AHY:Prabowo Kurang Bijaksana

0
158

Jakarta NAWACITA –Pernyataan Prabowo Subianto dalam debat capres terakhir, Sabtu (13/4) yang menyebutkan bahwa kegagalan perekonomian saat ini bukan hanya menjadi tanggung jawab capres petahana Joko Widodo, namun kegagalan presiden sebelumnya, menuai polemik.

“Saya tidak menyalahkan Bapak [Jokowi]. Ini kesalahan besar presiden-presiden sebelum Bapak. Kita harus bertanggung jawab,” kata Prabowo dalam debat kelima di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4).

Pernyataan Prabowo tersebut ternyata menyisakan ganjalan di Partai Demokrat sebagai pendukung Koalisi Adil Makmur karena komentar Pabowo Subianto.

Kadiv Hukum dan Advokasi Partai Demokrat Ferdinand bahkan sempat keluar dari arena debat, meskipun beralasan sakit perut.

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat menilai bahwa pernyataan capres nomor urut 02 tersebut kurang bijaksana. Indonesia, menurut AHY adalah negara besar yang memerlukan pemimpin yang memiliki nilai-nilai yang luhur, bijaksana dan menjadi teladan untuk seluruh rakyat.

“Salah satu sikap teladan yang diperlukan adalah memberikan penghargaan kepada setiap usaha, pengorbanan, dan pengabdian para pemimpin sebelumnya dalam memajukan dan membangun bangsa ini,” katanya dalam siaran pers, Minggu (14/4/2019).

Seperti diketahui, Ketua Umum Partai Demokat Susilo Bambang Yudhoyono adalah Presiden RI periode 2004—2014.

Putra pertama SBY itu mengatakan bahwa siapa pun yang terpilih dan menjadi pemimpin negara pastilah putra/putri terbaik bangsa, yang telah berkorban sebesar-besarnya, mulai dari waktu, tenaga, pikiran, keluarga, segalanya.

“Sikap menghargai/mengapresiasi siapa pun, apalagi yang telah berjasa untuk negeri ini, seharusnya menjadi syarat mutlak untuk dimiliki oleh pemimpin bangsa, siapa pun ia,” lanjutnya.

Dengan begitu, katanya, tidak ada ruginya mengapresiasi segala pencapaian oleh para presiden sebelumnya. Tugas selanjutnya, melanjutkan apa yang sudah baik, dan memperbaiki apa yang belum baik, serta menuntaskan apa yang belum tuntas.

Namun, AHY telah menegaskan tetap dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur.

“Tidak mungkin kami keluar dari Koalisi Indonesia Adil dan Makmur. Tidak mungkin. Pemungutan suara juga tinggal sebentar lagi,” tuturnya, Sabtu (13/4).

AHY juga mengaku tidak mau ambil pusing mengenai tiga kader Partai Demokrat yang mendadak walk out pada saat debat Capres sedang berlangsung.

“Saya tidak ingin berkomentar lebih jauh soal ada yang keluar tadi. Yang jelas, setiap generasi kepemimpinan itu pasti telah melakukan capaian baik di bidang politik, ekonomi dan keamanan,” katanya.

Sejumlah pengamat memberikan penilaiannya terkait sikap Demokrat ini.

Demokrat Setengah Hati

Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai bahwa sikap Partai Demokrat dalam koalisi pendukung Prabowo-Sandiaga Uno memang setengah hati.

Sedari awal koalisi dibangun, Sekjen Demokrat Andi Arief melempar isu Jenderal Kardus, kemudian ada sejumlah petinggi Demokrat di daerah yang justru mendukung Jokowi.

“Sikap kecewa Demokrat atas pernyataan Prabowo wajar, makanya mereka memilih dua kaki. Andai kata Jokowi menang lagi, setidaknya Demokrat bisa lebih diterima. Petinggi Demokrat memilih cari aman,” katanya.

Menurutnya, dinamika politik yang ditampilkan Demokrat itu adalah fenomena politik yang sudah menjadi tabiat para politisi di partai apa pun dalam setiap momen kontestasi pemilihan presiden.

Menurut Karyono Penyataan Prabowo dalam debat membuat kemarahan kubu Demokrat semakin memuncak. Namun, apakah Demokrat akan menarik dukungan terhadap Prabowo, memang masih jadi tanda tanya.

Pendapat lain datang dari Direktur Eksekutif Suren, Dion SRN.

Dion menilai, statement Prabowo di debat sangat lucu, mengingat Partai Demokrat sebagai partai koalisi, justru mendapat serangan brutal.

“Prabowo ini lucu, apakah dia pikun sampai harus menyerang presiden sebelumnya yang notabene ada SBY sebagai mantan Presiden sekligus tokoh Partai Demokrat,” Kata Dion SRN dalam keterangan persnya, Minggu (14/3).

Harusnya Partai Demokrat kata Dion menyadari kritikan Prabowo di debat terkahir itu. Harus ada protes keras Partai Demokrat kepada Prabowo.

“Kalau saya adalah kader Demokrat, saya pasti protes dan meminta Demokrat menarik diri dari koalisi 02,” Ujarnya.

Dion mengimbau kepada seluruh relawan 01 untuk tetap solid. Disisa waktu 2 hari ini, para relawan harus tetap fokus menjaga kekompakan demi memenangkan pak Jokowi.

“Mari kita solid mengajak para pendukung untuk hadir di TPS pada hari Rabu depan, hindari hal-hal yang membuat kubu lawan membuat berita hoax, Orang Baik Pilih Orang Baik. Untuk itu mari kita Coblos 01,” tegasnya.

Seyogyanya, kata Dion, rakyat atau kawan-kawan milenial yang masih abu-abu harus melihat selama ini capres mana yang suka menjelekan orang lain. Seperti orang Boyolali kere sampai merendahkan TNI dan kalimat Ndasmu.

“Belum lagi debat-debat dari awal sampai kemarin, topiknya A jawabnya C alias grambyang. Silahkan renungkan dan cermati sendiri pilihannya nanti. Karena orang baik akan tetap menjadi orang baik,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan