Selidiki Teror Bom, Kapori Minta Polda Metro Jaya Kordinasi Bentuk Tim Gabungan dengan KPK

0
12

Jakarta NAWACITA – Teror bom yang disasarkan kepada dua pimpinan KPK bakal terus diselidiki. Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis berkoordinasi dengan KPK terkait penyelidikan teror bom tersebut. Polri menawarkan pembentukan tim gabungan menyelidiki teror.

“Dari hari pertama saya sudah perintahkan Pak Kapolda bila mungkin KPK membentuk tim yang bergabung dengan kita untuk ungkap kasus ini,” kata Tito kepada wartawan di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Kamis (10/1).

Menurut Tito, tim gabungan bisa membuat proses penyelidikan berjalan transparan. “Supaya penanganan kasusnya betul-betul bisa transparan,” tegasnya.

Menanggapi peristiwa teror ini, mantan Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdullah Hehamahua turut bicara. Abdullah juga menyinggung soal teror yang terjadi tak lama setelah KPK melakukan sejumlah operasi tangkap tangan (OTT) di berbagai tempat.

Namun ia mengaku heran aksi teror yang hanya ditujukan kepada dua pimpinan KPK, yakni Agus Rahardjo dan Laode M Syarif.

“Anehnya bagi saya, kok teror dilakukan hanya ke dua orang ini,” kata Abdullah melalui pesan singkat, Rabu (9/1/2019).

Menurut Abdullah, koruptor mempunyai tiga kekuatan yakni: uang, ‘geng’ dan senjata. Menurut dia, jika koruptor yang belum diungkap KPK merasa terganggu, mereka dapat menggunakan salah satu atau ketiga kekuatan tersebut untuk menyerang KPK.

Ia kemudian mengaitkannya dengan sejumlah pejabat yang diciduk KPK dalam berbagai kesempatan.

“Apalagi pejabat-pejabat yang ditangkap KPK belakangan ini berasal dari kubu yang punya tiga kekuatan di atas,” katanya.

Ia menyarankan kepada seluruh jajaran di tubuh KPK untuk tidak gentar terhadap aksi teror yang terjadi pada Rabu (9/1). Ia mendorong KPK untuk terus mengungkap kasus korupsi sesuai dengan SOP yang berlaku.

“Dan kalau ditakdirkan meninggal karena menangkap presiden, menteri, pejabat tinggi atau salah ‘seorang naga’, itulah kehormatan besar yang diberikan Allah kepada kawan-kawan karena meninggal sebagai seorang syuhada,” dia menambahkan.

Diberitakan sebelumnya, teror di rumah pimpinan KPK terjadi pada Rabu (9/1). Rumah Agus Rahardjo di Bekasi diteror dengan benda mirip bom pipa yang ternyata bom palsu. Sedangkan rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dilempari 2 molotov.

Penyelidikan dilakukan dengan memeriksa belasan saksi, termasuk mengecek rekaman CCTV di lokasi kejadian.

Tinggalkan Balasan