Jumat, 5 Juni 2026

Brigjen TNI Iwan Setiawan Yang Pernah “Cium” Puncak Everest Pimpin Korem Biak

Photo Author
Administrator, Nawacita Post
- Rabu, 29 Juli 2020 | 11:34 WIB
Jakarta, Nawacitapost.com - Brigjen TNI Iwan Setiawan, S.E.,M.M dikenal sebagai figur yang akrab dengan tantangan dan menjadi pemimpin Tim Selatan. “Alumni” Baret Merah ini, juga sempat ziarahi Mount Everest pada tahun 1997, kini lelaki bersahaja ini didaulat menjadi nahkoda Korem 173/PVB, Biak.
Demikian disampaikan Kapenrem 173/PVB, Mayor (Caj) Soebiyantoro dalam rilis tertulisnya di Kabupaten Biak, Papua, Ahad (14/6) lalu.

Kapenrem menyebutkan, setelah melaksanakan acara laporan korps kenaikan pangkat bersama 73 Pati TNI AD, pada Rabu (10/6) yang dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa, di Mabesad, Jakarta Pusat, kini pria asal kota kembang Bandung ini resmi menyandang pangkat Jenderal Bintang Satu.

Sehari sebelumnya Kapenrem juga telah melaksanakan Laporan Korps kenaikan pangkat bersama 73 Pati AD, 3 Pati AL dan 7 Pati AU yang dipimpin oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P., di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur.
“Pelaksanaan kenaikan pangkat ini berdasarkan Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin 1054/VI/2020 tanggal 3 Juni 2020,” ungkap Soebiantoro, seraya menegaskan, Brigjen TNI Iwan Setiawan, S.E.,M.M. merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1992. Jabatan beliau lebih banyak di lingkungan Baret Merah (Kopassus).

“Sebelum menjabat Komandan Korem 173/PVB, jabatan beliau adalah Pamen Khusus Denma Mabesad dalam rangka mengikuti Pendidikan Lemhannas ,” ungkap Soebiyantoro, seraya memaparkan, seluruh Korem yang berada dibawah Kodam XVII/Cenderawasih kini pun menjadi tipe A.

“Sebagai contoh perubahan semua Korem di jajaran Kodam XVII/Cenderawasih menjadi tipe A, sehingga para pejabat Danrem pun naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal,” tandas Soebiyantoro memaparkan, dengan berbagai pengalaman tugas dan jabatan-jabatan sebelumnya, tentunya Brigjen TNI Iwan Setiawan akan dapat mengawaki Korem ini dengan baik dan sesuai dengan amanah dan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.

Laporan Korps Kenaikan Pangkat 74 Perwira Tinggi TNI AD di Mabesad, Jakarta pada Kamis (11/6) lalu membawa kebahagiaan tersendiri bagi suami Betty Siti Supartini. Danrem 173/Praja Vira Braja (Biak) ini resmi menyandang pangkat jenderal bintang satu.

Ayah dari 3 putra/putri, Arya Everest Setiawan, Carrsterizs Nidya Aulia, dan Nabil Khansa ini tampak terharu. Terlebih pada upacara itu, Mabesad menampilkan video perjalanan karier masing-masing pati yang naik pangkat. Iwan pun bersyukur diberikan kepercayaan oleh TNI dan KSAD Jenderal Andika Perkasa untuk memimpin Korem 173/PVB.

Iwan Setiawan mengawali kariernya dibangun di Korps Baret Merah antara lain pernah menjabat sebagai Danyon 22 Grup 2 Kopassus pada 2018. Di korps ini pula sebuah catatan gemilang pernah diukirnya.
Masih ingat Ekpedisi Everest 1997? Ekspedisi pendakian ke puncak gunung tertinggi di dunia yang digagas Danjen Kopassus saat itu, Mayjen TNI Prabowo Subianto, bukan hanya mengharumkan nama Kopassus dan TNI, namun juga Indonesia di mata dunia.

Iwan merupakan satu di antara tiga prajurit Kopassus yang sukses menancapkan Bendera Merah Putih di puncak Everest. Iwan yang saat itu berpangkat letnan satu menjejakkan kaki di atap dunia bersama Sertu Misirin dan Pratu Asmujiono.
Iwan mengenang perjalanan misi mahaberat tersebut. Namun demi bangsa dan negara, pantang baginya surut sebelum tugas terselesaikan.
“Mendaki Gunung Everest adalah impian setiap pendaki di dunia. Dan saat itu saya belum tahu, apa itu Mount Everest. Bayangkan, naik gunung saja belum pernah, terutama gunung es,” seloroh Iwan, seraya menceritakan, ketika itu dirinya baru lulus pendidikan komando, masih muda. Tak lama diumumkan adanya seleksi Tim Ekspedisi Everest 97. Ekspedisi ini untuk menyambut HUT ke-45 Kopassus.
Bagi prajurit Kopassus, kata Iwan, tugas merupakan segala-galanya. Tugas merupakan kehormatan. Begitu pula Ekspedisi Everest tersebut. Iwan ikut andil di seleksi itu.

