Miris, Ratusan Mahasiswa Indonesia Di Taiwan Jadi Buruh

0
44

 

Jakarta, NAWACITA– Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyatakan 300 mahasiswa Indonesia menjadi korban kerja paksa yang diduga dilakukan oknum yayasan, lembaga pendidikan, hingga individu di Negara Taiwan.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi,Ismunandar, mengatakan ratusan mahasiswa itu dijebak oknum pelaksana program dengan iming-iming akan memperoleh beasiswa kuliah di luar negeri.

“Semua sedang kita terus teliti. Namun perwakilan kita di Taipe sedang teliti dengan baik,” kata Ismunandar kepada salah satu media nasional, Rabu (2/1).

Dia mengungkapkan, memang kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipe, Taiwan sudah mendapat beberapa laporan tentang masalah tersebut. Namun menurut dia, skala tepatnya belum diketahui secara pasti.

“Beberapa hari ini memang menjadi hot topic di (media massa) Taipe, dan perwakilan kami sedang mengecek terus,” kata Ismunandar.

Kejadian ini terungkap dalam sebuah laporan Jurnalistik di Taiwan yang menyatakan sejumlah mahasiswa Indonesia yang mayoritas perempuan ini mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan.

Mereka dipaksa bekerja 10 jam dalam sehari dengan bayaran yang murah. Padahal, pemerintah Taiwan memiliki aturan bahwa mahasiswa yang kuliah di tahun pertama tidak mendapat izin bekerja.

Setidaknya enam perguruan tinggi yang bekerjasama dengan agen penyalur tenaga kerja. Perguruan tinggi itu mengirimkan mahasiswanya untuk menjadi tenaga kerja murah di pabrik-pabrik itu.

Salah satu perguruan tinggi mempekerjakan mahasiswanya di sebuah pabrik lensa kontak, dimana mahasiswa tersebut dipaksa berdiri selama 10 jam untuk mengemas 30.000 lensa kontak tiap hari.

Sementara jadwal perkuliahan yang dijalani mahasiswa tersebut hanya dua hari dalam satu pekan, sisanya mereka harus bekerja di pabrik-pabrik itu.

Menurut aturan resmi pemerintah Taiwan, adapun izin bekerja itu didapatkan setelah melalui tahun pertama, itu pun tidak lebih dari 20 jam per minggu.

 

(Red: Daril, sumber Republika/Ant)

Tinggalkan Balasan