Jumat, 5 Juni 2026

Direktur MTM Sesalkan Pernyataan Kadis Pendidikan yang Melegalkan Pungutan di Sekolah

Photo Author
Admin 1, Nawacita Post
- Senin, 10 Februari 2020 | 08:47 WIB
Bandar Lampung, NAWACITA - Kicauan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung Zulfakar yang mengatakan melegalkan segala bentuk pungutan di Sekolah, menimbulkan polemik dan kontroversi di kalangan masyarakat dan pemerhati yang selama ini menyoroti dunia pendidikan di Lampung.

Melansir pemberitaan (8/2/20) yang menyebutkan pihaknya (Zulfakar) memperbolehkan semua pungutan, bantuan dan sumbangan yang berada di sekolah setingkat SMA dan SMK. Zulfakar mengatakan telah mengadakan pertemuan dengan Polda dan Kajati untuk melegalkan pungutan dari peserta didik, dengan alasan pendanaan yang bersumber dari APBD, bosda dan Bosnas tidak mencukupi membiayai sekolah. Dan tentunya ini tergantung mekanisme yang tertuang dalam PP No. 48/ 2008 tentang pendanaan pendidikan, permen. Pendidikan dan kebudayaan no. 75 /2016, komite sekolah dan surat edaran dari kementerian pendidikan tahun 2017, katanya.
Baca Juga: Harga BBM Turun, Masyarakat Tetap Pilih Gunakan Premium

Ashari Hermansyah, Dewan Direktur Masyarakat Transparansi Merdeka (MTM) sangat menyayangkan ucapan Zulfakar yang kemudian menimbulkan preseden buruk di sektor pendidikan.

"Seharusnya beliau menelaah isi materi peraturan tersebut. Mana pungutan, mana sumbangan dan bantuan", ucap Ashari. (Senin, 10/02/2020).

"Kalau mengacu kepada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 tahun 2008 Tentang Pendanaan pendidikan, Pasal 52. Huruf (e). tidak dipungut dari peserta didik atau orang yang tidak mampu secara ekonomis. Pasal 55 ayat (1), Peserta didik atau orang tua/walinya dapat memberikan sumbangan pendidikan yang sama sekali tidak mengikat kepada satuan pendidikan secara sukarela di luar yang telah diatur dalam pasal 52; ayat 2 Penerimaan, penyimpanan, dan penggunaan sumbangan pendidikan yang bersumber dari peserta didik atau orang tua/walinya, diaudit oleh akuntan publik, diumumkan secara transparan di media cetak berskala nasional, dan dilaporkan kepada Menteri apabila jumlahnya lebih besar dari jumlah tertentu yang ditetapkan oleh Menteri", jelas Ashari.
Baca Juga: Masyarakat Lampung Butuh Tempat Tinggal Murah

Ashari Hermansyah juga mempertegas bahwa pada Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik indonesia Nomor 75 tahun 2016 Tentang Komite sekolah Pasal 1 ayat (3) Bantuan Pendidikan, yang selanjutnya disebut dengan Bantuan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh pemangku kepentingan satuan pendidikan di luar peserta didik atau orangtua/walinya, dengan syarat yang disepakati para pihak.

Ayat (4) Pungutan Pendidikan, yang selanjutnya disebut dengan Pungutan adalah penarikan uang oleh Sekolah kepada peserta didik, orangtua/walinya yang bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktu pemungutannya ditentukan.

Ayat (5) Sumbangan Pendidikan, yang selanjutnya disebut dengan Sumbangan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh peserta didik, orangtua/walinya baik perseorangan maupun bersama-sama, masyarakat atau lembaga secara sukarela, dan tidak mengikat satuan pendidikan.

Pasal 12
Komite Sekolah, baik perseorangan maupun kolektif dilarang: huruf (b) melakukan pungutan dari peserta didik atau orangtua/walinya;

Selain itu terdapat Peraturan Presiden RI nomor : 87 tahun 2016 tentang satuan tugas sapu bersih pungutan liar, tutup Ashari.

Editor: Admin 1

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini