Kampung Mandi Angin di Kabupaten Siak Menuju Pustaka Online e-library

0
218
Meski berada jauh dari ibu Kota Kecamatan, Kampung Mandi Angin tak mau tertinggal dengan kampung lain yang ada di Kabupaten Siak.
Kampung Mandi Angin di Kabupaten Siak Menuju Pustaka Online e-library

Siak, NAWACITA -Meski berada jauh dari ibu Kota Kecamatan, Kampung Mandi Angin tak mau tertinggal dengan kampung lain yang ada di Kabupaten Siak.

Dibawah kepemimpinan Martinus, Penghulu Mandi Angin banyak prestasi yang diukir. Diantaranya Kampung Mandi Angin ditetapkan sebagai Desa Binaan, Kolaborasi Program peningkatan SDM yang bekerjasama dengan Sinarmas dan Universitas Islam Negeri (UIN).

Baca Juga: Rumah Sakit Tipe D di Tualang, Menolak Pasien yang Melakukan Visum

Bentuk kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut, diantaranya peningkatan ekonomi kerakyatan serta pelatihan pembuatan pupuk kompos bagi warganya.

“Alhamdulillah, kami mendapat perhatian dari Sinarmas dan UIN dalam program peningkatan Sumberdaya manusia (SDM) masyarakat. Kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan, warga kami banyak mendapat hal baru,”ungkap Martinus saat di hubungi melalui telepon selulernya, Senin, (04/11/2019).

Suasana Belajar di Perpustakaan Mandi Angin

Tidak sampai di situ, kampungnya juga berhasil mendapat penghargaan sebagai Perpustakaan Desa (perpusdes) terbaik tingkat kabupaten Siak, sebagai desa yang mampu berinovasi. Atas kreatifitasnya bersama masyarakat, Perpustakaan Desa (perpusdes) di bawah asuhannya mendapat bantuan 3 judul buku dan enam unit komputer bantuan dari Sinarmas dan Perpustakaan Nasional, beberapa waktu lalu di Jakarta.

“Ruang perpustakaan di tempat kami, tidak hanya berfungsi sebagai ruang membaca, namun juga kami manfaatkan bagi warga terutama ibu-ibu untuk belajar dasar-dasar mengoperasikan komputer,”ungkapnya.

Ia juga mengatakan, masyarakat sangat antusias dengan hadirnya perpustakan ini. Dan harapannya jika jaringan internet tersambung, ia akan menerapkan Pustaka online e-library sehingga masyarakat tak perlu datang ke ruang pustaka cukup membukanya melalui aplikasi e-library di smartphone.

“Kita juga sudah melakukan kerjasama dengan sekolah setingkat SMP, kemudian kita ajarkan siswa tersebut bagaimana mengoperasikan komputer. Tujuannya adalah untuk persiapan mereka dalam menghadapi ujian berbasis komputer”, terangnya.

Baca Juga: William Aditya, Politisi Milenial yang Tidak Kenal Takut

Ia juga menceritakan kondisi akses jalan menuju kampungnya. Kalau panas berdebu kalau hujan jalan becek. Kemudian saat ini belum tersedia jaringan internet. Saat ini akses internet di ruang perpustakan mengunakan paket internet dari smart phone. Tentu pemakaiannya terbatas.

“Inilah yang menjadi kendala kami. Kami ingin menerapkan pustaka online, namun jaringan internet belum tersedia di kampung kami. Saya sudah berusaha menanyakan dengan sub kontrak Telkomsel Mitrasel, mereka mau memasangkan alatdenga biaya pertahunnya Rp 45 juta. Tentu kita tidak sanggup,”Keluhnya.

Menurut Martinus, perpustakaan ini bukan untuk dikomersilkan. Ini murni untuk kepentingan masyarakat. Terutama untuk membantu anak sekolah dalam proses kegiatan belajar dan mengajar serta bagaimana industri rumah tangga memasrakan produk melalui online.

“Saya berharap smart kampung yang akan diterapkan Pak Bupati segera terwujud. karena sangat dirasakan manfaatnya, seperti kampung kami yang letaknya jauh dari Ibu kota kecamatan. Dengan Aplikasi semua dapat dipermudah, pelayanan administrasi mudah dan data pendudukpun terintegrasi”, tutupnya.

Sokhiaro Halawa  (Nawacitapost, Kabupaten Siak)