6 Developer Sepakat Bentuk Komite Koridor Timur Jakarta

0
136

Jakarta, NAWACITA-Enam pengembang ternama yang banyak mengerjakan proyek di Timur Jakarta sepakat membentuk Komite Koridor Timur Jakarta. Keenam pengembang itu adalah PT Summarecon Agung Tbk, PT Jababeka Tbk. Juga PT Lippo Cikarang Tbk, PT Sirius Surya Sentosa, PT Pollux Properti Indonesia Tbk, serta PT PP properti Tbk.

Keenam pengembang tersebut sepakat bersinergi. Mereka menyampaikan berbagai kelebihan atau nilai plus di koridor yang meliputi Bekasi, Cikarang, dan Karawang itu. Mereka menyatakan bahwa lebih dari 60 persen aktivitas perekonomian nasional disumbangkan oleh Koridor Timur Jakarta. 70 persennya berpusat di Bekasi dan Cikarang.

Saat ini koridor tersebut menjadi jantung penting bagi perekonomian Indonesia. Pada 2018 lalu mencapai Rp14,8 triliun berdasarkan data Produk Domestik Bruto (PDB.  Tumbuh 5,17 persen lebih tinggi dari capaian 2017. Berbagai pengembang properti juga menyumbang banyak pemenuhan kebutuhan di pasar di koridor tersebut.

Summarecon Bekasi tercatat seluas 240 hektar, Pollux Properti Indonesia seluas 45 hektar, PP Properti seluas 28 hektar, Vasanta Innopark seluas 100 hektar, Lippo Cikarang seluas 3400 hektar, serta Jababeka seluas 5600 hektar.

Direktur PT Jababeka Tbk, Sutedja S. Darmono, mengatakan pembentukan komite itu berawal dari tukar pikiran antara sesama pengembang di wilayah timur Jakarta, terutama permasalahan yang sama mengenai image kawasan koridor timur Jakarta, yakni kemacetan dan kawasan industri. Padahal, menurut Sutedja, image itu tidak tepat.

“Sebab, macet itu kan lebih dikarenakan adanya pembangunan infrastruktur dan ke depannya kemacetan itu akan berakhir seiring selesainya pembangunan infratruktur itu sendiri. Di awal 2020 nanti koridor ini diprediksi akan lancar seiring beroperasinya sejumlah infrastruktur transportasi di kawasan ini yang diprediksi efektif untuk mengurangi kemacetan hingga 40 persen,” ujar Sutedja usai jumpa pers pembentukan komite tersebut, Selasa (1/10/2019).

Saat ini akan ada 10 infrastruktur baru yang dibangun di koridor ini, yaitu Elevated Toll Road, kereta api double double track, LRT, MRT, kereta cepat Jakarta-Bandung, Cikampek Layang, JORR 2, Jalur Cikampek Selatan, Kereta cepat Jakarta – Surabaya, Pelabuhan Patimban serta Bandara Kertajadi.

“Semua infrastruktur itu sudah cukup lengkap dan tidak ada di wilayah barat Jakarta. Untuk itu, ke depannya komite ini akan bekerjasama untuk membangun bersama. Misalnya, melakukan pemasaran atau kampanye bersama untuk mendobrak image negatif yang selama ini telah berkembang di masyarakat, yaitu kemacetan dan kawasan industri. Dari sini baru nantinya kita akan bergerak ke hal lain, misalnya, pembangunan infrastruktur bersama dan lain-lain,” papar Sutedja.

Saat ini, dengan luas mencapai 10.000 hektar, kawasan Koridor Timur Jakarta tumbuh menjadi aset properti yang di dalamnya sudah dilengkapi dengan pusat bisnis, gaya hidup, destinasi hunian, pusat industri, dan pusat lapangan pekerjaan. Kawasan industri ini mampu menyerap jutaan tenaga kerja.

Lebih dari 50.000 industri dari setidaknya 30 negara, Fasilitas kesehatan dan sekolah di kawasan ini pun sudah semakin mudah dijumpai. Bahkan, urusan mencari hotel bintang 3 hingga bintang 5 juga bukan persoalan sulit.

“Koridor Timur Jakarta ke depannya akan menjadi koridor yang sangat penting, karena nantinya akan saling terintegrasi hingga ke Jawa Timur melalui pembangunan infrastrukturnya yang masif,” timpal Albert Luhur, Direktur Eksekutif PT Summarecon Agung Tbk.

Dia tak memungkiri, bahwa pada awalnya koridor ini lebih dulu dikenal sebagai kawasan industri. Namun, beberapa tahun kemudian kawasan residensial di sini justru terus berkembang.

“Apalagi, dari sisi harga wilayah timur Jakarta masih cukup affordable dibandingkan wilayah lainnya. Karena itu, Timur Jakarta bisa menjadi opsi investasi yang lebih baik untuk saat ini. Ke depan orang tidak akan lagi bicara soal jarak tempuh, tapi waktu tempuh, terutama setelah berbagai moda transportasi dibangun pemerintah di sini,” ujar Albert.

Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch, yang juga hadir pada acara itu ikut menimpali. Menurut dia, dilihat dengan kacamata properti, koridor Timur Jakarta memang relatif agak tertinggal dibandingkan wilayah barat Jakarta. Namun, itu dulu, sebelum adanya pembangunan infrastruktur yang masif di koridor ini.

“Karena itu, secara keseluruhan koridor ini harus di-branding atau disosialisasikan, karena sangat banyak kelebihan yang dapat dipaparkan. Dari segi geografis, koridor ini punya pintu gerbang yang jadi penghubung Jakarta ke berbagai kota besar di Jawa,” kata Ali.