Terlibat Jaringan Narkoba, Polisi Grebek Rumah Ketua RT

1
114

Samarinda, NAWACITA- Polisi menggerebek rumah Ketua RT 13, Ipan Gajali, di Jalan Bung Tomo, Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang. Begini kronologisnya.

Keluarga Ipan Gajali baru saja selesai menggelar acara selamatan, Minggu malam (7/7) lalu pukul 22.30 Wita. Istrinya, Aas Amelia dan beberapa anak serta keponakannya masih terjaga.

Sementara Ipan memilih istirahat di kamar tidur yang ada di belakang rumahnya. Tiga menit berlalu mendadak tidur Ipan yang belum begitu pulas terusik dengan suara gaduh di dalam rumahnya. Dia menyangka terjadi kebakaran. Ipan pun bergegas bangun dan keluar kamar.

Dia terkejut karena di dapur rumahnya tak jauh dari kamar tidurnya ada beberapa pria tak dikenalnya. Pria itu terlibat cekcok mulut dengan pria lain yang bersembunyi di kamar mandi.

Belakangan Ipan tahu pria tak dikenal itu adalah polisi. Sedangkan yang bersembunyi itu ialah Radaliansyah alias Ancah (35), bukan warga setempat.

Ancah tewas dalam penggerebekan yang dilakukan polisi dari Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polresta Samarinda. Motoris speed boat itu meregang nyawa karena diberondong peluru dari pistol polisi.

Ancar mengalami luka di tangan kiri, ketiak kiri dan bagian belakang kepala Ancah. Polisi menyebut luka robek itu akibat jatuh dan terbentur. Tapi keluarga Ancah meragukannya. Meyakini luka itu merupakan luka tembak yang pelurunya telah diambil.

Peluru polisi juga menembus dan bersarang di pintu rumah Ipan. Ancah tertelungkup tak bernyawa tepat di pintu rumah Ipan.

Ipan yang membersihkan kamar mandi di belakang rumahnya juga menemukan 5 butir pelor besi yang biasa digunakan senjata replica.

Tubuh Ancah yang diyakini sudah tak bernyawa tanpa ceceran darah di TKP selanjutnya dilarikan keluarganya dibantu dengan warga sekitar ke RSUD IA Moeis. Nyawa Ancah tak tertolong.

Ipan menceritakan bagaimana kejadian yang diketahuinya dan berdasarkan CCTV di rumahnya. Ipan menyebut awalnya Ancah duduk bersama Supan, warga setempat, di tempat duduk pinggir jalan samping rumahnya yang biasa disebut meja bundar.

“Dari CCTV di depan rumah saya itu terlihat sejumlah motor yang dikendarai polisi mendadak berhenti. Ancah lalu lari ke dalam rumah saya menuju dapur. Di situ saya terbangun karena mengira ada kebakaran,” kata Ipan.

Ipan hanya melihat dan mendengar polisi dan Ancah saling berteriak. Tapi teriakan itu tak jelas didengarnya meski dengan posisi dekat.

“Polisi yang mengejar ke dalam rumah saya kemudian keluar. Kemudian dari samping luar rumah terdengar beberapa kali tembakan. Saya tetap berada di dalam rumah bersama istri dan anak-anak,” ucap Ipan.

Salah seorang putra Ipan yakni Alfi yang ketika itu berada di luar rumah melihat polisi yang berjumlah 5 orang itu balik dikejar Ancah. Kabarnya Ancah mengejar sembari memegang pisau.

“Dia (Ancah, Red) lari keluar kembali ke depan rumah saya melalui jalan di samping rumah. Mungkin dia mau lari ke jalan, tapi karena banyak polisi dia kembali mau masuk ke dalam rumah saya,” ujar Ipan.

Saat itu istri dan anak Ipan yang hendak menutup dan mengunci pintu terlibat dorong-dorongan dengan Ancah, yang tampak gontai karena kembali ditembak berkali-kali.

“Saya tidak tahu persis berapa kali ditembak. Yang jelas dari samping rumah sampai di depan banyak tembakan. Sampai-sampai pintu rumah saya saja tertembus peluru dan ada peluru yang sangkut,” tutur Ipan seraya menunjuk pintu depan rumahnya yang tertembus peluru.

Ipan menuturkan Ancah dalam kejadian itu jatuh tersungkur di depan pintu rumahnya, berdasarkan rekaman CCTV pukul 22.35 Wita.

“Dia waktu mau kembali masuk ke rumah saya memang sempat jatuh, tapi saya tidak tahu apakah jatuh karena lantai licin atau ditembak, tapi saya melihat di CCTV itu kepalanya tidak membentur lantai,” jelas Ipan.

Sebagai ketua RT dan mengetahui ada warganya yang tewas karena tuduhan terlibat jaringan narkoba, Ipan menegaskan tidak melihat atau diberitahu ada barang bukti narkoba yang didapat polisi dari tubuh Ancah.

“Saya tidak melihat. Begitu juga warga yang ketika itu ramai melihat,” tuturnya.

Sementara itu Ramadan, adik Ancah merasa heran dengan tindakan polisi yang dinilainya tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

“Korban merupakan target salah sasaran. Kami keluarga sedang berembuk tindakan apa yang selanjutnya kami lakukan,” ucap Ramadan ditemui di rumah duka usai pemakaman.

Ramadan mengaku sempat mempertanyakan surat penangkapan yang membuktikan Ancah adalah benar target operasi (TO) polisi. Tapi pertanyaannya itu diacuhkan. “Tidak ada surat itu,” katanya.

Selama proses pemulangan jenazah Ancah ke rumah duka untuk disemayamkan dan dimakamkan pukul 10.00 Wita, Ramadan juga tak melihat seorang pun polisi datang ke rumah duka.

“Dari tadi tidak ada polisi. Malam tadi saja waktu di rumah sakit ada polisi yang katanya dari Propam,” ujarnya.

Terpisah, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Vendra Riviyanto membenarkan adanya kejadian itu. Namun menurutnya tindakan anggotanya di lapangan itu sudah sesuai SOP.

“Betul sudah terjadi korban dalam pelaksanaan standar operasional prosedur khususnya tentang upaya paksa. Yang bersangkutan sudah diperingatkan, baik itu secara Perkap 1 Tahun 2009 kemudian juga bahaya bagi si petugas itu dan orang lain,” jelas Vendra.

Dijelaskan Vendra, Ancah pada saat itu membawa senjata tajam. Sebelum mengambil tindakan tegas, polisi sudah mengeluarkan tembakan peringatan.

“Melumpuhkan dengan maksud tidak melukai juga sudah, tapi yang bersangkutan tetap terus berusaha melawan,” terang Vendra.

Vendra membenarkan jika penangkapan itu terkait dengan peredaran narkoba. Vendra pun menegaskan ada barang bukti yang diamankan polisi.

“Barang buktinya ada, tapi untuk jumlah pastinya saya belum mendapat laporan secara terperinci,” pungkas Vendra.

 

Comments are closed.