Pembunuh Calon Pendeta Cantik Diancam Hukuman Mati

0
4399

Kayuagung,NAWACITA- Masih ingat dengan peristiwa pembunuhan calon pendeta cantik Melindawati Zidomi? Sidang perdana kasus ini, rencananya akan digelar pada Rabu (7/8/19) besok di Pengadilan Negeri Kayuagung, Jalan Letnan Muchtar Saleh Nomor 119, Kota Kayuagung,Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.

Kedua pelaku, yakni Nang bin Seruah dan  Hendri bin Keran bakal didakwa pasal berlapis oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni  pasal 340 jo 338 jo 365 ayat 4, 289 jo 290 ke-1 Kitab Undang Hukum Pidana (KUHP). Mereka terancam hukuman mati.

Sekretaris Jenderal (Sekjen)  Forum Nias Selatan (Fornisel) Be’esokhi Ndruru mengapresiasi kinerja penegak hukum di Kayuagung. Hanya saja, Ndruru berpesan agar diberikan hukuman yang setimpal dengan kedua pelaku.

“Harapan kita tentu hal ini tidak terulang lagi ke depan. Dan pelaku diberikan hukuman yang seberat-beratnya. Bila perlu hukuman mati (pasal 340,red),” pinta Ndruru Senin (5/8).

Wakil Ketua Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI) Kota Batam, Okiman Nazara, juga mengapresiasi positif kinerja penegak hukum daerah setempat. Okiman saat dimintai tanggapan mengatakan, masyarakat Nias yang tergabung dalam HIMNI dan ormas Nias lain, tetap mengawal perkembangan kasus pembunuhan tersebut, meski tidak berada di Kota Kayuagung.

“Sekarang bisa kita lihat perkembangan via teknologi. Tentu kami berharap kepada hakim untuk menghukum kedua pelaku. Pada tingkat penuntutan dan vonis nanti, kedua pelaku harus dihukum setimpal dengan perbuatannya. Apalagi kasus ini adalah bukan pembunuhan biasa menurut kami. Bagi kami, pembunuhan ini adalah masuk kategori extra ordinary crime (kejahatan luar biasa,red). Kami dari HIMNI cukup berduka atas ini,” katanya kepada awak media.

Menurut Okiman, keluarga korban di Pulau Tello, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatra Utara telah menggantungkan seluruh proses kepada penegak hukum di Kota Kayuagung. “Kami yakin, penegakan hukum di Kayuagung sangat profesional. Buktinya sejak semula sampai kasus ini ke meja hijau begitu lengkap. Apresiasi untuk itu,” tambahnya.

Jacob Halawa warga Nias yang berdomisili di Jakarta, juga mengapresiasi kinerja penegak hukum di Kayuagung. Ia berharap kasus tersebut tidak terulang lagi. “Tentu sebagai efek jera kami mohon pelaku dihukum setimpal dengan perbuatannya. Pasal 340 yang didakwa jaksa sangat pas. Kami apresiasi untuk itu,” kata Jacob.

Ketiga narasumber  tersebut meminta insan pers di Kayuagung atau Privinsi Sumatra Selatan untuk mengupdate informasi. Sebab menurut Ndruru, Okiman Nazara, dan Jacob, animo masyarakat Nias di Batam, Pulau Nias, Jakarta bahkan seluruh Indonesia melihat perkembangan kasus itu sangat tinggi.

“Di grup WhatsApp saja sudah banyak mulai nanya-nanya perkembangan kasus ini. Untuk itu, kami sangat percaya teman teman jurnalis bisa bantu kami juga. Agar bisa update kabar terbaru,”pinta Jacob.

Sebelumnya diberitakan, Melindawati Zidomi (24) dibunuh kedua pelaku pada Senin (25/3/2019) sekitar pukul 23.00 WIB. Lokasinya tepat di Blok  F19 Divisi III Perkebunan PT Persada Sawit Mas (PSM) Sungai Baung Estate, Dusun Sungai Baung, Desa Bukit Batu, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan.

Saat ditemukan, wanita yang berasal dari Pulau Tello itu dalam keadaan bugil dan tak bernyawa. Semasa hidup, Melindawati Zidomi yang merupakan seorang pendeta Gereja Kristen Injil Indonesia (GKII) di sekitar Blok  F19 Divisi III tersebut masih lajang dan hendak menikah. Namun sebelum pernikahan itu, ajal terlebih dahulu memanggilnya. Jasad Melinda Zidomi telah dikebumikan di kampung halamannya di Pulau Tello, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatra Utara.

Tinggalkan Balasan