ADD Untuk Bimtek, Kades Simalungun Terancam Melanggar Hukum

55
195

Jakarta, NAWACITA –  Ratusan kepala desa di Kabupaten Simalungun terancam melanggar hukum,  jika tetap menggunakan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk kegiatan bimbingan tekhnis (bimtek) pengelolaan keuangan yang diselenggarakan lembaga swasta.

Sesuai agenda, Bimtek akan dilaksanakan di salah satu hotel di di Kecamatan Raya itu. Masing-masing desa diminta untuk mengirimkan perangkat desa mulai kepala desa,kepala seksi,dan bendahara,dengan membayar Rp 18 juta atau Rp 4,5 juta per orang.

Dana kegiatan bimtek sebelumnya tidak dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang membuat kepala desa dikhawatirkan tidak mampu mempertanggung jawabkan penggunaan anggarannya nanti. Anehnya kegiatan yang rawan pelanggaran hukum itu  menghadirkan narasumber Bupati Simalungun JR Saragih,pihak kejaksaan dan kementerian dalam negeri.

Salah seorang kepala desa di kecamatan Tapian Dolok yang dikonfirmasi membenarkan adanya kegiatan bimtek pengelolaan keuangan desa.

Menurut kepala desa yang minta namanya tidak ditulis,jika tidak mengikuti bimtek,alokasi dana desa yang sudah masuk rekening pemerintahan desa sebesar Rp 60 juta lebih sulit dicairkan padahal sangat dibutuhkan perangkat desa untuk pembayaran honor atau gaji.

“Jika tidak mengikuti bimtek sulit untuk mencairkan alokasi dana desa bang,jadi terpaksa diikuti dan uangnya sudah disetorkan ke rekening lembaga penyelenggara,” ujar kepala desa yang mengaku tidak mengikuti kegiatan itu namun mengutus 4 perangkatnya.

Ironisnya Pemkab Simalungun terkesan lepas tangan dengan tidak melarang para kepala desa mengikuti bimtek meski anggarannya tidak ditampung di APBDes.

Kepala Bidang Pemerintahan Desa/Nagori,Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa/ Nagori (BPMN) Pemkab Simalungun,Odor Sitinjak yang dikonfirmasi membenarkan kegiatan bimtek pengelolaan keuangan desa namun tidak melibatkan pihaknya.

“Memang benar ada kegiatan bimtek pengelolaan keuangan desa,BPMN tidak terlibat dan untuk mengikutinya terserah kepala desa,” kata Odor.

Anggota DPRD Simalungun Bernhard Damanik mengaku sangat menyesalkan jika kepala desa mengikuti kegiatan itu tanpa menganggarkan dananya, karena bisa membuat kepala desa terjerat hukum,” sebut Bernhard.

Politisi Partai Nasdem itu juga mengaku heran jika Pemkab Simalungun tidak melarang kepala desa mengikutinya,meski mengetahui jika mengikutinya kepala desa bisa tersandung pelanggaran hukum.

Bupati Simalungun berharap JR Saragih membatalkan kegiatan yang akan dimulai Senin (26/11/2018) itu,untuk menyelamatkan kepala desa dari pelanggaran hukum.

Untuk diketahui di Kabupaten Simalungun terdapat 386 kepala desa,dengan membayar biaya bimtek Rp 18 juta per desa ,dana yang dihabiskan mencapai hampir Rp 7 miliar.(Ir/mm) Portal: Medeka.com:

Comments are closed.