Di Rutan Cipinang Dhani Gabung Bersama Tahanan Uzur, Ini Alasannya

0
13

Jakarta NAWACITA – Musisi Ahmad Dhani terdakwa kasus ujaran kebencian divonis 18 bulan penjara atau 1,5 tahun. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (28/1) memutuskan Ahmad Dhani dinyatakan bersalah karena melakukan ujaran kebencian di media sosial.

Saat ini, Ahmad Dhani pun telah resmi menjadi penghuni Rutan Cipinang, Jakarta Timur. Suami Mulan Jameela itu akan menghuni sel tahanan yang dihuni oleh para orangtua. Alasannya, Ahmad Dhani dikabarkan menderita penyakit tertentu sehingga terpaksa harus bergabung dengan para tahanan yang usianya sudah uzur.

Kepala Rutan Klas 1 Cipinang, Oga G Darmawan mengatakan, Ahmad Dhani tiba di Rutan Cipinang diantar oleh anak, istri dan juga pengacaranya. Berkas penahanan Dhani telah diperiksa, termasuk kondisi kesehatan Dhani saat tiba di Rutan Cipinang.

Oga menjelaskan, Dhani dalam kondisi sehat dan bugar saat masuk ke dalam tahanan, namun pentolan Dewa ini ternyata mengidap penyakit anti asap rokok.

Melihat kondisi kesehatan Dhani yang anti asap rokok, lanjut Oga, maka nantinya setelah Mapenaling, mantan suami Maia Estianti itu akan ditempatkan di sel yang jauh dari perokok. Sehingga, Ahmad Dhani akan ditempatkan di sel tahanan yang berisi orangtua

“Beliau kan mengidap diduga penyakit anti asap rokok jadi kita jauhkan dari perokok. Nanti ditempatkan di orang tua yang tidak merokok. Karena beliau anti asap rokok,” ungkap Oga

Sementara itu, kuasa hukum Ahmad Dhani, Hendarsam Marantoko, menyatakan kecewa terhadap putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memutus kliennya bersalah melakukan tindak pidana ujaran kebencian.

Menurut Hendarsam, majelis hakim tidak menjelaskan dan menguraikan dasar atau pertimbangan hukum secara akademis terkait letak ujaran kebencian yang didakwakan kepada kliennya.

“Hakim tidak menjelaskan sama sekali hanya menganggap apa yang dikatakan Mas Dhani dalam cerita tersebut adalah ujaran kebencian. Yang kami sangat kecewa tidak ada dasar atau pertimbangan hukum secara akademis untuk melihat untuk menguraikan secara detail yang mana yang dianggap sebagai perbuatan ujaran kebencian atau tidak,” kata Hendarsam.

Hendarsam menilai ada unsur balas dendam politik terhadap vonis yang diterima kliennya.
Ia membandingkan kasus kliennya dengan kasus penodaan agama yang pernah mendera mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

“Kami sebagai penasehat hukum (menilai) bahwa ini jelas sekali atensinya putusan yang balas dendam jadi harus dianggap ada dua korban di situ korbannya dari pihak sana adalah Pak Ahok, di sini adalah Ahmad Dhani. Jadi satu sama. Jadi ini bukan win win Solution penegakan hukum kita,” kata Hendarsam.

Seperti diberitakan sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan bahwa terdakwa kasus dugaan ujaran kebencian musisi Dhani Ahmad Prasetyo atau Ahmad Musisi yang terjun ke dunia politik ini telah secara sah dan meyakinkan bersalah karena telah mengunggah kata-kata bermuatan ujaran kebencian lewat akun media sosialnya.

“Mengadili satu menyatakan terdakwa Ahmad Dhani terbukti secara sah dan meyakinkan telah bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak, menyuruh melakukan menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atas masyarakat tertentu berdasarkan unsur agama, ras, dan antar golongan (SARA),” kata Ketua Majelis Hakim Ratmoho di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (28/1).

Atas dasar tersebut Dhani dipidana penjara selama satu tahun enam bulan.

“Menjatuhkan terdakwa Ahmad Dhani dengan pidana penjara selama satu tahun enam bulan, memerintahkan agar terdakwa untuk ditahan,” kata Ratmoho dalam putusannya.

Dalam putusan majelis hakim, Dhani terbukti melakukan tindak pidana sesuai Pasal 45A ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang ITE juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Diketahui awal mulanya Dhani mengunggah tiga tweetan, pertama berbunyi: ‘yang menistakan agama si Ahok, yang diadili KH Ma’ruf Amin’.

Kedua berbunyi: ‘siapa saja pendukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi mukanya’.
Sedangkan yang terakhir berbunyi: ‘sila pertama ketuhanan yang maha esa, penista agama jadi gubernur, kalian waras’.

Ketiga tweetan inilah yang membuat Dhani dilaporkan oleh Jack Boyd Lapian atas dugaan ujaran kebencian.

Tinggalkan Balasan