Pelabuhan Gunung Sitoli, Amburadul dan Penuh Preman Menjelang Sail Nias 2019

3
15596
Pelabuhan Gunung Sitoli
Pelabuhan Gunung Sitoli

Gunung Sitoli, NAWACITA – Pengalaman menyakitkan dialami oleh seorang penumpang kapal laut dari Gunung Sitoli menuju Sibolga. Junita Hasugian dalam postingan di akun FB-nya, menceritakan bagaimana petugas pelabuhan dan seorang tentara membiarkan seorang oknum preman mengamuk dan memaki dirinya saat melansir barang bawaan menuju Kapal Victoria,Senin (12/8/2019)

Baca Juga: HIMNI: Kesyahbandaran Gunungsitoli Abaikan Tugas dan Fungsinya, Dicopot Saja!

Baca Juga: Dibawah Kepemimpinan Ilyas Batubara, Pelabuhan Gunung Sitoli Banyak Langgar Aturan

Diceritakan bahwa Junita bersama anak dan iparnya bermaksud menyeberang dari pelabuhan angin Gunung Sitoli menuju Sibolga. Dari rumah, mereka naik sepeda motor bersama satu becak yang memuat barang bawaannya (3 kardus barang dan 2 koper). Sesampai di gerbang masuk, Junita menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi berupa pembayaran uang pas kendaraan sesuai aturan yang berlaku.

Sesampainya di gerbang kedua, artinya pintu masuk menuju kapal, petugas kembali melakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan penumpang. Saat itu Junita meminta izin kepada petugas berseragam untuk mengizinkan becak yang bersamanya masuk mengantar barang bawaannya yang cukup banyak.

Namun, hal tersebut tidak diizinkan oleh petugas. Junita maklum akan hal tersebut hingga akhirnya ia bermaksud melansir sendiri barangnya dari gerbang kedua menuju pintu kapal. Saat itulah, peristiwa tidak mengenakkan dan tidak berperikemanusiaan terjadi. Saat sedang melansir barang bawaan dengan motor yang juga ikut diseberangkan, tiba-tiba seorang pria berbadan tegap menghalangi laju motor.

Saat Junita menanyakan apa maksudnya, tiba-tiba seorang petugas pelabuhan yang terkesan mendukung aksi pria tersebut menimpali dengan mengatakan “Ibu harus punya pikiran. Di Pelabuhan ini sudah ada kerjasama dengan buruh terkait mengangkat barang ke kapal,”katanya.

Saat itu Junita menimpali dengan mengatakan bahwa ia sadar akan hal itu, tapi permintaan buruhnya terlalu besar dan kebetulan dia tidak memiliki uang yang cukup untuk itu, makanya dilansir sendiri. Apalagi dari gerbang kedua sampai pintu kapal jaraknya berkisar kurang lebih 30 meter saja.

Baca Juga: Infrastuktur Pelabuhan Gunungsitoli Makan Korban, KNPI: Kemana KSOP!

Karena tetap ditolak, Junita menanyakan apa maksud dari semua ini? Tiba-tiba saja seorang pria yang berdiri bersama dengan tentara yang hadir disitu memaki dengan sangat kasar sambil mendekat dan menunjuk ke arah muka Junita yang membuat anaknya  berteriak-teriak ketakutan.

Menurut Junita, semua petugas berseragam di pelabuhan dan bahkan tentara yang turut melihat itu diam seolah tak terjadi apa-apa. Akhirnya dengan malu dan sedih, Junita memikul sendiri barang bawaanya ke kapal.

Baca Juga: Ditjen Perhubungan Laut Catat Persoalan KSOP Kelas V Gunungsitoli

Peristiwa itu seperti membuka mata semua orang bagaimana pelayanan petugas di Pelabuhan Angin Gunung Sitoli sangat bobrok. Sebenarnya banyak kesaksian yang sama yang terjadi bahkan lebih parah, tapi tidak terekspos karena kebetulan korbannya tidak punya daya dan pengetahuan seperti Junita yang bisa berbagi pengalaman dengan masyarakat pengguna jasa kapal laut lainnya.

Harusnya pengalaman Junita ini dan ‘Junita-junita” lainya jangan sampai terulang kembali. Para pengelola pelabuhan (Syahbandar Gunung Sitoli) mesti memberi perhatian ekstra akan hal ini. Jika ini dibiarkan terus terjadi, apa kata dunia. Semua orang tahu bahwa Pelabuhan Angin Gunung Sitoli merupakan pintu utama di laut jika ingin berkunjung ke Pulau Nias. Premanisme harus dihapus, mental bobrok harus dibuang.

Kebobrokan, amburadul dan banyaknya preman  di pelabuhan angin gunung sitoli mesti ditertibkan kembali. Pemerintah Kota Gunung Sitoli juga mesti memberi hati dengan melihat sesekali rakyat sederhana yang hanya bisa menumpang kapal laut setiap kali ingin melakukan perjalanan. Tentu para petinggi tidak akan tahu dan peduli akan hal ini, bila sudah mendapat kemudahan dalam segala hal. Kemana-mana saat berangkat dari Nias selalu naik pesawat yang mentereng dibanding kapal laut butut.

Baca Juga: Doyan Dinas Luar Kota, Kepala KSOP Gusit Illyas Batubara Abaikan Tugas

Tahun ini, nama Kepulauan Nias sudah mulai mendunia dengan diadakannya perhelatan Sail Nias 2019 di seluruh penjuru Pulau Nias. Seluruh pengunjung dari berbagai penjuru akan berdatangan ke Nias menyaksikan acara spektakuler dan baru pertama kali diadakan itu.

Mungkinkah pemerintah di Kepulauan Nias, terutama daerah yang memiliki akses utama masuk keluarnya pengunjung (wisatawan) seperti Pelabuhan Angin Gunung Sitoli dibiarkan dengan kondisi seperti sekarang ini amburadulnya?. Jika ini tetap dibiarkan, maka tak ayal lagi citra Nias di mata dunia akan semakin buruk.

Prof. Yasonna Laoly, sebagai Ketua Umum Panitia Nasional Sail Nias 2019, sudah dengan tegas meminta kepada seluruh masyarakat Nias untuk menyukseskan kegiatan Sail Nias 2019. Beliau meminta kepala daerah di kepulauan Nias untuk memberi perhatian pada pintu dan akses untuk masuk keluarnya wisatawan, seperti Bandara dan Pelabuhan. Bahkan beberapa hari yang lalu beliau merekomendasikan beberapa tempat penginapan yang bagus untuk tamu-tamu di Kota Gunung Sitoli.

Baca Juga: Prof. Yasonna: Tamu Harus Nyaman dalam Mengikuti Sail Nias 2019

3 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan