Tersangka Mantan Danjen Kopassus Mayjen Purn Soenarko, Terkait Duga’an Penyelundupan Senjata Api

0
38

JAKARTA, NAWACITA – Menjelang Pasca pengumuman hasil rekapitulasi nasional Pemilu 2019 Oleh KPU, tiba tiba di kejutkan publik di Tanah Air kabar tentang penangkapan mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus), Mayjen (Purn) Soenarko, oleh polisi. Tuduhan yang dialamatkan kepada pensiunan militer ini tak main-main: penyelundupan senjata api.

Sebelum penangkapan, Soenarko sebenarnya lebih dulu dilaporkan ke Bareskrim Polri, Senin (20/5/2019) kemarin, atas dugaan melakukan tindak pidana perbuatan makar. Dia dilaporkan oleh pengacara bernama Humisar Sahala dengan nomor laporan LP/B/0489/V/2019/Bareskrim tertanggal 20 Mei 2019.

Humisar mengungkapkan, alasannya melaporkan Soenarko ke polisi karena merasa resah atas pernyataan sang jenderal dalam sebuah rekaman video yang viral. Dalam video itu, Soenarko menyerukan kepada masyarakat yang tak puas dengan hasil pemilu untuk mengepung KPU dan Istana Negara.

Soenarko dikenal sebagai sosok cukup berpengaruh di Aceh. Bagaimana tidak, pria kelahiran Medan, Sumatra Utara (Sumut), pada 1 Desember 1953 itu pernah memegang pucuk pimpinan militer di Bumi Serambi Mekkah, yakni saat menjabat Panglima Daerah Militer (Pangdam) Iskandar Muda pada 2008-2009. Sebelum itu, pada 2007-2008, Soenarko dipercaya menjadi danjen Kopassus, salah satu jabatan yang tak kalah prestisiusnya di dinas ketentaraan Indonesia.

Pada awal pembentukan Kodam Iskandar Muda di 2002, Soenarko menjabat asisten operasi kasdam. Dia kemudian secara berturut-turut diangkat menjadi Danrem-11/SNJ, Danrem-022 Dam-I/BB, Pamen Renhabesad Paban 133/Biorgsospad, Pati Ahli Kasad Bidsosbud, dan Kasdif-1 Kostrad, baru kemudian danjen Kopassus diraihnya Agustus 2007.

Saat menjabat Pangdam Iskandar Muda, Soenarko dilanda musibah. Pada 6 April 2009, putra sulungnya bernama Lettu Penerbangan Yudho Pramono tewas dalam kecelakaan pesawat Fokker-27 milik TNI-AU di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Selain Yudho, insiden kala itu menewaskan 23 prajurit TNI lainnya.

Jiwa patriotisme Soenarko tampak begitu kental saat menghadapi pemakaman putranya 10 tahun silam itu. Ketika itu, Seonarko menyatakan perasaan bangga karena Yudho gugur dalam menjalankan tugas negara sebagai prajurit TNI.

(Sumber : SINDOnews.com)

Tinggalkan Balasan