Ngotot Buka Sekolah, Dewan : Kalau Terjadi Sesuatu, Silahkan Masyarakat Pidanakan Dinas

0
4601
A. Hermas Thony, Wakil ketua DPRD Surabaya

Surabaya NAWACITAPOST – Ada wacana, proses belajar mengajar di sekolah akan kembali diadakan dengan sistem tatap muka seperti sedia kala, namun hal itu menumbuhkan kekawatiran banyak pihak, para Guru, Siswa, dan orang tua siswa. Tidak terkecuali anggota Dewan sebagai lembaga pengawas Pemerintahan.

Wakil ketua DPRD Surabaya A.Hermas Thony tidak setuju apabila sekolah secara tatap muka segera dibuka tahun ajaran ini. Karena menurutnya baik Pemkot Surabaya maupun Dinas Pendidikan sama sekali belum ada pemaparan yang meyakinkan kepada Dewan terkait manajemen resiko di sekolah.

” Proses pensterilan ruangan seperti apa, menjaga keselamatan guru seperti apa, tata kelola siswa seperti apa dan lain sebagainya. Yang jelas selama ini tidak pernah ada pemaparan manajemen resiko dari Pemkot,” ujar Thony di kantor Dewan Yos Sudarso. Selasa (23/06/20)

Menurut Thony, ini adalah masalah keselamatan. Ibarat orang naik motor, kalau ingin selamat pertama motornya harus sehat. Orang yang mengendalikannya juga harus dalam kondisi sehat. Cara pengoperasiannya harus sehat, dan terakhir medan yang akan dilalui harus sehat pula.

” Lha Saat ini, karepe (ada keinginan) ingin mencapai sesuatu yang sehat, tapi  kendaraannya belum jelas,” tegasnya.

Thony mengaku sudah menghubungi Pemkot dan Dinas Pendidikan Surabaya, namun sampai saat ini tidak ada respon yang berarti. Bahkan saking jengkelnya, Thony ingin sekali membelikan sebuah Handphone untuk Kepala Dinas Pendidikan (Soepomo.red) karena tidak pernah diangkat bila dihubungi pihak Dewan (Thony dan komisi D.red). Dan kesulitan komunikasi ini sudah dilaporkan ke Sekdakot Surabaya (Hendro Gunawan.red) siang tadi, Selasa, 23 Juni 2020.

Sejauh ini, masih Thony, belum ada laporan yang jelas. Bahkan dari komisi-komisi yang kemarin menyatakan tidak perlu ada Pansus dan lebih memberdayakan Komisi, nyatanya sampai sekarang tidak ada laporan.

” Kalau seperti itu, boleh dong saya menggugat sebagai salah satu pengusul Pansus. Kemudian kemarin ramai-ramai mengadakan kunjungan tapi apa yang dihasilkan ?” tanyanya. ” Komisi D pun belum ada laporan kepada pimpinan, padahal kemarin janjinya akan memaksimalkan Komisi “.

Untuk memulai sekolah dengan tatap muka harus ada kajian satu persatu. Baik dalam mempersiapkan kelas, siswa, guru dan masih banyak lagi yang perlu dipersiapkan.

Thony melihat ada yang aneh dilakukan Dinas Pendidikan. Dicontohkan, siswa diliburkan selama satu minggu. Harusnya Dinas mengintruksikan para kepala sekolah untuk mempersiapkan apa-apa saja yang diperlukan saat siswa kembali masuk sekolah. Semisal penambahan wastafel, penyekatan kelas dll. Anehnya lima hari setelah pengumuman libur, thony berkunjung ke beberapa sekolahan, disitu tidak ada yang dilakukan karena tidak pernah ada instruksi dari Dinas.

Thony mengingatkan agar Pemkot tidak sembrono untuk membuat kebijakan dan langsung dilaksanakan. Hal yang pertama harus dipastikan ada berapa jumlah sekolah dari TK sampai SMA sekaligus berapa ribu kelasnya. Setiap sekolah perlu diadakan sertifikasi protokol kesehatanya. Kemudian harus ada pemetaan terhadap siswanya.

” Kalau sekolah belum dipersiapkan, dan ngotot ingin membuka sekolah kembali, apabila terjadi sesuatu hal kami persilahkan masyarakat ‘Mempidanakan Dinas’,” tegas Thony.

Kenapa demikian, karena menurut Thony disitu ada unsur kelalaian dalam melaksanakan tugas dan mengancam keselamatan.

Terkait anggaran Pendidikan New Normal, Thony kembali mempertanyakan tindakan Refocusing dan Relaxsasi anggaran oleh Pemkot.

” Kalau anggarannya tidak ada, berarti ada banyak hal yang belum diperhitungan saat penganggaran. Maka kami mempersilahkan pihak Pemkot untuk pengadaan anggaran kembali tanpa mengurangi anggaran lain yang sekiranya dibutuhkan pada saatnya nanti. Karena sistem anggaran tidak bisa dirubah secara tiba-tiba. Dan yang penting ada perencanaan sekaligus pelaporan yang baik,” pungkas A.H Thony politisi Gerindra. (BNW)