Kesuksesan Yualita Widyadhari Dari Komisaris Hingga Nakhodai Organisasi Notaris Indonesia

0
62
Keterangan: Faigiziduhu Nduru Komisaris Utama Nawacitapost bersama Yualita Widyadhari Ketua PP INI (tengah)

Jakarta, NAWACITA – Ketua Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia (PP INI) Yualita Widyadhari mempunyai cerita menarik dalam meraih kesuksesan. Wanita kelahiran Banjarmasin tahun 1960 ini mempunyai segudang pengalaman dari posisi sebagai komisaris diberbagai perusahaan hingga menjadi nakhoda di PP INI.

 

Lahir dari anak seorang polisi dan ibu seorang guru. Lita menyelesaikan pendidikan hukum di Universitas Gadjah Madha atas perintah orang tua. Dia tidak bisa menghindar permintaan tersebut, sehingga ia mengikuti sebagai bentuk bakti pada orangtuanya.

 

“Sebetulnya dulu mau masuk Psikologi UI, itu idaman saya. Bapak saya tidak menyetujui. Saya sudah pilih UI, tapi Bapak bilang ‘nggak, nomor 1 Hukum UGM’. Dulu kita mana berani dengan orangtua,” tutur Lita kepada awak media.

KeterKet

Tak ada pilihan lain baginya yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi selain mengikuti perintah ayahnya. Menurut Lita, ia pernah bertanya mengapa ayahnya meminta dirinya masuk kuliah hukum di Universitas Gadjah Mada.

 

“Ayah saya bilang saya punya kemampuan lebih, dia bilang di psikologi akan terbatas, di hukum bisa jadi apa saja. Saya bismillah jalan,” terangnya.

 

Menjalani pendidikan dengan keyakinan merupakan langkah bagi Lita sebagai mahasiswa hukum.  Apalagi menjadi calon sarjana hukum merupakan langkah orang tuanya untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi Lita.

 

“Ternyata belajar hukum menarik juga. Itu setelah dirasakan sebagai mahasiswa. Malah sekarang anak saya yang kedua mengikuti langkah saya kedua mengambil jurusan Hukum di UGM,” ungkapnya.

 

Setelah menyelesaikan pendidikan, Ia merantau ke Jakarta untuk berkarier. Awal bekerja dimulai di PT. Bimantara Citra. “Sejak 1984 saya sudah bekerja di perusahaan mulai dari pekerjaan clerical. Hanya stempel-stempel, catat faksimili, telefaks, saya sudah ada di situ,” ceritanya.

 

Bukan sebentar, ia merintis karier dari bawah hingga masuk ke jajaran direksi bahkan juga sebagai komisaris di berbagai anak perusahaan ini. Saat itu Lita sempat merangkap komisaris di empat perusahaan sambil mulai merintis kariernya sebagai notaris. Ketika akan mundur total dari dunia bisnis pun, ia masih menerima tawaran menggiurkan di perusahaan.

 

“Pemegang saham bilang ke saya, pegang direktur utama di perusahaan asuransi tapi lepas notarisnya. Saya tertantang ingin tunjukkan saya bisa jadi notaris. Kalau sudah memutuskan sesuatu saya harus komitmen,” akunya.

 

Dalam biodatanya, Lita tak hanya sekadar sibuk berkarier, tercatat ia rajin menempuh pendidikan formal dan non-formal sambil bekerja di perusahaan. Bahkan pendidikan notariat Lita tempuh dua kali. Pertama, saat masih menjabat di perusahaan. “Tahun 1993-1997 saya ambil kuliah notariat di UI,” jelas Lita yang kembali kuliah notariat hingga mendapat gelar Magister Kenotariatan (M.Kn.) dari Universitas Indonesia pada tahun 2012.

 

Setelah diangkat notaris, Lita ditempatkan di Bantul, Yogyakarta. Lita masih merangkap sebagai komisaris perusahaan kala itu. “Ada 4 tahunan kemudian pindah ke Jakarta. Saat pindah saya memilih di Jakarta, dulu belum ada pembagian wilayah notaris, karena kantor saya sebagai komisaris juga di Jakarta Pusat,” ceritanya.

 

Ia menjadi notaris di Jakarta mulai tahun 2002 dan baru sepenuhnya hanya bekerja sebagai notaris di tahun 2005. Jabatan terakhirnya di perusahaan sebagai komisaris PT. Aigra Insurance Brokers. Jenjang karier selama 20 tahun di dunia bisnis akhirnya dilepasnya.

 

Selepas dari kesibukan di berbagai perusahaan. Lita Aktif menjadi notaris sekaligus PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) dan ikut dalam organisasi Ikatan Notaris. Dia masuk sebagai Pengurus Daerah (Pengda) hingga diamanahkan menjadi pengurus pusat.

 

Lita mendapatkan kepercayaan untuk menjadi orang nomor satu di PP INI pada tahun 2016. Dirinya meraih puncak jabatan sebagai orang nomor satu bagi seluruh notaris yang ada di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

(Red: Faiz, sumber istimewa)

Tinggalkan Balasan