4 Pejabat Aktif Bea Cukai Batam Jadi Tersangka korupsi Importasi Tekstil

0
264
4 Pejabat Aktif Bea Cukai Batam Jadi Tersangka korupsi Importasi Tekstil

Batam Kepri, NAWACITAPOST- Sebanyak empat pejabat Bea Cukai Batam ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait perkara tindak pidana korupsi importasi tekstil bea dan cukai pada 2018-2020.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Hari Setiyono mengatakan, ke lima tersangka tersebut yakni;

1.Mukhamad Muklas selaku Kabid Pelayanan Fasilitas Kepabeanan dan Cukai (PFPC) pada Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Batam.
2.Dedi Aldrian, Kepala Seksi Pabean dan Cukai (PPC) III pada KPU Bea dan Cukai Batam
3.Hariyono Adi Wibowo, Kepala Seksi Pabean dan Cukai (PPC) I pada KPU Bea dan Cukai Batam.
4.Kamaruddin Siregar selaku Kepala Seksi Pabean dan Cukai (PPC) II pada KPU Bea dan Cukai Batam.

5.Irinto selaku Pemilik PT Fleming Indo Batam dan PT. Peter Garmindo Prima.

Tim penyidik telah menemukan alat bukti yang cukup untuk menetapkan lima orang ini sebagai tersangka dalam kasus importasi tekstil bea dan cukai tahun 2018-2020.

Baca Juga : Kemenkumham Hadapi Sidang Perdana Gugatan Asimilasi Narapidana, Menkumham: Asimilasi Covid-19 Sudah Sesuai Aturan dan Tidak Melawan Hukum

Hari menjelaskan, keempat pejabat aktif Bea Cukai Batam tersebut bersekongkol dengan IR, untuk mengurangi volume dan jenis barang berupa kain asal China sebanyak 556 kontainer.

Kendati demikian, Hari menjelaskan tim penyidik masih menunggu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menghitung nilai kerugian negara atas kasus tersebut.

“Untuk nilai kerugian negara dalam penghitungan BPK,” katanya.

Seperti diketahui, kasus ini terungkap setelah tim penyidik Kejagung menemukan 27 kontainer PT Flemings Indo Batam dan PT Peter Garmindo Prima di Pelabuhan Tanjungpriok pada 2 Maret 2020.

“27 kontainer ternyata ada ketidaksesuaian antara jumlah dan jenis barang dengan dokumen bea dan cukai yang dilaporkan keempat pejabat yang telah menjadi tersangka itu,” tutupnya.

Reporter : Foarota Ndruru (Batam-Kepri)