keterangan palsu di pengadilan. Padahal selama proses pengadilan data dan bukti sudah ada proses verifikasi dihadapan kedua belah pihak.

” Saat ini sudah diproses di Polda untuk diadakan argumentasi hukum,” ujarnya.

Maka, melalui kuasa hukum Yafeti Waruwu dari Garuda Law Farm, Debitur PT. PLT atas nama Peter Sosilo., Reffy Runtukahu dan Loren (Dirut PT. Oase Artha Kapital) sudah melakukan upaya hukum ke Polrestabes Surabaya sekaligus ke Polda Jatim dan saat ini pimpinan PT. PLT, Ishak telah ditetapkan sebagai tersangka. Diluar itu, Vicky mantan karyawan PT. PLT juga turut melaporkan karena hak-haknya sebagai karyawan tidak diberikan.

Terkait benang kusut kronologis, Yafeti memaparkan ada beberapa tuntutan yang dilakukannya untuk mendampingi kliennya. Yang pertama adalah tuntutan Refy Runtukahu sebagai pembeli Kondotel hotel Alpines Batu dengan total nilai sebesar 13,7 miliar. Namun setelah diadakan AJB, Refy tidak pernah menerima penyerahan unit kondotel dan sertifikatnya.

Saat sidang kepailitan 10 Juni kemarin, Ia mendapat akta dading (akta perdamaian) dari Ishak (PT. PLT) yang menguraikan kesanggupan pembayaran hutang sebesar 250jt per bulan dari Agustus 2021 sampai Januari 2025. Selajutnya, untuk pelunasan 292.750.000 akan dibayarkan pada bulan Februari setelahnya. ” Kalau ditotal, 13,7 miliar,” ujar Yafeti sembari menunjukkan surat perjanjian PT. PLT yang ditandatangani oleh Ishak sebagai Direktur dan diketahui pihak pengadilan. 

Dari situ ada yang aneh, saat ini pihak Ishak tiba-tiba melaporkan Refy ke Polda dengan tuduhan penggelapan dan pemalsuan,” Tujuan temen-temen ini hanya mengambil uangnya, eh.. kok malah dilaporkan. Ini yang menyebabkan ada upaya hukum dari temen-temen dan harus ditelusuri,” katanya.

Tak jauh berbeda dengan Peter Sosilo. Sebagai investor ia mengalami kerugian 9,5 miliar (sudah di verifikasi oleh tim PKPU) berupa hutang pribadi Ishak direktur PT. PLT sebesar 5 miliar. Hal itu dilengkapi oleh pernyataan hutang dengan dilengkapi 3 nota riil yaitu pengakuan hutang, kompensasi dan jual beli unit.

Menurut Yafeti, Peter Sosilo juga pernah membeli satu unit Kondotel namun sewaktu serah terima ternyata status kondotel masih menjadi tanggungan kredit ke salah satu bank.

Sebenarnya, menurut Yafeti sudah ada nota perdamaian, namun pihak Peter menilai PT. PLT melalui Ishak sudah melenceng dari koridor hukum perdamaian.

” Tidak bisa mekanisme PKPU nota perdamaian merupakan ‘janji’, ini sudah ndak bener dan sudah melenceng dari koridor hukum perdamaian. Sudah dipastikan ini adalah trik PT. PLT,” ujar Yafeti.

Terkait upaya hukum yang dilakukan loren (Dirut PT. Oase Artha Kapital), Yafeti menjelaskan bahwa Loren adalah salah satu investor PT. PLT dengan total investasi 5,9 miliar dan sampai saat ini belum ada PPJB, terlebih penyerahan unit dan SHM.

” Yang aneh, pihak Ishak juga melaporkan Loren ke Polda. Ada apa ini…? apakah memang teknik Ishak agar Loren tidak menagih. Sepertinya ini ada sebuah permainan. Tetapi kita tetap harus berjuang untuk mendapat hak-hak kita. Maka dari itu kita sudah melakukan upaya hukum” pungkas Yafeti. (BNW)