Bambang Rantam Sariwanto (BRS), Seorang Role Model ASN

0
691

BRS merupakan sosok pegawai ASN yang mampu berdiri kokoh, memiliki prinsip kuat dalam berkarier di birokrasi. Ia menjadi contoh nyata seorang ASN dalam mengabdikan dan memberikan yang terbaik kepada Negara

> Kata Pengantar Prof. Yasonna H. Laoly S.H, M.Sc, Ph.D (Mentri Hukum dan HAM Republik Indonesia)

JAKARTA, NawacitaPost – “Lho, kok kamu mau jadi ASN? ASN kan A,B,C,danD”, Ucap kebanyakan teman-teman yang bekerja di dunia korporat Ibu Kota.

Sebagai seseorang yang sudah berkarir di salah satu Bank Swasta Buku 4, saya selalu diingatkan bahwa, menjadi ASN berbeda 180 derajat dengan bekerja di dunia korporasi. Ada yang berkata bahwa bekerja di ASN tidak flexsibel lah, sulit berinovasi lah, bahkan sering dilekatkan dengan godaan KKN. Banyaknya opini ini membuat saya berpikir, “Masa sih seperti itu?”

Beberapa senior, saudara, bahkan teman yang bekerja sebagai ASN, telah jadi narasumber pribadi saya untuk menjawab penasaran saya “Seperti apa sih, bekerja sebagai ASN itu?”. Meski sudah menemukan banyak perspektif baru, muncul lagi pertanyaan yang belum terjawab “Seperti apa sih, Contoh ASN yang Ideal?”.

Pertanyaan ini muncul dengan banyaknya perspektif yang sangat beragam tentang bekerja sebagai ASN.
Jawaban yang cukup ideal pun saya dapatkan lewat membaca buku “BRS: Pada Suatu Masa, Sinergi bersama lima Menteri”. Dalam buku yang menceritakan kembali perjalan karir dan hasil karya Bapak Bambang Rantam Sariwanto, Sekertaris Jendral (Sekjen) Kementrian Hukum dan HAM yang telah Purna tugas Akhir Desember 2020 kemarin.

Dalam buku setebal 484 halaman tersebut, tercerita sangat jelas perjalanan karir seorang ASN yang dapat saya sebut “Role Model ASN” ini. Dimulai dari karir beliau menjadi staff Pusdiklat (Sekarang BPSDM) hingga beliau menjadi sekjen yang membawa Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) bisa memiliki segudang prestasi yang luar biasa. Bukan hanya prestasi, beliau juga membawa transformasi dan inovasi yang luar biasa dalam internal Kemenkumham.

Role Model
“Datang paling pertama, pulang paling terakhir”. Siapapun yang membaca buku BRS: Pada Suatu Masa, Sinergi Bersama Lima Menteri pasti akan menemukan kata tersebut dalam banyak paragraf, testimoni, maupun opini yang tertuang dalam buku ini. Sebagai CPNS yang masih “hijau” akan dunia ASN, saya sangat kagum dengan attitude tersebut.

Semua pekerjaan dikerjakan sesuai dengan porsinya dengan hasil maksimal. Beliau yang dijuluki workaholic oleh banyak narasumber buku ini tidak menilai untung rugi suatu tugas, baik itu suatu hal yang kecil seperti merapihkan gedung sampai yang besar seperti membangun Zona Integritas di seluruh jajaran Kemenkumham.

Satu hal yang menurut saya luar biasa langka ada dalam diri Pak BRS, yaitu Konsistensi. Attitude yang beliau bawa dari saat menjadi staff hingga menjadi Sekjen, bahkan sampai dirinya Purnatugas. “Wow” ucapku dalam benak. Hal ini menjadi unik, karena dalam pekerjaan saya sebelumnya tidak jarang, terdapat beberapa senior yang menunjukkan perubahan sikap saat sudah menduduki jabatan yang lebih tinggi. Namun, Pak BRS jauh sekali dari hal seperti itu, malahan beliau menjadi seorang Role Model yang dapat dicontoh oleh siapapun.

Sebagai seseorang yang lekat dengan kata Millenials, buku ini sebenarnya sudah menjadi petunjuk yang ideal tentang bersikap sebagai ASN yang baru memulai karir. Dari saat menjadi staff Pusdiklat, Pak BRS sudah “mengajarkan” bagaiaman seorang CPNS Bersikap. Beliau terjun aktif, melakukan pekerjaan bahkan yang paling kotor sekalipun, dan yang paling utama Menghormati Atasan.

Banyak dari Millenials yang tidak nyaman dalam situasi hiraki yang kaku, namun Pak BRS dalam bukunya “mengajari” saya untuk bekerja dan berperilaku sesuai dengan porsi tanggung jawab yang kita punya. Contoh nyata yang diceritakan dalam buku ini adalah saat Pak BRS di rotasi dari Sekjen menjadi Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Jogjakarta. Meski terdapat konflik di awalnya, tapi beliau menghormati keputusan atasannya dan berkarya di Jogjakarta yang dalam buku ini, diceritakan dalam kondisi Semerawut.

