PDIP: Sistem Demokrasi Indonesia Masih Kiblat Bagi Negara Asean

0
41
Tengah: Politisi PDI P Eva Sundari saat menjadi narasumber dalam diskusi publik di Megawati Institute. (Foto: Antara/Ist)

Jakarta, NAWACITA– Indonesia masih menjadi kiblat bagi pelaksanaan demokrasi di Asia Tenggara. Sistem penyelengaraan Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia masih jauh lebih baik ketimbang negara-negara lainnya. Hal ini disampaikan oleh Politisi PDIP Eva Kusuma Sundari, bahwa Indonesia menjadi contoh negara berdemokrasi di wilayah ASEAN.

“Indonesia masih jauh lebih baik. Di indonesia full (kekuatan) sipil, bahkan penyelenggara pemilu di luar kontrol negara. Negara tidak turut campur,” kata Eva dalam diskusi publik “Pemilu Damai : Masihkah Indonesia Menjadi Contoh Demokrasi di Asia Tenggara”, di Kantor Megawati Institute, Jakarta Pusat, Rabu (3/10).

Dalam pelaksanaan pesta Demokrasi di Indonesia, Rakyat mempunyai mandat sepenuhnya dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Pemilihan Presiden (Pilpres), hingga Pemilihan Legislatif (Pileg.

“Tentunya disini ada peran sipil dan pers. Trend yang ada kini sudah dikaitkan dengan penyelenggaraan pemilu serentak. Berbeda dengan Thailand dan Myanmar yang masih tertutup dalam hal penyelenggaraan pemilu,” ucap Eva.

Kekuatan masyarakat sipil di Indonesia, kata dia, juga sudah lebih pintar dan bisa belajar dari kesalahan. Hal itu belajar dari pengalaman dari Pilkada DKI 2017, dimana saat itu ada pencampuradukan agama dan politik

“Namun, saat Pilkada serentak 2018 kondisi itu sudah jauh berkurang. Jadi, bila ada yang berkata Indonesia tidak menjadi ‘role model’ dalam berdemokrasi adalah salah. Indonesia masih menjadi contoh bagi negara demokrasi di Asia Tenggara,” jelasnya.

Media, kata Eva, juga memiliki kekuatan untuk menjaga dan memberi pelajaran berdemokrasi kepada masyarakat. “Jika keluar dari fungsinya, media justru dapat menjadi senjata untuk menghancurkan kehidupan demokrasi,” ujarnya.

Tak hanya itu, para politisi juga diharapkan dapat menjadi penjaga gawang dan aparatur kepolisian juga dapat cepat tanggap, responsif, serta netral dalam pelaksanaan pemilu. Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini, mengakui, hingga saat ini bangsa Indonesia memang masih menjadi rujukan ketika membicarakan masalah Pemilu dan demokrasi.

“Negara Indonesia masih menjadi rujukan ketika membicarakan fair election. Apalagi demokrasi Indonesia merupakan negara demokrasi ketiga terbesar di dunia setelah India dan Amerika Serikat,” kata Titi.

Saat ini, tambah dia, Indonesia juga sudah dikenal sebagai negara pemilihan langsung serentak di dunia (the biggest one day election in the word dengan data pemilih tahun 2014 sebesar 187 juta pemilih).

 

Tinggalkan Balasan