Sidang Lanjutan Kasus Meikarta, Agenda Konfrontir Para Saksi soal Dugaan Suap 1 M ke Sekda Jabar

0
14

Bandung NAWACITA – Pagi ini, Rabu (6/2), Pengadilan Tipikor Bandung Jawa Barat kembalu menggelar sidang lanjutan kasus suap perizinan pembangunan Meikarta Kabupaten Bekasi.

Kali ini sidang mengagendakan konfrontasi beberapa saksi yang diperiksa terkait penerimaan uang suap perizinan proyek Meikarta.

Saksi yang sudah hadir dalam ruang sidang, tampak Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa; Kepala Bidang (Kabid) Penataan Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi, Neneng Rahmi Rahmi; Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga, Henry Lincoln; Anggota DPRD Jabar, Waras Wasisto dan Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Sulaeman.

Saksi-saksi tersebut akan dikonfrontasi mengenai penerimaan uang Rp1 miliar yang diduga suap mega proyek Meikarta.

Untuk diketahui, dalam persidangan sebelumnya nama Iwa disebut menerima duit Rp1 M saat proses Raperda Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi.

Penerimaan uang itu melibatkan Neneng Rahmi, Hendry Lincoln, Waras Wasisto dan Sulaeman. Mereka bertemu di Rest Area KM 72 Tol Cipularang.

Namun, Iwa membantah menerima uang Rp1 miliar terkait proyek Meikarta. Bahkan Iwa menganulir berita acara pemeriksaan (BAP) sendiri saat disebut jaksa menerima bantuan berupa banner saat proses penjaringan bakal calon Gubernur Jabar di PDIP.

Diberitakan sebelumnya, dalam sidang yang digelar pada 28 Januari 2019 itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jabar, Iwa Karniwa sempat menjelaskan soal pertemuannya dengan Waras Wasisto anggota DPRD Jabar, Neneng Rahmi Kabid Tata Ruang, anggota DPRD Bekasi Soleman dan Henry Lincoln, eks Sekdis PUPR Bekasi, di KM 72 Tol Cipularang.

Iwa menyebutkan, pertemuan di rest area itu saat dirinya dalam perjalanan pulang ke Bandung dari Jakarta.

“Saya di kontak pak Waras, untuk bertemu di KM 72,” ungkap Iwa dalam persidangan Senin 28 Januari 2019.

Dalam pertemuan itu, Iwa mengatakan mereka membicarakan revisi Raperda RTRW yang membahas RDTR. Namun di situ Iwa meminta untuk bertemu di kantor. Hal itu dikarenakan menurut Iwa, merupakan urusan dinas.

Iwa menerangkan, pertemuan itu hanya sekedar menjaga hubungan baik dengan Waras, yang menjabat sebagai anggota DPRD Jabar.

Pertemuan pun, selanjutnya dilanjutkan di ruangan kerjanya di Gedung Sate. Disana, dibahas kembali soal pembahasan pengesahan Raperda RTRW/RDTR Bekasi.

“Di pertemuan itu kan saya sudah katakan tidak bisa bantu. ‎Setelah itu, orang dari Bekasi keluar, pak Waras di dalam. Dia bilang jika bisa bantu, nanti akan ‎ada bantuan banner (alat kampanye) berkaitan dengan pencalonan di Pilgub Jabar. Saya katakan, saya bukan Ketua BKPRD Jabar, jadi tidak bisa saya bantu,” ujar Iwa.

Iwa pun membantah jika dirinya, telah menerima uang suap sejumlah Rp1 miliar.

“Saya tidak menerima uang Rp1 M,” bantah Iwa.

Tinggalkan Balasan