Pentingnya Pembentukan KPPU Untuk Mengatasi Potensi Konflik Peternak Ayam di Gunungsitoli

2
135
Saat ini kelompok peternak ayam mandiri, tumbuh dan berkembang pesat di Kota Gunungsitoli. Lebih dari 50 an Peternak Mandiri yang saat ini terus berusaha untuk meningkatkan kualitas mapun kuantitas produksinya
Pentingnya Pembentukan KPPU Untuk Mengatasi Potensi Konflik Peternak Ayam di Gunungsitoli
Gunungsitoli, NAWACITA – Saat ini kelompok peternak ayam mandiri, tumbuh dan berkembang pesat di Kota Gunungsitoli. Lebih dari 50 an Peternak Mandiri yang saat ini terus berusaha untuk meningkatkan kualitas mapun kuantitas produksinya di era perdagangan yang semakin bersaing ketat. Berdasarkan data yang dimiliki oleh para kelompok peternak mandiri, saat ini pengelolaan peternakan ayam khususnya broiler masih tradisional dan bertaraf keluarga.
Walau demikian, para peternak mandiri ini memiliki tantangan tersendiri dan memunculkan potensi konflik persaingan usaha. Salah satu peternak mandiri Karyanto Larosa yang mengungkapkan kepada Tim Nawacita usai bertemu dengan Kepala Dinas Pertanian Kota Gunungsitoli “saat ini biaya produksi yang sangat tinggi, masuknya ayam dari luar Pulau Nias dan minimnnya perhatian dari pemerintah daerah kepada peternak  mandiri menjadi tantangan tersendiri bagi  kami dalam menjawab persaingan usaha”.
Berdasarkan pemaparan peternak lainnya, Pak Chandra Harefa menambahkan bahwa “untuk memelihara ayam jenis broiler sampai pada berat badan 1,8 Kg di butuhkan modal sebesar di atas dua puluh ribu rupiah”.
Dalam pertemuan antara perwakilan peternak ayam mandiri dengan Kepala Dinas Pertanian Kota Gunungsitoli, Rabu 13 November 2019 di Kantor Dinas Pertanian Kota Gunungsitoli, Kepala Dinas Elemonuku Telaumbanua mengungkapkan bahwa “saat ini sesuai dengan tupoksi dan tanggaungjawab kami dalam hal memastikan peredaran ayam pedaging dalam keadaan sehat dan telah memenuhi syarat distribusi sesuai dengan peraturan dan perundang – undangan yang berlaku. Kabid Peternakan dan jajarannya telah ditugaskan untuk melakukan pengujian kelayakan distribusi ayam pedaging baikbyang berasal dari luar Pulau Nias maupun dari Peternak Ayam Mandiri di Kota Gunungsitoli” ungkapnya.
Ayam pedaging (dalam keadaan hidup) dari Pulau Nias di distribusi melalui uji kelayakan dan memiliki sertifikat dari karantina Pelabuhan Sibolga. “Sehubungan dengan penentuan harga di tingkat penjualan, Dinas Pertanian tidak memiliki kewenangan untuk bisa mempengaruhinya” Ujar Elemonuku Telaumbanua.
Dalam diskusi lahir ide dan gagasan yang mana dirasakan pentingnya pembentukan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) di tingkat Kab/Kota yang merupakan lembaga pemerintah dengan tanggungjawab untuk mengawasi usaha. KPPU inilah yang akan mensosialisasikan implementasi peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 10 Tahun 2015 tentang cara pengawasan pelaksanaan kemintraan.
Alexius Telaumbanua (Nawacitapost, GUnungsitoli)

Comments are closed.