nawacitapost.com
nawacitapost.com

Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Sudah 173 jenis anggrek yang diselamatkan beliau. 110 di antaranya adalah anggrek endemi Gunung Merapi. Jauh dari hiruk pikuk kota, Pak Musimin menjalani hari-harinya dengan keluar masuk hutan di Gunung Merapi untuk mencari dan mengembalikan Anggrek ke habitat aslinya.

Ganjar Pranowo mengunjungi Pak Musimin awalnya 3 tahun yang lalu dan melihat beberapa anggrek dari endemi Gunung Merapi. Ganjar mengatakan semangat Pak Musimin adalah bukan semangat berjualan anggrek tetapi bagaimana anggrek ini dipelihara dan dibudidayakan serta akan dikembalikan lagi ke habitatnya guna melestarikan anggrek di sekitar Merapi.

Ganjar mengungkapkan bahwa ia sendiri awalnya tidak tahu dengan Pak Musimin tapi beliau mengetahui Pak Musimin atas usulan dari Bu Mega.

“Saya sendiri juga awalnya tidak tahu dengan Pak Musimin, saya justru diberitahu bu Mega waktu itu, saya diminta bu Mega waktu itu kata bu Mega, “Coba dikunjungi…” begitu waktu itu bu Mega pikirnya tempatnya ini di Jawa Tengah tapi saya sampaikan kalau ini tempatnya di Yogya ya sudah saya kesana,” ujar ganjar dalam unggahan video facebook. 

Pak Musimin mungkin salah satu dari sekian banyak orang Indonesia yang menyukai anggrek. Dia mungkin salah satu dari banyak orang yang mengoleksi anggrek sebagai bagian dari kebanggaan mereka. Tapi Pak Musimin mungkin adalah salah satu dari sedikit orang tua di Indonesia yang bersedia menghabiskan waktu, tenaga, dan hatinya untuk merawat anggrek alami agar orang lain dapat melihat keindahannya.

Bapak Musimin adalah salah satu penduduk Merapi. Rumah Pak Musimin ini ada di daerah Turgo Kabupaten Sleman DIY rumahnya yang sederhana berada di kaki gunung yang terletak di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Baca juga :  Biro Humas Setjen Kemhan Luncurkan Podcast Kemhan “Defence’s Advocate”

Setiap kali ada pengunjung, salah satu yang ditawarkan Pak Musimin adalah program adopsi. Adopsi Anggrek adalah cara Musimin mengajak masyarakat luas untuk turut serta berkontribusi dalam melakukan konservasi lingkungan, khususnya habitat orchidaceae. Dengan program itu, siapapun bisa turut serta mengembalikan Anggrek ke asalnya dan bisa ditengok kembali dikemudian hari.

Apa yang dilakukan Pak Musimin mencerminkan kecintaannya pada kekayaan alam Indonesia. Besar atau kecil usaha tersebut harus diakui dapat menghasilkan keuntungan besar sebagai bagian dari upaya melindungi anggrek dalam menghadapi bencana yang akan datang. Tidak hanya bencana alam, tetapi juga bencana yang disebabkan oleh keinginan manusia.

Semoga anggrek Indonesia bukanlah ironi negara yang terlambat bagi generasi muda untuk mengakui kekayaan negara. Tidak perlu menjadi kolektor dengan koleksi ratusan anggrek mahal. Tidak harus menjadi peneliti atau aktivis yang sukses di industri anggrek, tidak perlu menanam puluhan anggrek di kebun, generasi muda Indonesia hanya perlu  segera mengenal anggrek dan melihat kekayaan alam Nusantara.

Jika ingin ke sini, pastinya bisa menikmati keindahan pemandangan anggrek-anggrek yang langka plus ditemani kicauan burung liar akan sangat menentramkan hati.