Suhu Politik di Nias Selatan, Jelang Pilkada 2020

1
992

Teluk Dalam, NAWACITA – Kontestasi Demokrasi dalam Pilkada serentak tahun 2020, akan digelar kembali dalam beberapa bulan mendatang. Di Nias Selatan, Pilkada selalu memiliki nuansa tersendiri dibanding dengan daerah lain. Hiruk pikuk yang terjadi antar TS di “akar rumput” di daerah, banyak melahirkan “pakar” politik dadakan untuk memperjuangkan calonnya, kata Beesokhi Ndruru, Sekjen FORNISEL saat ditemui dikantornya di Jakarta (31/07/2019)

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kemendagri Bahtiar menjelaskan bahwa pada Pilkada Serentak tahun 2020, ada 270 daerah yang turut serta ikut, yang terdiri dari 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Pilkada Serentak 2020 seharusnya diikuti 269 daerah, namun menjadi 270 karena Pilkada Kota Makassar diulang pelaksanaannya (13/6/19).
Nias Selatan memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan daerah lainnya di Kepulauan Nias, terutama menjelang pilkada. Selain jumlah penduduknya yang jauh lebih banyak dibanding Kota dan Kabupaten lain di Nias, Nisel juga memiliki wilayah geografis yang luas dan keanekaragaman karakter masyarakat di 35 kecamatan yang ada di wilayah pemerintahannya.

Kepemimpinan di Nias Selatan
Dalam 16 tahun terakhir sejak status otonomi daerah diterima dan diresmikan 28 Juli 2003, Nias Selatan sudah 3 kali berganti pucuk kepemimpinan (Tahun 2003-2006/Penjabat dari Provinsi; Tahun 2006-2011/Fahuwusa Laia dan Daniel Duha; Tahun 2011-2016/Idealisman Dachi dan Hukuasa Ndruru dan Tahun 2016-sekarang/Dr. Hilarius Duha dan Sozanolo Ndruru.

Dari ketiga periode kepemimpinan di Kabupaten Nias Selatan sejak mendapat status otonomi, tentu memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda satu sama lain. Pemimpin di periode pertama sudah memulai pembenahan tapi tersandung di akhir pemerintahannya dengan indikasi penyuapan terhadap Saut Hamonangan Sirat (Anggota KPU pusat tahun 2007-2012), dengan memberi uang sejumlah Rp 99,9 juta untuk menganulir keputusan KPUD dalam melenggangkan pencalonannya kembali pada periode berikutnya.

Sementara pada kepemimpinan periode kedua di Nias Selatan, masih segar di ingatan kita bagaimana kasus korupsi pengadaan lahan Balai Benih Induk (BBI) di Nias Selatan senilai Rp 9,9 miliar, yang pada akhirnya menuntun Wakil Bupati Hukuasa Ndruru ke rumah pro deo. Masyarakat Nias Selatan pasti tahu siapa yang mengorbankan dan siapa yang jadi korban pada kasus viral tersebut.

Dan pada kepemimpinan di Periode ketiga yang dinahkodai oleh Dr. Hilarius Duha-Sozanolo Ndruru, terdapat sedikit pergeseran yang signifikan dibidang kredibilitas publik terhadap sosok itu. Apalagi dengan latar belakang sebagai Kasubdit Cyber Crime Polda Metro Jaya (2014-2015) dengan pangkat AKBP, Doktor di bidang Hukum Pidana itu tahu persis bagaimana manajemen kepemimpinan menjadi hal mutlak berhadapan dengan proses pembangunan di Nias Selatan.

Selama kepemimpinan beliau di Nias Selatan (2016-dst), Citra Nias Selatan sudah mulai mendapat perhatian publik, terutama terkait dengan pembangunan di bidang pariwisata, pertanian, infrasturktur dsb. Kegiatan kepariwisataan yang sebelumnya sudah dibekukan oleh Idealisman Dachi dengan menghapus dinas pariwisata dana meleburnya dengan Dinas Tata Kota, kembali menggeliat di masa Hilarius sebagai Bupati dengan berusaha menggenjot pembangunan sarana dan prasarana kepariwisataan sebagai sumber devisa dan pendapatan daerah. Berbagai event pariwisata, mulai dari Nias Pulau Impian, Pesta Ya’ahowu, dan yang paling spektakuler adalah perhelatan Sail Nias 2019 yang perayaan puncaknya dilaksanakan di Teluk dalam, 14 September 2019 mendatang. Tentu ini secara signifikan menarik perhatian publik terhadap kegiatan bertaraf internasional ini di Wilayah Nias Selatan.

