Drs. Firman Harefa, M.Si: “Tikus Kelapa” di Pelabuhan Gunung Sitoli Harus Diberantas

0
1952
Firman Harefa: “Tikus Kelapa” di Pelabuhan Gusit Harus diberantas
Firman Harefa: “Tikus Kelapa” di Pelabuhan Gusit Harus diberantas

Gunungsitoli, NAWACITA – Seminggu yang lalu, ramai dan bahkan viral di medsos mengenai postingan Junita Hasugian tentang kejadian dan perlakuan yang dialaminya tanggal 12 /8/2019 di Pelabuhan Angin Gunungsitoli, terutama tindakan buruh dan para petugas di Pelabuhan yang jauh dari pelayanan yang nyaman dan ramah, justru mereka bertindak seperti preman yang dibiarkan oleh petugas yang ada dipelabuhan.

Saya (Firman Harefa) PNS /ASN pernah mengabdi di Direktorat Jendral Perhubungan Laut Jakarta, dan sempat bertugas di Kesyahbandaran kelas Ii Tanjungpinang Kepulauan Riau dan Kesyahbandaran Kelas I Dumai Riau, sehingga sedikit banyak menahami kondisi yang ada di Pelabuhan. Memang, Pelabuhan tempat mencari makan banyak orang termasuk preman atau istilah saya waktu bertugas “Tikus Kelapa”.  Dan tikus kelapa ini harus segera diberantas jika mau keamanan terjamin.

Jika Kesyahandaran sebagai regulator dan Pelindo sebagai pengelola tidak tegas dalam menertibkan akan hal itu, apalagi membiarkan, maka pelabuhan akan kacau balau seperti dikisahkan oleh orang yang pernah megalami di Pelabuhan Angin Gunungsitoli.

Lalu, bagaimana Pemeritah Daerah, terutama Pemkot Gunungsitoli? Harus diakui bahwa Pemkot tidak memiliki kewenangan di Pelabuhan karena pelabuhan langsung di bawah Pemerintah Pusat. Namun sebagai Kepala Daerah yang harus bertanggung jawab atas kenyamanan dan keamanan masyarakat, maka seharusnya Pemkot punya kewenangan menyelesaikan pemasalahan yang ada di Pelabuhan angin karena sudah masuk dalam wilayahnya, jadi tidak diam apalagi berpangku tangan.

Pada waktu saya di tunjuk sebagai Kepala Dinas Perhubungan Kota Gunungsitoli maka yang pertama saya lakukan adalah membentuk Forum Perhubungan Kota Gunungsitoli, semua unsur Perhubungan waktu itu bergabung didalamnya, melalui Forum inilah saya sampaikan apa keinginan2 daerah yang harus dilalukan didalam pelabuhan.

Saya selalu sampaikan, bahwa saya sangat memahami otoritas kewenangan yang bapak2 miliki dalam mengatur pelabuhan laut atau udara. Dan itu tidak saya ganggu, tapi ketika kepentingan daerah terganggu, termasuk masyarakat tidak aman, nyaman dan lancar melewati dan selama berada dalam pelabuhan, maka saya akan masuk menertibkan untuk kepentingan daerah. Karena di Pelabuhan terlihat wajah daerah.

Dulu sekali 3 bulan saya adakan pertemuan2 membahas berbagai masalah Perhubungan Kota Gunungsitoli termasuk Pelabuhan Laut dan Bandara. Sekarang saya tidak tau apakah masih hidup forum tersebut. Melalui postingan ini, saya sarankan agar Pemkot Gunungsitoli segera ambil langkah meminta pihak pemangku kepentingan di Pelabuhan Angin agar segera menertibkan hal itu, jika diingatkan berkali kali tidak ada perubahan, ya.. ambil sikap tertibkan karena itu masuk wilayah Kota Gunungsitoli.

Selain itu, segera fungsikan Pelabuhan Roro milik Pemkot di Desa Siwalubanua agar penumpang tidak menumpuk dipelabuhan angin dan bisa juga menambah PAD daerah. Mampu…kah…? Semoga Promosi Sail Nias 2019 yang akan menjadi pintu gerbang Pariwata. Dunia ( katanya) tidak tercoreng akan hal hal seperti kejadian ini. Kita tunggu…..!

 

Ditulis oleh Firman Harefa

Editor: Ekarisman

Sumber: https://www.facebook.com/100005903405739/posts/1095689793971124/?sfnsn=mo