Polisi Tangkap 7 Pelaku Jasa Layanan Aborsi di Surabaya

11
151

Surabaya, NAWACITA- Unit III Subdit V Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Ditreskrimsus Polda Jawa Timur membongkar kasus jasa layanan aborsi di Surabaya. Dalam pengungkapannya, tujuh orang ditangkap, terdiri atas tenaga medis, suplier obat dan alat kesehatan hingga pasein yang sengaja menggugurkan kandungan.

Ketujuh tersangka tersebut yakni berinisial LWP (28) perempuan yang bertugas sebagai tenaga medis, MSA (32) laki-laki sebagao penyuplai dana, RMS (26) perempuan pembantu pelaksana aborsi. Selain itu tiga lainnya yakni MB (34) laki-laki, VN (26) perempuan dan FTA (32) perempuan, yang merupakan suplier obat, serta serta TS (32) pasien yang mengugurkan kandungan. Ketujuh tersangka di antaranya warga Surabaya, satu warga Sidoarjo dan warga Sukoharjo, Jawa Tengah.

“Pada awal Maret lalu, kami mendapat informasi tentang adanya praktik aborsi yang tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang. Tenaga medis yang melakukan proses aborsi juga tidak punya izin. Selanjutnya, kami melakukan penyelidikan hingga pada 8 April, petugas melakukan penggeledahan di kamar 1.120 Hotel Great Diponegoro alamat Jalan Raya Diponegoro Nomor 215 Surabaya,” ujar Kasubdit III Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Amran Asmara, Selasa (25/6).

Dia menjelaskan, pelaku utama kasus aborsi ini yakniLWP. Warga Surabaya ini, membuka praktik aborsi dalam hotel di Surabaya. Melalui sejumlah rekan, LWP membuka layanan menggugurkan kandungan dengan menggunakan obat.

“Tersangka LWP menggunakan obat Chromalux Musoprostol tablet 200 Mcg, Cytotec Misoprostol tablet 200 ug, dan lnvitec Misoprostol tablet 200 Mcg. Obat inilah yang menyebabkan janin dalam kandungan gugur,” katanya.

Amran mengaku masih terus mengembangkan penyelidikan atas kasus ini. Hal ini untuk mencari adanya dugaan kemungkinan pelaku lain. Di mana dalam pengungkapan,  selain tujuh orang tersangka, penyidik juga telah memeriksa 11 saksi yang menggunakan jasa layanan aborsi tersebut.

“Saat ini kami masih terus melakukan pemeriksaan secara intensif untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut,” ucapnya.

Seorang tersangka TS mengaku terpaksa menggugurkan kandungannya akibat keterbatasan ekonomi. Perempuan berambut panjang ini juga mengungkapkan, jika janin yang dikandungnya bukan dari hasil hubungan yang sah.

“Saya menggugurkan kandungan saya ketika usianya baru menginjak satu bulan. Bukan karena hasil hubungan gelap. Tetapi karena persoalan ekonomi. Sampai sekarang, keluarga tidak tahu saya ditangkap polisi,” katanya.

Sementara itu di hadapan petugas, tersangka LWP menuturkan praktik layanan aborsi yang dia buka sudah beroperasi selama dua tahun. Dalam penanganannya, dia hanya memberi obat minum dan tidak ada proses operasi.

Rata-rata usia kandungan bayi yang diaborsi berumur tiga bulan. Dalam sekali layanan, dia mematok tarif Rp1 juta.

“Saya sudah menggugurkan sebanyak 20-an kandungan,” ujarnya.

Dalam perkara ini, masing-masing tersangka dijerat Pasal 83, Pasal 194 UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, Pasal 56 KUHP, Pasal 346 KUHP dan Pasal 346 KUHP.

Comments are closed.