Papua Siap Menerapkan Ekonomi  Hijau

0
155

Papua,NAWACITA-Peresmian Jembatan Youtefa membuka begitu banyak peluang bagi masyarakat di Tanah Papua. Selain sebagai akses ke cikal bakal kawasan ekonomi setempat, jembatan yang terbentang sepanjang 11,6 km tersebut juga akan menjadi sarana penghubung ke Kawasan Koya, sebagai lokasi penyelenggaraan sejumlah cabang olah raga dalam Pekan Olahraga Nasional (PON), pada 2020 mendatang. Ini menjadi momentum penting yang akan membuka mata masyarakat Indonesia terhadap besarnya potensi pembangunan di Tanah Papua.

Selain pembangunan infrastruktur yang terus berjalan, Papua dan Papua Barat memiliki perencanaan pembangunan masyarakat secara jangka panjang melalui visi “Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera” dan “Menuju Papua Barat yang Aman, Sejahtera, dan Bermanfaat” yang menjadi harapan dan semangat masyarakat untuk mencapai aspirasi ini.

Freddy Molle, Kepala Bidang Ekonomi, Bappeda Provinsi Papua menyatakan, “Visi itulah yang kami terjemahkan menjadi prinsip dan strategi pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang inklusif, integratif, dan berbasis data, menjadi pilar utama dalam strategi pembangunan berkelanjutan yang disesuaikan dengan konteks dan kearifan lokal Papua.”

Prinsip pembangunan berkelanjutan ini pula yang dijadikan panduan untuk menciptakan instrumen-instrumen kebijakan pendukung lainnya, yaitu Green Growth Plan (GGP), Green Economic Growth (GEG), Perencanaan Pembangunan Rendah Karbon (PPRK), dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Visi Papua 2100, dan Green Investment Blueprint for Papua (GIBP).

Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) yang ikut terlibat sebagai pendamping teknis penyusunan GIBP menyatakan optimismenya terhadap investasi hijau dan potensi bagi Papua untuk masuk ke dalam rantai pasok lestari. Fitrian Ardiansyah, Ketua Pengurus Yayasan IDH menjelaskan bahwa GIBP nantinya akan menjadi pedoman bagi produksi dan praktik dagang berkelanjutan yang dapat mengubah pasar dan investasi, sehingga bermanfaat bagi masyarakat dan bumi.

Sebaliknya, Fitrian mengingatkan sejumlah hal yang perlu disiapkan secara sungguh-sungguh. “Misalnya membangun sistem agribisnis yang sesuai dengan daya dukung lingkungan dan budaya/adat, sehingga perlu ada pendidikan kewirausahaan dan keterampilan. Selain itu, perlu dibangun model bisnis yang sesuai, yang bertumpu pada pemberdayaan generasi muda dan pemanfaatan teknologi,” ujarnya.

Potensi pengembangan profesi hijau sebagai peluang lapangan kerja yang inklusif pun kini terbuka luas, mulai dari agribisnis, ekowisata, logistik, industri kreatif, hingga teknologi dan energi. “Papua dapat mengoptimalkan potensi yang ada dengan mengedepankan prinsip hijau tersebut. Pendampingan dari pemerintah dan pihak swasta perlu terus dilakukan. Pemuda Papua harus segera bersiap untuk mengambil peran nyata dalam mengisi profesi hijau tersebut, agar dapat  memberikan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan bagi Tanah Papua sejak awal,” pungkas Fitrian.