Selain itu, akuntabiltas dalam proses audit keuangan daerah, Hilarius Duha menunjukkan komitmen dan kerja kerasnya untuk membenahi sistem yang ada, dan pada akhirnya LKPD Nias Selatan mendapat opini WDP (Wajar Dengan Pengecualian) oleh BPK setelah 15 tahun ‘Disclaimer’.

Sosok baru jelang Pilkada Nias Selatan 2020

Kontestasi dalam pilkada serentak 2020 ini, khususnya di Nias Selatan memantik semangat kaum muda progresif untuk ikut terlibat ambil bagian proses pembangunan Nias Selatan. Berdasarkan keterangan media setempat, muncul nama-nama baru, baik yang selama ini aktif dalam organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, anggota legislatif bahkan ada juga yang masih aktif dalam struktur kepemimpinan saat ini.

Hal ini tentu menjadi sesuatu yang positif. Dimana di tengah kaum muda dan tokoh-tokoh masyarakat Nias Selatan terbersit dan ada kesadaran politik yang baik untuk membangun daerahnya. Menjadi pertanyaan, apakah motif ini sudah cukup menjadi modal untuk “bertarung” dalam memenangkan hati masyarakat Nias Selatan?

Siapakah berpeluang memimpin di tahun 2020

Merunut ke belakang saat pesta demokrasi di daerah Nias Selatan pada Pilkada 2015, kita tahu betapa sengitnya persaingan antara Bupati terpilih saat ini (Dr. Hilarius Duha) dan Incumbet (Idealisman Dachi) dalam mendapatkan simpati masyarakat. Walaupun pada akhirnya, Hilarius bersama Sozanolo Ndruru berhasil memenangkan hati rakyat Nias Selatan.

Tentu, sedikit banyak hal ini membenarkan slogan bahwa di Nias Selatan Calon dari Petahana (incumbet) tidak memiliki kemungkinan untuk terpilih kedua kalinya. Hal ini tentu sah-sah saja untuk dikatakan sejauh kinerja pemerintah sebelumnya tidak berpihak pada kepentingan masyarakat. Namun, jika indikasi keberpihakan itu tetap ada pada sosok petahana yang akan mencalonkan diri pada periode berikutnya, maka masyarakat juga tidak buta dalam menentukan pilihan.

Menurut pendapat beberapa tokoh masyarakat Nias Selatan, ketika dikonfirmasi menyangkut sosok yang akan tampil serta representatif dalam pilkada 2020 di Nias Selatan, mereka menegaskan ada kemungkinan dua Calon yang paling berpeluang yakni Dr. Hilarius Duha vs Idealisman Dachi. Hal ini seolah mengulang dan bernostalgia kembali pada momen ‘tegang’ yang terjadi pada tahun 2015.

Penegasan pendapat tersebut bukan tanpa alasan, Hilarius Duha yang saat ini sebagai incumbet dengan kinerja yang sudah dilihat oleh publik, diuntungkan dengan beliau didukung sepenuhnya oleh Partai PDI Perjuangan beserta Partai Nasionalis lainnya. Hal ini bisa dilihat bahwa dalam konfercab DPC PDI Perjuangan Kepulauan Nias (13/07/2019), beliau terpilih menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan kabupaten Nias Selatan.

Tentu, disisi lain sosok Idealisman Dachi masih memiliki basis militan ditengah masyarakat Nias Selatan, apalagi dengan kebijakan ‘jitu’ nya dalam membuat sekolah “gratis”. Ingat, itu tanda kutip.

Terlepas bahwa kedua calon tersebut di atas, memiliki kelebihan dan kekurangan di beberapa aspek dalam menjalankan roda pemerintahan, tentu masyarakat Nias Selatan sudah tahu mana yang terbaik. Ya’ahowu

Comments are closed.