TIDAK ADA CORONA DI MADURA
Firman Syah Ali

Oleh : Firman Syah Ali

NAWACITAPOST – Ungkapan “Tidak ada corona di Madura” tentu saja sebuah satire, karena sebetulnya jumlah kasus positif terinfeksi Covid-19 terkini di telatah Madura adalah 35 orang dengan rincian Bangkalan 20 orang, Pamekasan 10 orang dan Sumenep 5 orang, sedangkan Sampang hingga detik ini masih belum ada kasus positif Covid-19. Jumlah ini memang lebih sedikit daripada jumlah korban wabah difteri tahun 2017 silam, namun kita tetap harus extra waspada karena penularan Covid-19 terbilang sangat cepat dan obat pembasmi Covid-19 juga belum ditemukan.

Saya terpaksa menulis judul “Tidak ada corona di Madura” karena kehidupan masyarakat Madura sehari-hari berlangsung normal seperti era sebelum pandemi. Saya melihat pasar-pasar tradisional masih penuh sesak dengan pengunjung, nyaris tidak ada satupun pengunjung yang mengenakan masker, apalagi hand sanitizer. Masjid-masjid saya lihat juga masih sesak dengan jamaah sholat jum’at dan sholat tarawih. Acara tahlilan orang meninggal dunia juga masih berlangsung normal, demikian juga acara haul masayikh, ziarah makam wali, ngabuburit bahkan trek-trekan sepeda motor setiap malam minggu.

Saya sering melakukan perjalanan surabaya-pamekasan karena terkait dengan tugas saya sebagai salah satu penyelenggara negara, saya saksikan dengan mata kepala sendiri perbedaan kontras antara Surabaya dengan Madura dalam menyikapi dan menghadapi Covid-19, tentu saja Surabaya yang saya maksud bukan Surabaya Utara, sebab suasana Surabaya Utara dalam masa pandemi ini tidak jauh berbeda dengan suasana di tanah nenek moyang mereka yaitu Madura.

Beberapa rakyat kecil yang saya temui rata-rata berkomentar sebagai berikut :

1. Kata Kyai saya tidak ada corona kok;
2. Corona ini hanya ada di TV dan di fesbuk;
3. Corona ini hanya akal-akalan pemerintah, sebenarnya tidak ada;
4. Ini semua hanya sandiwara, orang mati kencing manis disebut mati corona, orang mati darah tinggi disebut mati corona;
5. Ini rekayasa orang Kristen dan orang PKI agar umat islam meninggalkan masjid;
6. Semua apa kata Allah, kalau ajal kita sekarang ya mati sekarang, kalau ajal kita belum sekarang maka corona tidak masuk;
7. Jangan ikut-ikutan kaum tipis ikan kamu mas firman, buat apa pakai masker?
8. Wah saya nggak ngurus pernyataan PBNU, MUI dan Muhammadiyah mas, saya hanya ikut kyai saya;
9. Corona hilang dengan bismillah dan sholawat mas;
10. Mulut ditutup masker itu tidak penting mas, yang penting adalah mulut tidak suka menghina nabi dan menghina ulama;
11. Hahaha kok pakai masker kamu mang, tidak percaya Allah ya, masuk PKI saja.

Baca juga :  Layanan Eazy Passport Dalam Rangka Festival Bapak Bangsa di Pos Bloc

Itulah 11 jawaban yang saya ingat dari beberapa puluh rakyat kecil madura yang sempat saya mintai testimoni kenapa kok tetap beraktivitas normal di dalam badai pandemi. Tentu saja yang sempat saya mintai pendapat ini hanya masyarakat Bangkalan, Sampang dan Pamekasan, sebab itu jalur saya sehari-hari, kalau dengan masyarakat Sumenep saya belum pernah komunikasi karena saya memang tidak pernah ke Sumenep selama era pandemi ini.

Saya menganalisa besar sekali pengaruh prinsip “Bapak Ebuh Guruh Ratoh” dalam kehidupan masyarakat madura termasuk di era kedaruratan kesehatan saat ini. Masyarakat Madura pertama kali patuh kepada kedua Bapak Ebuh (Kedua Orang Tua), kemudian kepada Guruh (Kyai/Lora/Nyai/Ning) dan terakhir kepada Ratoh (Raja/Presiden/Kepala Daerah). Jadi berdasarkan pepatah kuno Madura tersebut, kepatuhan terhadap Raja jauh berada di bawah kepatuhan terhadap Kyai. Dalam konteks sekarang, kepatuhan terhadap Pemerintah RI dan Pemerintah Daerah 4 Kabupaten berada di bawah kepatuhan terhadap Kyai.

Mohon maaf para guru SD, SMP, SMA dan dosen Perguruan tinggi di Madura tidak termasuk ke dalam kategori “Guru” yang dimaksud dalam pepatah di atas. Guru yang diangkat oleh pemerintah dan bekerja untuk pemerintah dianggap sebagai bagian dari Ratoh (Pemerintah).

Jadi kalau kyai-kyai kampungnya masih ngajak tahlilan offline, sholawatan offline, jum’atan, tarawih berjamaah, haul offline dan sebagainya maka masyarakat madura akan tetap lakukan itu.

Jika kyai-kyai kampung tidak melarang masyarakat berangkat ke pasar zonder protection, ya mereka tetap akan berbondong-bondong ke pasar tanpa proteksi apapun.

Silahkan pemerintah mau ngomong apa, silahkan TV mau menayangkan apa, silahkan koran mau menulis apa, masyarakat madura yang saya temui tidak ngurus itu semua.

Prototipe orang madura memang seringkali menentang arus utama alias cenderung anti mainstream, contoh :

Baca juga :  Komunisme Bukan Satu-Satunya Hantu di Indonesia

1. Saat masyarakat se-dunia takut kepada tentara Mongol, pasukan Madura di bawah pimpinan Arya Wiraraja malah membantai pasukan Mongol di Surabaya;

2. Saat masyarakat Indonesia takut kepada ABRI dan Golkar selama era Orde Baru, masyarakat Madura tetap melawan arus dengan cara mendukung PPP;

3. Saat masyarakat Indonesia mayoritas mendukung Jokowi dalam dua kali pilpres, masyarakat Madura tanpa ragu tetap mayoritas memilih Prabowo;

4. Saat masyarakat Indonesia mulai takut dengan UU ITE, juga takut dengan penangkapan beberapa pengguna facebook oleh pemerintah, akun facebook orang-orang Madura tetap saja menulis banyak hal berbahaya sebagaimana biasa mereka tulis sebelum era penangkapan-penangkapan itu.

Menghadapi masyarakat yang selalu berani bersikap anti mainstream ini tentu tidak mudah, mengandalkan aparatur pemerintahan saja tidak cukup. Menghadapi grass root Madura tidak cukup dengan hujan dalil sebagai berikut :

أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Mereka tidak ikut dalil, mereka ikut kyainya masing-masing.

Oleh karena itu, penanganan Covid-19 di Pulau Madura hendaknya mengedepankan peran Kyai dan Bu Nyai, penyelenggara negara cukup tut wuri handayani, insya Allah ini jauh lebih efektif.

*) Penulis adalah Pengurus Harian LP Ma’arif NU Jawa Timur/ Bendahara Umum IKA PMII Jawa Timur/ BPO HKTI Jawa Timur/ Ketua Pengurus Koordinatoriat Sahabat Mahfud Jawa Timur

(BNW)

Comments are closed.