Dugaan Penganiayaan Pegawai KPK di Hotel Borobudur, Ini Penjelasan Marcom Hotel

0
34

Jakarta NAWACITA – Perseteruan soal dugaan penganiayaan terhadap pegawai KPK yang terjadi antara KPK dengan Pemerintah Provinsi Papua hingga saat ini masih belum ada penyelesaian. Polisi bahkan sudah melakukan pemanggilan terhadap sespri Gubernur Papua Lukas Enembe.
Insiden dugaan penganiayaan muncul saat pegawai KPK muncul pada rapat internal Provinsi Papua yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta pada awal Februari lalu.

Terkait hal ini, managemen Hotel Borobudur akhirnya angkat bicara, setelah nama Hotel Borobudur sering disebut-sebut di berbagai pemberitaan terkait dugaan penganiayaan penyelidik KPK tersebut.

Marketing Communications Manager Hotel Borobudur, Rizki Permata Sari mengatakan, dugaan tindak kekerasan yang menimpa penyelidik KPK, Muhammad Gilang Wicaksana dan Ahmad Fauzi, terjadi di area drop off yang ada di dekat lobi hotel.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (3/2) dan tidak berlangsung lama.

Dari informasi yang ia miliki, kata Rizki, peristiwa itu terjadi pada pukul 00.00 – 00.14 WIB atau Minggu dini hari.

“Jadi, tidak benar apabila itu disebut terjadi di dalam area hotel atau di lantai 19 seperti yang banyak diberitakan. Bukan pula terjadi di area tempat mesin ATM berada,” ujar Rizki, Senin (11/2).

Ia menyebut, peristiwa itu spontanitas dan tidak direncanakan sebelumnya. Hotel Borobudur, kata Rizki, sudah mencoba untuk bersikap kooperatif. Salah satunya dengan menyerahkan DVR atau kaset yang merekam dugaan peristiwa penganiayaan tersebut ke Polda Metro Jaya.

“Pihak Polda Metro Jaya sudah mendatangi Hotel Borobudur Jakarta untuk meminta DVR (Digital Video Recording), untuk kepentingan proses hukum atas dugaan tindak kekerasan tersebut pada Senin, 4 Februari 2019,” kata dia.

Rizki enggan mengomentari lebih jauh soal adanya dugaan rekaman di dalam CCTV, sebagian sudah dihapus oleh oknum tertentu. Informasi soal adanya dugaan rekaman di CCTV dihapus disampaikan oleh Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, melalui pesan pendek pada Senin (4/2).

“Iya, konon katanya (CCTV) rusak pada saat kejadian, lalu diformat hard disknya. Kemudian on lagi setelah kejadian penganiayaan,” ujar Saut ketika itu.

Namun, Rizki menyerahkan hal tersebut kepada Polda Metro Jaya untuk menentukan.

“Itu bisa langsung dikroscek ke pihak yang berwajib saja, karena kan CCTV sudah menjadi barang bukti dan masuk ke ranah hukum,” kata Rizki.

Pada dasarnya, kata Rizki lagi, Hotel Borobudur berpihak kepada proses hukum yang kini tengah berjalan. Ia tidak mau memberikan klarifikasi lebih jauh, sebab khawatir akan dipersepsikan melakukan pembelaan diri.

Tinggalkan Balasan