Kota Sukabumi / Foto: Dok. KPU Kota Sukabumi

Nawacitapost.com – Menurut Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, setiap tahunnya angka perceraian di Sukabumi, Jawa Barat, mencapai empat persen dari angka pernikahan. Tingginya angka perceraian tersebut membuat Sukabumi disebut sebagai daerah darurat keluarga Sakinah.

“Setiap ada permasalahan baik suami maupun istri, mudah mengajukan talak atau cerai, belum lagi ditambah perceraian yang tidak dilaporkan.” jelas Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi Hilmy Rivai di Sukabumi, seperti dilansir Laman Hidayatullah, beberapa saat lalu.

Menurutnya, walaupun angka perceraian tidak sebesar Indramayu yang mencapai 10 persen dari angka pernikahan, tetapi ini perlu diwaspadai karena angka perceraian setiap tahunnya terus meningkat.

Adapun faktor penyebab perceraian mayoritas masalah ekonomi, usia pasangan dan ada juga akibat kekerasan dalam rumah tangga maupun perselingkuhan.

“Dari pendataan memang paling banyak yang mengajukan talak adalah istri, ini juga yang membuat prihatin kami karena mudahnya pasangan suami istri mengajukan cerai. Sebab yang menjadi korbannya sudah dipastikan anaknya,” tambahnya.

Hilmy mengatakan untuk menekan angka perceraian tersebut pihaknya sudah mempunyai banyak program seperti pendidikan keluarga sakinah yang bisa dimasukan ke dalam kurikulum sekolah. Namun jika sulit, pihaknya akan mengerahkan tenaga penyuluhnya untuk memberikan sosialisasi tentang membangun keluarga sakinah.

Adapun sasarannya ada pelajar maupun anak di usia Madrasah Aliyah atau setingkat SMA. Sebab di usia tersebut banyak yang sudah berpikiran menikah sehingga sangat penting diberikan penyuluhan agar mereka paham apa itu keluarga sakinah.

Adapun sosialisasi yang akan diberikan seperti usia layak menikah, bagaimana cara membangun keluarga sakinah, mawadah dan warohmab serta penyelesaian permasalahan dalam keluarga sehingga suami istri tidak mudah mengajukan talak atau cerai.

“Cerai adalah perbuatan yang halal atau tidak dilarang tetapi dibenci Allah Subhanahu Wata’ala. Maka dari itu sebelum menikah calon suami maupun istri bisa memahami karakter pasangannya dan yang terpenting harus punya keyakinan dan rencana setelah nikah,” katanya. (net)

Baca juga :  DANLANTAMAL V TANGKAL COVID-19 BAGIKAN MASKER KEPADA PRAJURIT DAN PNS-NYA

 

Comments are closed.