PSBB, Owner Resto Kayanna Ajak Pengusaha Kuliner Lebih Proaktif

3
1822
Kayanna Indonesian Cuisine & The Grill, Jl. Dr. Soetomo No. 50 - 54, Tegalsari, Surabaya.

Surabaya NAWACITAPOST – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya membuat banyak pengusaha Restoran mengalami penurunan omset yang sangat drastis, dan tidak sedikit yang tak dapat bertahan lalu gulung tikar (bangkrut). Hal ini disebabkan sepinya pembeli karena ada pembatasan namun pengeluaran tetap harus dibayarkan.

Begitupun yang dialami Kayanna Indonesian Cuisine & The Grill yang berpusat di Jl. Dr. Soetomo No. 50 – 54, Tegalsari, Surabaya. Meski harus menutup 7 cabangnya yang di mall karena larangan makan ditempat, dari penurunan omset 90% sampai hari ini dapat normal kembali. 

Diceritakan oleh Owner Kayanna Resto, Ellen Sulistyo, Perjuangan dari manajemen Kayanna Resto untuk bangkit, terinspirasi kemanusian yakni dari banyaknya karyawan yang masih butuh pekerjaan.

Disaat awal Pandemi, menurut Ellen, Resto Kayanna mengalami penurunan omset yang sangat tinggi yakni 80-90% sampai ia harus menutup 7 restorannya di area mall karena ada larangan tak boleh makan ditempat.

Tak hanya itu, harga yang tidak stabil untuk bahan baku masakan juga semakin membuatnya hampir putus asa. Namun melihat banyaknya karyawan yang masih butuh pekerjaan membuat manajemen Kayanna memutar otak untuk dapat survive di bisnis ini, salah satunya dengan mengubah konsep penjualan melalui layanan delivery (pengiriman) dan strategi yang lain.

” Saat ini, penjualan hanya berpusat di Kayanna Dr. Sutomo dengan sistem Delivery. Karyawan juga tetap kita pekerjakan secara shift. Bersyukur saat ini omset kita sudah normal kembali,” ujar Ellen Sulistyo, Owner Kayanna Resto. Senin (1/6/20)

Ellen Sulistyo, Owner Kayanna Resto

Dalam kesempatan itu, Ellen juga bermaksut memotivasi pengusaha yang lain agar tetap semangat. ” Tingkat putus asa kita memang semakin tinggi, kalau kita gampang shok pasti akan tutup. Dilain sisi kalau kita tetap buka pasti semakin merugi. Mana ada pengusaha yang mau buka tapi rugi,” ucap pengusaha yang hampir 15 tahun dibidang kuliner tersebut.

Namun dalam bisnis kuliner, Ellen mengajak para pengusaha untuk tetap semangat dan pro aktif. ” Roda itu berputar. Ketika kita ndak gerak dan ndak mikir orang banyak maka roda tersebut akan berhenti dan kita akan kehilangan segalanya. Menutup itu mudah tapi kita harus juga berfikir untuk kemanusiaan.”

“Disaat seperti ini Pengusaha seperti saya harus lebih aktif namun tetap waspada ekstra ketat. Waspada dengan tetap menjaga kebersihan, kualitas rasa dan pelayanan konsumen khususnya untuk pengiriman,” ujar pemilik Restoran perpaduan konsep Jawa kuno dengan kolonial Belanda ini.

Ditanya terkait menu, Ellen mengatakan masih tetap menyediakan menu masakan Nusantara seperti biasa. Seperti nasi bok, nasi liwet, nasi krawu, rujak, lontong cap gomeh, tahu telor, gado-gado, dll dengan harga ‘Corona’ yang cukup murah yakni cuma Rp. 38.800,-/ box.

Selain itu, Kayanna juga menyediakan aneka masakan Western dan Chinesee (Asian food). Tersedia juga menu masakan frosen (makanan beku) dan bumbu. ” Kita ini adalah pelopor RESERBA atau Resto Serba ada. Jadi semua menu makanan ada di Kayanna dengan tetap mengusung label halal. NO PORK,” tegas Ellen.

Home Cooking juga menjadi andalan dari Kayanna. ” Bagi ibu-ibu ndak perlu repot, tinggal beli paket di kita, masukin ikan dan bumbunya setelah itu sudah jadi,” jelasnya sembari mencontohkan memasak ayam bumbu rujak dan opor.

Saat inipun, menurut Ellen, Kayanna masih banyak melayani paket makan siang untuk perusahaan-perusahaan yang masih buka. ” Kemarin waktu hari raya kita juga menyiapkan paket hantaran, seperti nasi kuning, opor ketupat lontong sayur dan paket kroyokan dengan harga yang terjangkau.”

” Semua masih bisa makan dan berbagi dirumah bersama keluarga,” kata Ellen.

Kedepan, Kayanna akan selalu berinovasi produk sesuai dengan permintaan pasar. Penjualan secara online juga akan semakin diperkuat melalui kerjasama dengan beberapa link. Kayanna juga akan punya apps sendiri sebagai pengganti brosur dan katalog. Dan tentunya harus dibarengi dengan pembayaran non tunai baik itu OVO, SAKUKU, DANA, ataupun membuat Barcode pembayaran khusus.

Untuk tamu yang datang, Ellen mengatakan akan ada pembatasan karena sterilisasi ruangan. “Dari kapasitas yang 250 orang tamu, untuk pembatasan kita hanya menyediakan 20-30 orang, itupun melalui reservasi terlebih dahulu. Yang biasanya ruang VIP dengan kapasitas 15-20 orang akan kita batasi menjadi 5-7 orang. Itu kita lakukan sebagai upaya mendukung program Pemerintah terkait protokol kesehatan,” pungkas Ellen Sulistyo. (BNW)

Comments are closed.