Pertemuan Tokoh Agama Dunia, Din Syamsudin Tekankan Perlunya Teologi Kerukunan Antarmanusia  

0
8

Moskow NAWACITA –  Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin yang juga Co-President of World Conference on Religions for Peace (Religions for Peace International) didaulat sebagai pembicara pada pertemuan para tokoh agama-agama dunia di Moskow, Senin (25/3) waktu setempat.

Dikesempatan itu, seperti dalam keterangan tertulisnya, Din menyampaikan, ia meminta agamawan di seluruh dunia saat ini, selain menerapkan teologi keagamaan, juga menekankan teologi kerukunan antarmanusia.

Mantan Ketua Umum Muhamadiyah ini berada di Moskow Russia, untuk mengikuti pertemuan sehari yang mengambil tema Ways to Achieve Interreligious Peace: Roles of Theologians, Diplomat, and Public Figures.

Kegiatan ini diselenggarakan bersama Kantor Dewan Mufti Russia, Russian Orthodox Church, dan ISESCO, dihadiri sekitar 150 tokoh berbagai agama dari berbagai negara di dunia.

“Perlunya teologi bersama (shared theology) tentang kemajemukan, hidup berdampingan secara damai, toleransi, dan kerukunan,” kata Din Dalam ceramahnya.

Menurut Din yang juga President of Asian Conference on Religions for Peace (ACRP) ini, agama-agama, walau ada perbedaan pada sistema kredo yakni konsepsi tentang Tuhan, namun memiliki titik singgung tentang kemajemukan, koeksistensi, toleransi, dan kerukunan.

Titik singgung ini hanya dapat dilihat jika keberagamaan sejati diletakkan pada kemanusiaan.

“Beragama sejatinya untuk manusia dan kemanusiaan”, katanya.

Islam, dijelaskan Din, selalu menekankan aspek humanis dalam konteks keberagamaan ini. Hal ini dapat dipahami dari pernyataan Alquran bahww misi kerasulan Muhammad SAW adalah menyebar rahmat bagi seluruh umat manusia, bahkan alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Maka, menurutnya, sudah saatnya dikembangkan teologi kerukunan bahkan antaragama yg berbasis pada humanisme religius ini.

“Jika teoligi semacam itu dikembangkan atau diarusutamakan, maka sebagian masalah peradaban manusia dan kemanusiaan dapat ditanggulangi,” imbuh Din.

Dikesempatan itu, Ia pun menyinggung kasus kebencian terhadap pengikut agama, yang menurutnya terus meningkat. Terbaru adalah tragedi penembakan di Selandia Baru, dua pekan lalu yang menewaskan 50 Muslim yang akan beribadah shalat Jumat di Christcchurch. Tragedi teror ini mendapat kecaman dari berbagai dunia.

 

Tinggalkan Balasan