Di Jogjakarta, Budaya pelayanan yang lama beliau ubah, bahkan sampai menciptakan konsep Kantor Wilayah (Kanwil) sebagai ”Law Center” yang kedepannya diikuti oleh Kanwil lainnya. “BRS mau di tempatkan dimanapun pasti beres” suatu kutipan dari Mantan Menkumham, Patrialis Akbar.
Role Model Sebagai Strategi Manajemen
Konsep Role Model yang Pak BRS gambarkan dalam buku ini cukup menarik buat saya.

Dimana Role Model bukan hanya sebuah simbol atau lambang yang melekat, tapi Role Model sebagai strategi Manajemen. Saya pribadi mencari strategi khusus apa yang membuat Pak BRS berhasil membantu lima Mentri menjadikan Kemenkumham suatu instansi pemerintahan yang berprestasi. Namun tidak ada secara spesifik strategi atau teori manajemen apa yang digunakan selain menjadi Role Model yang dapat dicontoh oleh seluruh jajarannya. “Ikan tidak akan busuk dari ekornya” tulis Pak BRS dalam buku ini.

Keberhasilan Strategi ini, tercermin dari prestasi yang didapat Kemenkumham dari intansi pemerintah lain dan pihak ketiga. Dari terbentuknya Law Center di Kanwil Jogjakarta hingga tercapainya status WBK/WBBM di puluhan UPT Kemenkumham. Baik dalam lingkungan yang sudah tertata atau semerawut, Pak BRS tetap konsisten menjadi Role Model yang bukan hanya memimpin, tapi juga “menggiring” budaya-budaya positif.
Salah satu narasumber dalam buku ini, Bapak Liberty Sitinjak, Kakanwil DKI Jakarta pun mengatakan bahwa Pak BRS dapat bersikap dan berucap tepat tergantung lawan bicaranya.

Sebagai CPNS yang harus siap ditempatkan dimana saja, tentunya harus siap juga untuk berinteraksi dengan orang baru, budaya baru, dan lingkungan baru. Hal ini menjadi bekal penting bahwa, ketepatan kita dalam beradaptasi adalah suatu strategi dalam menjadikan kita seorang “Role Model” untuk sesama CPNS.
CPNS dan Role Model Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) atau sering disebut Tunas Pengayoman di Kemenkumham, bisa diibaratkan kerja putih kosong yang bisa isi dengan berbagai hal.

Bahkan seseorang yang punya jam pengalaman kerja sebelum masuk ke dunia birokrat, harus belajar dari nol (0) saat menjadi CPNS. Dalam tahap inilah seorang CPNS dituntut cepat beradaptasi dengan lingkungan birokrasi, dimana perkembangan diri seorang CPNS tentu sangat lekat dengan Role Model yang menjadi acuan kerja dan bersikap.

“Bijaklah mengikuti Role Model yang kalian pilih” Begitulah pengingat yang sering diberikan oleh Kepala Urusan Tata Usaha Bapas Kelas II Balikpapan, Elfera kepada para CPNS. Bila seorang CPNS hanya jago beradaptasi, maka bila lingkungannya baik dia baik dan bila lingkungannya tidak baik, dia tidak baik.

Adanya konsep Bijaksana inilah yang menjadi “penyaring” dari suatu adaptasi karena terkadang yang kita pikir baik belum tentu itu benar dan yang kita pikir tidak baik belum tentu itu salah.
“Lalu bagaimana cara kita dapat bijak mencontoh seorang Role Model?”.

Hal ini terjawab dari gambaran Prof. Yasonna H. Laoly tentang Pak BRS, “BRS merupakan sosok pegawai ASN yang berdiri kokoh, memiliki prinsip kuat dalam berkarier di birokrasi” tulisan beliau dalam buku BRS: Pada Suatu Masa. Memiliki dan menginternalisasikan nilai-nilai ASN adalah salah satu caranya. Dengan memiliki pendirian teguh berlandaskan nilai-nilai ASN, kita seharusnya sudah dapat membedakan yang mana bisa kita ikuti dan hindari.

Namun, memiliki pendirian saja tidak cukup. Saya kembali kepada pembelajaran yang diberikan oleh Pak BRS, yaitu Konsistensi. Bila kita memegang teguh nilai-nilai ASN dengan Konsisten hingga menjadi pimpinan nanti, saya yakin tunas pengayoman dapat menjadi Pohon Rindang yang dapat mengayomi Masyarakat, Instansi, dan Negara.

Secara umum, buku ini bisa menjadi panduan kepada seluruh ASN Kemenkumham dalam mengetahui sebuah contoh ideal bekerja dalam dunia birokrasi. CPNS, sebagai Tunas Pengayoman juga dapat menjadikan buku ini sebagai pegangan dalam bersikap serta panduan dalam memimpin di kemudian hari kelak. Konsisten menjadi seorang “Role Model” yang tetap memiliki nilai integritas dan visi adalah suatu pembelajaran “emas” yang Pak BRS bawa melalui buku ini. Terimakasih Pak BRS.

Buala Jefry Baeha S.ikom
Tempat bertugas
Balai Pemasyarakatan Kelas II Balikpapan