Menteri LHK: Fokus Pemerintah Perbaiki Kerusakan Terumbu Karang Raja Ampat

48
145

Nawacitapost.com –  Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bahar menekankan, fokus pemerintah dalam kasus rusaknya terumbu karang di Raja Ampat, Papua Barat akibat ditabrak kapal pesiar, adalah pada penggantian kerusakan lingkungan dan aspek hukumnya.

“Lakukan langkah-langkah yang harus dilakukan menurut ketentuan Undang-Undangnya lingkungan saja. Jadi sekarang sedang dipetakan,” kata Siti Nurbaya yang dicegat wartawan usai mengikuti Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Selasa (14/3/2017).

Dia mengemukakan, sejak Sabtu (11/3/2017), tim investigasi sudah melakukan koordinasi dan turun ke lapangan. Koordinasi juga dilakukan dengan Kementerian Perhubungan untuk mengecek dari sisi hukum.

“Terutama terkait apakah kapal tersebut boleh dilepaskan, apakah kapal boleh masuk ke perairan dangkal, apakah kapal mempunyai instrumen untuk mengukur kedalaman air, serta apakah rambu-rambu di Raja Ampat sudah memadai bagi kapal,” katanya.

Meski sudah berada di perairan Filipina, Siti memastikan, pemerintah akan tetap mengejar kapal tersebut dengan berpegang pada berita acara yang menyebutkan bahwa agensi kapal akan menyanggupi untuk memberikan ganti rugi.

Sebelumnya, kapal pesiar Caledonian Sky, yang dioperasikan operator tur Noble Caledonia diketahui kandas di perairan sekitar Pulau Kri, Raja Ampat, Sabtu (4/3/2017) lalu. Kapal ini kandas setelah selesai melakukan kegiatan wisata pengamatan burung di Pulau Waigeo dan menyebabkan kerusakan parah pada terumbu karang di perairan tersebut.

Kandasnya kapal tersebut di sekitar perairan dangkal Pulau Kri dan mengakibatkan kerusakan tutupan karang sekitar 1.600 meter persegi. Sementara badan kapal tidak mengalami kerusakan yang berarti.

Kapal pesiar seberat 4.290 Ton ini diketahui membawa sekitar 102 orang penumpang dari Papua Nugini menuju ke Filipina. Semua penumpang dilaporkan selamat dari kejadian tersebut.

Setelah air laut pasang kembali, kapal akhirnya bisa melanjutkan perjalanan. Kapal berbendera Bahama ini saat ini sudah berada di perairan Filipina.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Brahmantya Satyamurti, mengungkapkan pihaknya segera membentuk tim untuk investigasi bagaimana kapal tersebut bisa ‘nyasar’ ke perairan dangkal di Raja Ampat, termasuk menaksir kerugiannya.

“Kita bentuk untuk kumpulkan data semua koral, hari Rabu ini (15/3/2017) nanti akan ada tindakan. Secara teknis kapal bisa masuk, bagaimana mengeluarkannya, dan damage-nya (kerusakan),” tegas Brahmantya di kantor KKP, Jakarta, Senin (13/3/2017) kemarin. (val)

Comments are closed.