Kemensos: Tahun 2019, Indonesia Bebas Pasung

0
76

Nawacita.com – Kemensos menargetkan Indonesia bisa bebas kasus pemasungan pada 2019 nanti. Salah satunya melalui cara yang dikembangkan pada program elektronik pasung atau e-pasung hasil ciptaan Kepala Dinas Sosial Jawa Timur Dr. Sukesi Apt. Sehingga, dari laporan itu bisa mengkonfirmasi penderita yang terdeteksi.

Selama ini, banyak penderita gangguan jiwa terpaksa dipasung oleh keluarganya sendiri karena dikhawatirkan akan mengamuk. Namun akibat pemasungan yang dilakukan pada kedua kaki ini, penderita gangguan jiwa semakin bertambah parah, baik penyakit maupun penderitaannya.

“Persoalannya adalah banyak keluarga yang menyembunyikan, sehingga tidak terdeteksi,” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam keterangannya, beberapa waktu lalu.

Menurut  Khofifah, program e-pasung nantinya akan bisa mendeteksi siapa, di mana, serta seperti apa kondisi ODGJ yang mengalami pemasungan.

“Jadi  seluruh Indonesia bisa terintegrasi. Tapi kalau Dinas Sosialnya masih digabung energinya tidak cukup untuk merespon kasus itu karena luas sekali. Maka fungsi kordinasinya dengan Dinsos kabupaten/kota yang sangat diperlukan,” jelasnya.

Khofifah menambahkan, Orang Dengan Ganggunan Jiwa (ODGJ) seharusnya tidak perlu dipasung, melainkan diberi obat secara rutin. Dengan cara itu diharapkan penderita bisa sembuh bertahap setelah menjalani perawatan medis.

Pasung merupakan sebuah rangka kayu yang dipasangkan pada kaki, tangan, atau leher. Di Indonesia, pasung adalah cara kuno masyarakat tradisional dalam menangani penderita sakit jiwa. Dengan batang pohon yang telah dibelah, kedua kaki penderita jiwa diselonjorkan dan dibelenggu. Metode pasung banyak dilakukan keluarga tidak mampu.

Pemasungan merupakan segala metode menggunakan materi atau alat mekanik yang dipasangkan atau ditempelkan pada tubuh ODGJ, dengan tujuan membuat tidak dapat bergerak dengan mudah atau membatasi kebebasan dalam menggerakan tangan, kaki atau kepala.

Selain pemasungan salah satu bentuk tindakan yang sering secara bersamaan diberlakukan pada ODGJ adalah pengisolasian.

Pengisolasian merupakan tindakan mengurung ODGJ sendirian, tanpa persetujuan dan dengan paksa, dalam suatu ruangan atau area yang secara fisik membatasi orang tersebut untuk keluar atau meninggalkan ruangan atau area tersebut.

Menurut data dari Kementrian Kesehatan RI, sebanyak 14,3 % dari Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) atau setara dengan 57.000 ODGJ, pernah mengalami pemasungan di dalam kehidupannya.

Angka pemasungan di pedesaan adalah sebesar 18,2%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka di perkotaan, yaitu  sebesar 10,7%.

Menurut Menteri Sosial, pemasungan harus segera dihentikan. Pemasungan termasuk tindakan melanggar HAM. Dan sebenarnya, masih banyak cara untuk mengatasi permasalahan gangguan jiwa  dengan lebih beradab dan manusiawi. (Fajar)

Tinggalkan Balasan