Pakar Farmasi Menyarankan Beli Produk Hand Sanitizer yang Berijin Kemenkes

0
88
Pakar Farmasi Menyarankan Beli Produk Hand Sanitizer yang Berijin Kemenkes
Gambar : Dr. Retno Sari, MSc., Apt. (Foto : Istimewa)

Surabaya NAWACITAPOST – Pakar farmasi Universitas Airlangga Surabaya menyarankan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih produk hand sanitizer atau pembersih tangan yang kini dipasaran. Diharapkan masyarakat memilih produk yang sudah mempunyai ijin Kementerian Kesehatan.

Dr. Retno Sari, MSc., Apt, ahli farmasi Unair menjelaskan produk hand sanitizer itu sendiri merupakan produk yang masuk dalam kelompok perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT). Kebijakan terkait ijin edar PKRT mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No.1190/Menkes/Per/VIII/2010 tentang izin Edar Alat Kesehatan dan PKRT.

“PKRT merupakan alat, bahan atau campuran untuk pemeliharaan dan perawatan kesehatan manusia, yang ditujukan untuk penggunaan di rumah tangga atau fasilitas umum,” jelas Retno,Rabu (1/04).

Salah satu ciri produk telah mendapatkan ijin edar adalah terdapat tulisan nomor ijin edar dari kemenkes. Sayangnya, masih ada kemungkinan para oknum memalsukan dan/atau meniru nomor ijin edar yang disertakan pada kemasan.

Untuk itu, salah satu upaya yang bisa dilakukan masyarakat adalah berhati-hati dalam membeli produk. Dan membeli produk, khususnya produk kesehatan seperti hand sanitizer di tempat yang jelas, di toko-toko resmi seperti apotik.

Apabila terpaksa membeli di e-commerce maka harus pandai-pandai melihat review produk yang akan dibeli. Sebab, banyak pedagang yang menjual produk baik tapi juga ada yang menjual produk tidak berkualitas bahkan penipuan. “Untuk itu, masyarakat diharapkan dapat berhati-hati memilih dan membeli produk. Cermati tulisan tentang komposisi dan ijin edar yang tertera pada label,” pungkas Retno.

Pandemi Covid-19 telah membuat beberapa produk sanitasi dan kesehatan menjadi langka di pasaran. Masker bedah dan hand sanitizer merupakan dua produk yang begitu cepat habis.

Informasi terkait cara membuat hand sanitizer banyak disebar di media masa. Beberapa oknum justru memanfaatkan situasi dan kondisi tersebut untuk menggali keuntungan yang tidak wajar, dengan menjual produk hand sanitizer yang tidak dapat dipercaya kualitasnya. (*)