Beginilah Kisah M Idris, Anak Petani dan Guru Ngaji yang Sukses Jadi Lulusan Terbaik Akpol

0
56

Jakarta, NAWACITA – Indonesia terus menelurkan generasi muda berprestasi setiap harinya. Presiden Joko Widodo atau Jokowi Selasa (16/7/2019) lalu melantik 781 perwira remaja TNI dan Polri angkatan 2019 di halaman Istana Merdeka, Jakarta.

Dalam agenda tersebut, Presiden Jokowi bertugas untuk menyematkan penghargaan kepada empat lulusan terbaik atau Adhi Makayasa dari Akademi Militer dan Akademi Kepolisian.

Di antara ratusan perwira yang lulus, terdapat satu sosok yang mengundang perhatian atas pencapaiannya menjadi lulusan terbaik Akpol. Ialah Muhammad Idris, peraih Adhi Makayasa yang lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3.54. Yang menarik, taruna asal Sumatera Barat itu berbeda dari ketiga rekannya.

Pasalnya, taruna kelahiran Solok Selatan, 8 Juli 1996 silam itu terlahir dari keluarga sederhana, di mana sang ayah, Dasrial hanyalah seorang petani yang merangkap menjadi guru ngaji. Kendati demikian, profesi sang ayah sebagai petani dan guru ngaji tak lantas menyurutkan semangat Idris untuk meraih cita-citanya menjadi polisi.

Buktinya, ia bahkan mendapat tiga penghargaan lain yakni Ati Tanggon Emas, Ati Trengginas Perak, dan Ati Tangkas Perak. Tak heran senyumnya terus menghiasi wajah tegasnya ketika menerima penghargaan tersebut.

Ketika ditanya mengenai perasaannya menjadi lulusan terbaik, M Idris mengaku bangga namun dengan tetap rendah hati.

Tentunya perasaan saya ketika menjadi yang terbaik di akademi kepolisian bangga, terharu senang dan menurut saya ini juga sebuah amanah agar bisa menjadi awal untuk lebih baik ke depannya,” Ungkap M Idris seperti dikutip Nawacitapost.com, Minggu (21/7/2019) .

Perjuangan M Idris untuk bisa mendapatkan penghargaan tinggi tersebut juga tak luput dari kontribusi sang ayah. Di sela-sela kegiatannya bertani dan mengajarkan ilmu agama kepada murid-muridnya, Dasrial selalu selalu memberikan dukungan dan motivasi untuk Idris. Tak hanya itu, Ia juga mengingatkan putra kesayangannya untuk tak meninggalkan salat.

Motivasi-motivasi beliau ketika Idris pesiar pun pada saat telepon beliau selalu bilang ‘Tetap berdoa nak jangan tinggalkan ibadah’,” Imbuh Idris.

Tak hanya berupa lisan, Dasrial bahkan rela membuatkan masakan khas Padang untuk Idris kala dirinya rindu dengan makanan tempat kelahirannya. Setiap pulang dari perantauan, Idris mengaku bahagia bisa menikmati makanan buatan sang ayah.

 

Tinggalkan Balasan