Smelter Bantaeng Kebanggaan Sulsel Diresmikan

0
12

Makassar NAWACITA – Gubernur Sulawesi Selatan HM Nurdin Abdullah meresmikan PT. Huandi Nickel Alloy Indonesia, Kabupaten Bantaeng.

PT. Huadi Nickel Alloy Indonesia atau dikenal dengan nama Smelter Bantaeng ini resmi dibuka secara resmi oleh orang nomor satu di Sulsel itu, dan disaksikan secara langsung, Anggota DPR RI Aliah Mustika Ilham, Ketua DPRD Sulsel HM Roem, Kepala Bagian Bea dan Cukai Wilayah Sulawesi Bagian Selatan.

Hadir juga, Sekertaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel Ashari Faksirie Radjamilo, Ketua DPRD Kota Makassar, Bupati Bulukumba, Wakil Bupati Bantaeng.

Dikesempatan itu Nurdin Abdullah ,(NA) menyatakan, pembangunan smelter pengolahan nikel di Kabupaten Bantaeng sesuai dengam Undang-undang Minerba.

“Pertama tentu sesuai dengan Undang-undang Minerba, ini kita wujudkan bahwa smelter yang sebenarnya hari ini kita wujudkan (resmikan), sesungguhnya sudah 15 kali ekspor. Kenapa smelter ini bisa begitu cepat produksi. Karena ini adalah sebuah kerja nyata dari pemerintah,” kata Nurdin, Sabtu (26/1).

Hadirnya PT Huadi sebagai perusahaan pengolahan dan pemurnian nikel, menurut Nurdin, menjadi suprise, bahwa industri ini, begitu cepat mendapat status sebagai Kawasan Berikat.

“Kenapa kawasan berikat ini penting, supaya administrasi ini bisa diselesaikan di pabrik, begitu juga barang modal, barang modal itu langsung. Tentu dengan suasana Bantaeng yang begitu kondusif ini, membuat ini begitu cepat,” sebut Nurdin.

Nurdin juga mengatakan, peresmian ini menjadi salah satu industri yang membanggakan Sulsel, karena telah menjadi impian selama puluhan tahun.

“Selama ini kita kirim ore (biji), kirim ore ini sama dengan menjual tanah air, karena nikel yang kita jual itu di dalamnya banyak komponen-komponen lain juga ikut,” ucapnya.

Industri yang di bangun ini menurut Nurdin ramah lingkungan karena menggunakan eletric furnance system dalam mengelola dan memurnikan nikel.

“Bisa lihat tadikan tidak ada asap dan tentu jangan kita tonjolkan minusnya tetapi plusnya, kalau kita ekspor ore, dibandingkan kita memproduksi ferro-nickel itu tujuh kali lebih besar keuntunganya, jadi itu tujuh kali lebih besar, dibandingkan kita ekspor tanah air itu,” jelasnya.

Dengan mengekspor ferro-nickel jadi nilai tambahnya itu tujuh kali lebih besar. Selama ini, kata Nurdin, yang menjadi masalah karena Indonesia lebih cendrung mengekspor bahan baku industri kemudian membeli dalam bentuk produk jadi. Jadi kekayaan alam menurut Nurdin harus dikelola dengan baik agar mendatangkan manfaat besar.

Sementara Komisaris Utama dan Direksi PT. Huanda Nockel Alloy Indonesia, Amir Jao mengaku, setelah peresmian ini, akan melakukan produksi hingga 6000 ton pertahunnya. Tahap pertama akan melakukan produksi sebanyak 2000 ton.

“Tahap kedua kita akan mulai pada pertengahan tahun ini dengan kapasitas produksi 2000 ton pertahun,” ungkap Amir Jao, dalam sambutannya, di Kabupaten Bantaeng, Sabtu (26/1/2019).

Menurutnya, di PT asal China ini mengerjakan sekitar 600 karyawan dibidang masing-masing.

“Untuk selanjutnya PT ini akan membangun Industri Senritik juga, PT. Huandi Nickel Alloy Indonesia ini telah memperoleh fasilitas kawasan perikat yang telah diberikan oleh Kementerian Keuangan, melalui kanwil Bea dan Cukai dalam rangka peningkatan SDM juga,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan