Aliansi Mahasiswa Peduli Danau Toba: “Wisata Halal” Berpotensi Memecah-belah Masyarakat

0
354
Aliansi Mahasiswa Peduli Danau Toba: “Wisata Halal” Berpotensi Memecah-belah Masyarakat
Aliansi Mahasiswa Peduli Danau Toba: “Wisata Halal” Berpotensi Memecah-belah Masyarakat

Medan, NAWACITA – Statement Gubernur Sumatera Utara, terkait wisata halal dan non halal di daerah Wisata Danau Toba, mencuatkan kontroversi di antara masyarakat. Aliansi Mahasiswa Peduli Danau Toba mendatangi Kantor Gubernur Sumatra Utara, Jalan Diponegoro Medan, Senin (2/9/2019).

Aliansi Mahasiswa ini menyampaikan aspirasi mereka sebagai generasi melek budaya dan toleransi menyatakan dengan tegas menolak pernyataan ‘ngawur’ Gubernur yang terkesan tidak menghargai budaya setempat.

Konsep wisata halal tersebut menurut Aliansi Mahasiswa Peduli Danau Toba, diyakini berpotensi menganggu kearifan lokal budaya yang selama ini berjalan bagus di Kawasan Danau Toba. Sambil menyampaikan tuntutannya, mereka bernyanyi dan membuat atraksi tari tortor yang diiringi alat musik khas Batak, seperti seruling dan gondang. Mereka juga menyanyikan Lagu O Tano Batak, Sayur Kol dan lainnya secara bersama-sama.

Mereka sempat berupaya memblokade arus lalu lintas Jalan Diponegoro sebagai bentuk kekecewaan setelah mengetahui Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, tidak bisa menerima aksi unjuk rasa mereka.

Kasubbag Antar Lembaga Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut, Salman, menjelaskan Gubsu, Edy Rahmayadi, tidak bisa menemui pengunjuk rasa, karena sedang bertugas di Nias dalam persiapan penyelenggaraan Sail Nias 2019.

Akhirnya mereka berdialog di Pressroom Lantai I Kantor Gubsu. Rico Nainggolan mewakili aliansi mahasiswa, mempertanyakan konsep wisata halal. “Untuk apa wisata halal sementara di sana hal itu sudah berjalan dengan baik. Bukankah wisata halal yang akan dilaksanakan Pemprov Sumut ini bakal mengganggu kebersamaan masyarakat di sana,” sebut Rico.

Terjadi perdebatan panjang dalam pertemuan itu. Aliansi mahasiswa merasa perlu penjelasan arah dan sasaran konsep wisata halal. mahasiswa menyerukan tidak perlu ada konsep wisata halal, karena selain dikhawatirkan mengganggu masyarakat di sana yang mayoritas suku Batak, juga berpotensi memecah belah masyarakat, padahal selama ini tidak ada tamu yang mempersoalkan hal itu di kawasan Danau Toba.

Menurut Salman konsep wisata halal yang dimaksudkan Pemprov Sumut bukan untuk menghilangkan adat dan budaya yang ada di kawasan Danau Toba. Tapi bagaimana di wilayah tersebut disediakan juga fasilitas pendukung bagi wisatawan Muslim. Sebab saat ini kecenderungan tingginya kunjungan wisman Muslim ke kawasan Danau Toba, misalnya dari Malaysia yang hampir menduduki 50% dari total pengunjung setiap tahunnya.

Hal senada juga disampaikan Kabid Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata Sumut, Unggul Sitanggang, yang mengaku putra dari Samosir, menyatakan optimismenya bahwa konsep wisata halal Pemprov Sumut adalah lebih pada tersedianya fasilitas pendukung bagi wisatawan Muslim. Sebab, fasilitas itu harus disiapkan agar memacu kunjungan wisatawan, khususnya wisman dari negara tetangga seperti Malaysia.

“Ini tidak akan menghilangkan adat dan budaya kita sebagai orang Batak. Apalagi sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa babi menjadi bagian tak terpisahkan dalam adat dan budaya kita. Namun kami pastikan bahwa konsep wisata halal ini tidak akan mengganggu, semua aspek adat dan budaya kita tetap berjalan sebagaimana biasa,” ujar Unggul.

Kasubbag Hubungan Antar Lembaga, Salman, menyampaikan apresiasi pihaknya atas masukan dari aliansi mahasiswa itu. “Masukan dan tuntutan dari adek-adek kami sekalian akan kami sampaikan kepada pimpinan,” ujar Salman.