Empat Fakta Desa Bawomataluo Milik Suku Nias

3
266
Empat Fakta Desa Bawomataluo Milik Suku Nias

Nias Selatan, NAWACITA – Desa Bawomataluo merupakan sebuah desa di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Desa ini terdiri dari 9 dusun. Seperti desa-desa di daerah lainnya, Bawomataluo memiliki daya tarik dan keunikan yang tidak ada di desa lain. Apa saja keunikan Desa Bawomataluo? Mari kita simak bersama.

1. Hombo Batu yang tersohor
Tradisi Lompat Batu alias Hombo Batu merupakan ikon Desa Bawomataluo. Tradisi ini sudah ada sejak zaman leluhur dulu dan dijadikan sebagai ajang uji mental dan fisik bagi petugas Suku Nias.

Hombo Batu merupakan sebuah batu-batu yang disusun setinggi 2 meter dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm. Pemuda Suku Nias harus punya teknik sendiri untuk melompat dan mendarat. Salah sedikit saja, bisa menyebabkan cedera otot hingga patah tulang. Saking sangat uniknya, Hombo Batu pernah menjadi ilustrasi pada uang Rp 1.000 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada 1992.

2. Desa di atas Bukit Matahari
Desa Bawomataluo ini diperkirakan berdiri pada 1830-1840. Perkampungan ini terletak pada ketinggian 324 mdpl. Untuk bisa tiba di desa ini, kita harus menaiki 77 anak tangga yang berlatar belakang Pantai Sorake dan Teluk Lagundri. Setelah melewati anak tangga, kita melewati jalan yang di sisi kiri dan kanannya ada deretan rumah adat tradisional (Omo Hada).

Desa Bawomataluo secara harfiah artinya “Bukit Matahari”. Keunikan dan keindahan Desa ini pernah diusulkan oleh UNESCO pada 2009 dan 2012 silam. Desa Bawomataluo ini kemudian dianugerahi sebagai salah satu Wonder of The World from Indonesia oleh The Real Wonder of The World Foundation.

3. Omo Hada, Omo Sebua dan Omo Bale
Keunikan Desa Bawimataluo berasal dari rumah adat yang sangat unik bernama Omo Hada. Di desa ini, terdapat setidaknya 147 Omo Hada yang masih utuh sejak dibangun ratusan tahun yang lalu. Ada juga Omo Sebua (rumah adat besar/rumah raja) yang berada di Kecamatan Fanayama. Terakhir, ada Omo Bale (Balai Desa) yang sering digunakan untuk berkumpul.

Konon, untuk membangun sebuah Oma Sebua, dibutuhkan waktu selama empat tahun dengan mempekerjakan 40 pekerja ahli. Selama empat tahun itu, setiap harinya dua ekor babi disediakan untuk makan para pekerja. Puncaknya akan dipotong 300 ekor babi setelah Oma Sebua dibangun. Seluruh taring babi akan digunakan dekorasi di dalam Omo Hada.

4. Rumah ramah lingkungan
Keunikan rumah adat di Nias terletak pada sistem pembangunan yang sangat ramah lingkungan. Penerangan rumah memanfaatkan cahaya matahari yang berasal dari atap. Kisi-kisi jendela serta ruang pada bagian atap mampu menciptakan udara sejuk ke dalam rumah.

Setiap rumah juga tanpa menggunakan paku dan tali. Bangunan hanya disanggah dengan kayu besi yang menyanggah atap rumah. Meski begitu, rumah Suku Nias sangat kuat dan mampu bertahan dari gempa meski sudah berdiri ratusan tahun yang lalu.

Comments are closed.