Ditengah Pandemi Covid 19, Transaski BRI Mo Capai 482 Triliun Atau Tumbuh 31 Persen

0
459

Jakarta, NAWACITAPOST – Raden Bei Aria Wirjaatmadja adalah perintis berdirinya Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang merupakan salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia.  Awalnya ia membentuk sebuah lembaga semacam Bank dengan nama  De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank Der Inladsche Hoofden. Seiring bertambahnya modal, lalu didirikan  Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren,pada 16 Desember 1895.

Baca Juga : Pandemi Covid – 19,  BNI 46 Tetap Melayani Negeri Untuk Kebanggaan Bangsa    

BERDASARKAN UU No 21 nama BRI ditetapkan pada 16 Desember 1968. Sedangkan nama PT BRI Tbk tahun 1992. Yaitu kepemilikan  100 persen dikuasai pemerintah. Tahun 2003 kepemilikannya berubah, dan melalui Initial Publick Offering (IPO) 56,75 persen pemerintah, sisanya 43,25 persen dimiliki pemegang saham publik.

Pada 2018 jaringan usaha PT BRI Tbk, yaitu  ;   

  • 1 Kantor Pusat
  • 19 Kantor Wilayah
  • 461 Kantor Cabang (termasuk 3 Unit Kerja Luar Negeri)
  • 584 Kantor Cabang Pembantu
  • 971 Kantor Kas
  • 5.293 BRI Unit
  • 2.457 Teras BRI
  • 610 Teras BRI Keliling
  • 152.443 Jaringan e-channnel (ATM, EDC, CDM, E-Buzz) di seluruh Indonesia

Sementara itu jumlah pegawainya  pada thun 2018 mencapai  89.943 (di luar pekerja outsourcing)

Yang  unik dan menarik dari bank ini. Ada  di desa bahkan dusun . Petani, pekerja harian,guru, koperasi, lembaga keagamaan  dan pensiunan guru serta pegawai negeri banyak menggunakan jasa bank yang berkantor pusat di kawasan Semanggi, Jakarta.

Adapun nama Tabungan  BRI ;  Tabungan BRI Simpedes, Tabungan BritAma, BritAma Bisnis, Simpedes TKI, Tabungan BRI Simpel (Simpanan Pelajar), Tabungan Haji, BritAma Rencana, BritAma Valas, Tabungan BRI Junio, Britama X atau Britama Muda, TabunganKu.

Terkait pandemi covid – 19 menurut Direktur Konsumer Bank BRI, Handayani, hingga akhir Mei 2020, layanan BRImo sendiri telah mencatatkan nilai transaksi sebesar lebih dari Rp 482 Triliun atau tumbuh sebesar lebih dari 31 persen secara year on year.

tambah Handayani, 6 juta transaksi setiap hari. Membuktikan bahwa nasabah BRI sudah mulai nyaman dan menggeser pola transaksi mereka ke layanan digital.

Handayani melanjutkan, selain karena faktor pandemi Covid-19, kenaikan transaksi digital BRI terjadi karena ada periode lebaran Idul Fitri. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa masyarakat sudah mulai nyaman dengan budaya cashless.

Bank BRI memastikan dengan adanya peningkatan traffic transaksi ini tidak akan mengurangi kualitas transaksi digital dan pelayanan BRI. Perseroan sudah mengantisipasi dengan menyiapkan back end infrastruktur yang mendukung saat terjadi lonjakan transaksi tinggi pada kondisi tertentu.