“Dan alhamdulillah, saya menjadi salah satu perwira akmil (akademi militer) yang lolos dan lulus untuk ikut ekspedisi pendakian ini,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Iwan menyadari, bergabung dengan Tim Ekspedisi Everest sama dengan bertaruh nyawa. Pikirannya menerawang jauh, dari 100 pendaki yang ingin menggapai gunung setinggi 8.884 meter dari permukaan laut itu, kemungkinan hanya 10 orang yang sampai. Dari 10 tersebut, kemungkinan tiga orang yang selamat. Ada kisah menarik sebelum Iwan Setiawan berangkat mengikuti ekspedisi tersebut. Kepada Danjen Kopassus, dia izin menyunting pujaan hatinya. Oleh Prabowo, dia diberikan izin.
Sang pujaan hati, turut mengenang bagaimana awal suaminya mengikuti persiapan panjang sebelum menuju Everest. Keikutsertaan suami dirasa membawa kecemasan tersendiri.
Wajar dirinya merasa cemas. Jelang keberangkatan tim Kopassus, dirinya sempat menonton tayangan ekspedisi suatu negara ke Everest. Dalam tayang itu disebutkan ada anggota ekspedisi yang meninggal dunia. Gambaran itu yang membuat dirinya semakin khawatir.
Seiring perputaran waktu, Tim Ekspedisi Kopassus akhirnya menginjak Nepal untuk memulai pendakian. Iwan terkenang bagaimana beratnya masa-masa awal berhadapan langsung dengan gunung es. Dia sempat jatuh sakit.
“Saya baru berjalan 100 meter muntah-muntah, kaget, karena memang tidak siap dengan cuaca dingin. Rupanya kontak batin, istri ikut merasakan (kalau saya sakit),” ucapnya.

Namun, Iwan pantang mundur. Sebagai satu-satunya perwira Akmil yang memimpin tim sekaligus tumpuan harapan Kopassus dan bangsa Indonesia untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak Everest, dia terus mengibarkan kegigihannya.

Mantan Danrindam Jaya ini meyakini, doa istri yang rajin puasa senin-kamis, juga doa seluruh bangsa, dirinya sembuh. Iwan pun melanjutkan perjalanan mengarungi medan berat dengan suhu minus 50 derajat Celcius.
“Bayangkan suhu minus 50 derajat Celcius. Sepanjang jalan banyak orang-orang meninggal,” ucapnya.
Mendaki Everest ibarat pertaruhan hidup dan mati. Di ketinggian 8.500 meter dari permukaan laut, Iwan terjatuh kehabisan oksigen. Momen itu menjadi saat-saat kritis.

“Bayangkan, bagaimana bisa enggak orang hidup di ketinggian 8.500 (mdpl) dengan suhu minus 50. Saya kehabisan oksigen, tanpa matras, tanpa sleeping bag, antara hidup dan tidak,” akunya.
Perjuangan berbulan-bulan sejak masa persiapan di Indonesia hingga di Kathmandu, Nepal akhirnya terbayar lunas. Iwan bersama Musirin dan Asmujiono menorehkan sejarah orang Indonesia pertama mengibarkan Merah Putih di puncak tertinggi dunia.

Ekspedisi ini disebut pula sebagai orang Asia Tenggara pertama yang berhasil menapakkan kaki di puncak Himalaya itu.
“Begitu kembali saya dijemput 20 jenderal waktu itu. Kita dipanggil presiden, mendapatkan penghargaan, diberi bintang. Saya disuruh sujud ke Tanah Suci. Saya bersyukur di situ bisa berhasil mengharumkan nama Indonesia dan bisa selamat kembali ke Indonesia dan bertemu istri,” katanya.

Pengalaman mencium puncak Everest itu tak akan pernah dilupakan Iwan. Rekam jejak itu akan selalu melekat dalam ingatannya, juga mengalir dalam darah dagingnya.
“Anak saya langsung diberi nama Arya Everest Setiawan,” pungkas.

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini